Sabtu, 09 Desember 2017

Life is Choices

By. Adetiasitinurmaluloh

"Alhambra, nama tempat yang entah kapan aku bisa menyambanginya dalam suatu perjalanan. Sebuah nama yang membuatku kagum dengan hanya membaca kisah entah siapa. Tempatnya yang selalu memerah kala raja siang bertengger dikaki langit, elok bukan kepalang. Tidak lagi semburat cahaya merah meruam dengan sapuan tipis awan di tepi pantai, menurut imajiku Alhambra tidak sekedar dinasti wisata. Duduk bersandar granada (delima), di atas bukit Sacromonte di timur Albaicin, Granada. Entah kapan aku menyebrangi lautan nun jauh untuk tiba disana."
Dari satu sumber bacaan, waktu yang sama 24 jam, tujuh hari jumlah pekan yang tidak beda, siang dan malam sama adanya. Tak lantas itu semua menjadi nutrisi bagi kedua jiwa pembaca. Mungkin yang satu terkagum membaca hingga ia berusaha berlayar jauh menghantam senyap lautan tak bertuan, yang satu lagi kagum tiada kepalang hanya dalam lamunan. Sama-sama membaca kisah yang sama, tidak lantas menjadikan keduanya sama.
Tahu pengamen jalan di bus-bus kota? Tahu Agnes Monika? Keduanya sama bernyanyi, tapi apakah memang sama? Tentu tidak. Yang satu nyanyi sekedar nyanyi, berisik mengganggu mungkin iya, tapi yang satunya bernyanyi dengan skill yang dioptimalkan seningga mendapat tepuk tangan kebanggaan.
Life is choices. Ungkapan kalimat yang simpel terdengar, kadang sepele hanya mengisi ruang hampa dalam pemanis kata, tak ubahnya pemanis buatan. Semakin sering dikecap bukan lagi manis terasa, pahit yang ada. Semakin sering diucap tanpa berusaha, semakin pahit kenyataan yang ia terima.
Kita adalah tuan bagi diri kita, mau menjadi apa atau seperti apa kita yang menentukannya. Kita akan dihargai sesuai dengan pilihan yang kita tetapkan. Orang akan berbeda menghargai CEO perusahaan tepung terigu dipojok jalan yang becek dengan CEO perusahaan tepung terigu segitiga biru di gedung perkantoran.
Kebanyakan orang hanya terfokus kepada hasil akhir, bukan pada proses memilih berbagai pilihan yang akan mengantarkannya pada tujuan. Meliahat anak-anak tampil dengan bacaan dan hapalan al-Quran yang sangat menakjubkan misalnya, orang-orang hanya terkagum dan menganggapnya suatu hal yang ‘wah’ yang tidak bisa dijangkau olehnya tanpa berpikir pilihan apa yang yang diambil oleh orang tua si anak dalam mendidiknya sehingga sang anak tumbuh menjadi sangat menawan hati.
Felix Y. Siauw berkata bahwa, “Today is yesterday and testerday is today” benar adanya. Karena adanya kita hari ini adalah implementasi pilihan-pilihan yang kita ambil kemarin, dan pilihan-pilihan kita kemarin menentukan kita akan seperti apa hari ini.
Dengan ringannya orang-orang berkata bahwa seorang mualaf dapat masuk Islam dan mendapatkan pemahaman keislaman yang lebih baik dari muslim sejak lahir adalah karena mendapatkan hidayah-Nya. Mereka seakan menutup mata dengan berbagai ungkapan, dan melupakan pilihan apa saja yang para mualaf ambil hingga akhirnya mereka sampai pada pemahaman Islam.
Sedikit hal mengenai hidayah, Gengs sadarkah ada kekeliruan dalam memahaminya? Memang, hidayah adalah hak peto yang hanya dimiliki-Nya. Hidayah bukan sesuatu yang akan datang tanpa diusahakan. Tahu mengapa salah satu nama lain dari al-Quran adalah al-Huda? Karena melalui al-Quran itulah Allah menunjukan jalan yang menuju kepada-Nya. So? Jika memnag betul ingin mendapatkan hidayah, baca al-Quran, pahami, hayati setiap maknanya, hayati keindahannya, berdo’a pada Sang Mahakuasa.
Ketika kita menginginkan untuk menjadi sosok seperti seseorang yang kita kagumi mudah saja. Mulai hari ini, pilihlah pilihan yang diambil oleh orang yang kita menginginkan untuk menjadi sepertinya itu, mudah saja bukan? Apakah hanya sesederhana itu? Ya, tentu, hanya sesederhana itu! Kita akan menjadi sepertinya dengan versi diri kita.
Masih ungkapan Siauw, “One time, one choice”. Sebuah pilihan yang berbeda tidak bisa diambil bersamaan dalam waktu yang sama. Satu waktu hanya untuk satu pilihan. Seperti saatnya sekarang, untuk membaca tulisan hingga sampai disini kita harus meningalkan paragraf sebelumnya. Atau mungkin seperti saya yang memilih untuk menulis ini dan meninggalkan pilihan untuk membaca.
Begitulah kiranya dalam berislam. Berislam bukan soal siapa yang mendapat hidayah dan siapa yang belum mendapat hidayah. Berislam adalah pilihan, “Laaa ikrooha fid-diin,...” tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam,... (QS. Al-Baqarah [2]: 256). Jelas, tegas. Allah menghadirkan Islam sebagai pilihan hidup, bukan sebagai legalisasi otoriter bagi non-Islam untuk memilih Islam. Ketika kita memutuskan untuk memilih Islam maka tidak bisa dalam waktu bersamaan melanggar ketentuan Islam, lah bukankan kita sudah memilihnya?
Setiap pilihan memiliki investasi, konsekuensi, dan risiko tertentu. Tidak satupun dari pilihan tanpa adanya ketiga hal tersebut. Investasi adalah ‘modal awal’ yang harus kita keluarkan saat akan memilih suatu pilihan. Konsekuensi disini tidak lain adalah apa yang akan datang menimpa kita saat memutuskan suatu pilihan. Adapun risiko adalah apa yang akan kita dapatkan kemudian setelah menetapkan pilihan atau saat menjalani sebuah pilihan. Tidak ada istilah hidup poya-poya, kaya di dunia, mati masuk surga. Ngawur itu.
Ketika kita hendak berislam, maka kita harus berinvestasi dengan menanggalkan seluruh kejahiliyahan, konsekuensinya adalah siap diatur oleh aturan Islam, kemudian apabila taat kepada Allah dalam berislam maka risiko yang akan diterima adalah dimasukan kedalam Surga-Nya. Menentukan pilihan berislam bukanlah pilihan yang ringan, berislam adalah pilihan yang sangat besar. Semakin besar pilihan hidup kita maka semakin besar pula investasi yang harus kita keluarkan, konsekuensi yang harus kita tanggung, dan risiko yang akan kita dapatkan. With great choice comes the great investment, consequences, and risk.

