Rabu, 02 Desember 2015

Brain, Human, Feel

Tiga aspek kehidupan yang tak terlepas dari manusia sejati. Ialah fikiran, hati, dan manusia itu sendiri. Jika kamu mempelajari ilmu didaktik, disana kamu akan menemukan suatu hal yang menyebutkan bahwa sentral dari seluruh kegiatan manusia adalah hatinya.
Benarkah begitu? bukankah ada ungkapan yang mengatakan "Ragukan bahwa bulan itu bercahaya, ragukanlah bahwa matahari adalah api, dan ragukanlah kebenaran bisa jadi ialah kebohongan" Apa maksud ungkapan tersebut? Ya. Maksud darinya adalah bahwa kita tidak boleh mempercayai suatu hal tanpa adanya alasan yang menjadi keyakinan.
Apa yang tertera dalam ilmu didaktik selaras dengan pemikiranku, bukan tanpa alasan lantas menerimanya begitu saja. Aku pernah merasakannya dengan pemikiran.
Jika ada yang menyebutkan bahwa sentral dari seluruh kegiatan manusia adalah fikirannya dengan argumen bahwa "Orang yang kurang akal adalah contoh dari ketidak berfungsian akalnya sebagai sentral kegiatan seorang manusia untuk melaksanakan rutinitas kegiatannya. Tidak ada yang salah dengan argumen ini, semua orang bebas berargumen. Berselang beberapa jam kemudian ada seseorang dengan cerita tentang perasaannya yang tidak bisa ia kendalikan, lalu apa yang bisa  ku kata? Jika aku memberi penjelasan berdasarkan pemikiran, aku tidak pernah tau konkretnya hati seseorang. Adapun bila aku yang berada di posisinya, penjelasan yang orang lain berikan bisa saja memperburuk keadaan, hanya itu yang terpikirkan. Dengan memberi waktu untuk menenangkan diri itu cukup menjadi awal penyelesaiannya. Ia akan berfikir mengelola apa yang ia rasakan dengan menyusun pemikiran pemikiran yang logis agar dapat diterima dan dimengerti oleh dirinya sebagai "Manusia".
Peristiwa tersebut sudah memadai bagiku yang beralasan bahwa sentral dari seluruh kegiatan manusia adalah hatinya. Adapun mengenai "akal manusia" ia menterjemahkan seluruh stimulus yang terindra maupun yang terasa oleh hatinya kemudian diwujudkan dalam bentuk tingkah laku. Tidak semua perasaan hati dapat segera diimbangi dengan pemikiran lantas mengambil alih peranan, karena akal tidak akan sempat mengelola  informasi berupa "rasa" jika hal tersebut langsung dirasakan oleh hati.
"Tanpa adanya akal takan terwujud perasaan" tanpa adanya pemikiran manusia hanyalah "Hewan" dan tanpa adanya perasaan manusia bukanlah manusia seutuhnya.
Manusia,, ialah mereka yang disebut "Hewan yang berfikir" benarkah begitu? ataukah hanya "mereka yang memiliki akal?" ataukah keduanya memang benar,,?
mungkin Ya mungkin juga Tidak..
Ya,, karena mereka ada yang berfikir adapula yang hanya berakal..
Tidak,, karena mereka berfikir dengan akalnya dan karena akalnyalah mereka berfikir,,
Mereka tak ada yang sama,,
ada mereka yang selalu berprasangka dan membenarkannya, ada pula mereka yang berprasangka tidak lantas mempercayainya..
ada yang selalu mengkritisi apa yang mereka lalui, tanpa dasar ilmu yang pasti,,
ada pula yang mengkritisi dengan ilmunya yang sudah didapati..
mereka sama sama berprasangka, tapi apakah itu yang membuat mereka sama?
mereka juga sama sama kritis, tapi apakah itu yang membuat mereka sama?
Tentu tidak,, Subhanallah... hanya Dia sang pemilik kesempurnaan yang dapat menciptakan makhluk nya dengan احسن تقويم
Berfikirlah,, karenanya kau menunjukan bahwa kau memiliki akal... dan karenanyalah kau menunjukan bahwa kau adalah Manusia seutuhnya.