Jumat, 08 Desember 2017

Keep Walking

Sebuah karya tidak akan terlepas dari maksud yang hendak disampaikan oleh si pencipta. Karya memiliki wujud yang beragam, salah satunya adalah tulisan. Dalam tulisanpun banyak juga jenisnya, salah satunya adalah novel. Steatment pembaca tidak dapat terhindar dari perbedaan, positif, negatif, dan biasa saja. Pendapat pribadi dengan lantang menyuarakan steatment-steatment positif terhadap keberadaan novel, karena memandangnya sebagai alternatif dalam menginternalisasi diri dengan nilai-nilai luhur yang Islami. Ketika orang-orang ada yang beranggapan bahwa membaca novel adalah kegiatan yang kurang bermanfaat karena hanya menghabiskan waktu dengan kisah-kisah yang tidak nyata, di lain sisi ada yang beranggapan bahwa pembelajaran yang paling mudah adalah pembelajaran dari kisah-kisah terlepas itu nyata atau tidak, selama isinya tidak hanya “sebuah kisah”.
Novel “Pulang” yang ditulis oleh Tere Liye adalah sebuah kisah yang tidak layak disebut hanya “sebuah kisah”. Pembaca mungkin bertanya-tanya apa yang hendak disampaikan oleh Tere Liye dalam novel Pulangnya. Setelah sampai pada bagian epilog barulah pembaca akan paham apa makna dari judul novel tersebut. Secara utuh penulis menggambarkan perjalanan seorang anak muda dengan ambisi jiwa mudanya menemukan sebuah arti kata pulang pada hakikat pulang yang sebenarnya. Sebuah kisah dari perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit. Pulang kepada panggilan Tuhan.
Ada sebuah penggalan paragraf yang sangat menarik perhatian di lembaran kisah pertama novel tersebut, ketika sang tokoh utama melakukan monolog dalam memperkanalkan dirinya, “Inilah hidupku, dan aku tidak peduli apapun penilain kalian. Toh, aku hidup bukan untuk membahagiakan orang lain, apalagi menghabiskan waktu mendengar komentar mereka.” Pandangan sekilas mungkin akan menganggapnya sebagai ungkapan orang yang apatis terhadap lingkungan sosialnya, orang yang acuh terhadap nilai dirinya dihadapan yang lain, tetapi tidak menutup kemungkinan ada orang yang menganggapnya sebagai sebuah rumusan untuk mencapai apa yang disemogakan.
Pernyataan dari penggalan paragraf tersebut sesuai dengan sebuah istilah yang sangat populer dengan ungkapan, “Anjing mengonggong, kapilah berlalu.” Seorang kapilah yang mengacuhkan gonggongan anjing entah bagaimanapun ia akan sampai pada tujuannya, sedangkan gonggongoan anjing akan semakin samar kemudian hilang tidak terdengar ketika ia fokus melanjutkan perjalanan. Akan lain ceritanya ketika ia meggubris gonggongan anjing dan menyuruhnya diam, ia tidak akan mampu menghentikan gonggongan dan ia pun tidak akan sampai pada tujuan.
Ketika kita menemukan titik balik untuk pulang pada hakikat sebenar-benarnya pulang, abaikanlah semua perkataan orang yang meragukan, bahkan mereka yang mencibir, fokus pada perbaikan dan tujuan awal. Ketika terlalu lelah mendengar semuanya tidak ada yang salah untuk sejenak menghentikan langkah, mundur satu langkah kebelakang untuk melesat seribu langkah kedepan. Ketika terlalu ramai dan memekakan telinga, cukup tetap yakin terhadap kebenaran yang dianggap benar untuk dilakukan sehingga sampai kepada makna pulang. Apalah daya ketika tangan hanya dua, mulut mereka terlalu banyak untuk kita bisa menutupnya, cukuplah kita menutup telingan dengan kedua tangan yang kita punya.