Sabtu, 12 Agustus 2017

Tentang Kita

Bagian keempat: The Ring

Satu tahun berlalu ketika aku mendapakan ijazah persiapan, saatnya aku melangkah pada jenjang kesetaraan, menguji apa yang telah aku dapatkan. Aku lupa bagaimana mempersiapkan kelasku kemudian, tahu-tahu kini aku resmi terdaftar di kelas berangka, kelas sepuluh. Angka sepuluh ini berakhiran nol sebagai awal, aku mengawali langkah menengah atas di tempat yang sama.

Tak ada yang begitu berbeda, sedikitnya aku telah mengenal tempat ini. Jangan tanya suasana kelas, kelasku termasuk kelas gemuk yang tentunya gaduh. Aku juga belum begitu berbeda, aku masih sedikit bicara, sebelum akhirnya buku yang kubaca perlahan bercerita seakan aku terbiasa. Menjadi public speaker adalah problem dalam masalah. Berbicara di depan umun bagi seorang alumni anti sosial begitu mengerikan, puluhan padang mata serasa penuh ancaman yang kapanpun bisa mencekik tenggorokanku karena mati kutu.

Tapi aku mencoba, aku belajar, aku bertekad, dan aku mau menjadi lebih dari orang kebanyakan yang "diam" dengan ide terkekang. Show up! begitulah perkataan wali kelasku yang terpatri dalam efek hallo pertama kali. Walau kerap kali kata "angkuh" berseliweran, kudengar dari telinga kanan dan kukeluarkan dari telinga kiri. Aku berusaha fokus pada tujuanku, tak ada waktu untuk mendengarkan mereka berbicara. Aku anggap itu hak mereka, mereka punya pemikiran yang berbeda-beda, terlebih buat apa aku menghiraukannya? Terlalu banyak mulut yang berbicara dan aku hanya memiliki dua tanggan untuk membungkam, sadar akan diri lebih baik aku gunakan tangan ini untuk menutup telinga kemudian berjalan meniti proses perubahan.

***

Katanya, dari kelas tujuh aku menempati kelas akselerasi. Papan kecil dari kayu yang terlihat elegan dengan ukiran "Kelas Rancangan Madrasah Berstandar Internasional" berbahasa Inggris lengkap dengan ucapan selamat datangnya. Aku rasa selain jam tambahan, batasan aktif berorganisasi, dan bahasa yang kami gunakan tidak berbeda dengan kelas lainnya.

Aku tumbuh sebagai introvert, aku terkategori orang yang asik sendiri dengan satu atau dua teman saja. Selama aku berjalan pada menengah pertama, hampir semua organisasi aku ikuti. Osis, Kepramukaan dengan dewan penggalangnya, unit kesehatan dengan PMRnya, pengatur lalu lintas dengan PKSnya, tapi itu semua hanya aku ikuti pertemuan pertamanya saja. Aku mebatasi diri dari dunia lain, aku hidup dalam dunia yang aku ciptakan. Dunia fantasi dalam rangkaian cerita fiksi. Cerpenis.

***

Rekam jejak perjalanan seorang cerpenis dan puitisi kini tak lagi ku temukan. Hanya ada dua cerpen dalam satu buku yang aku temui. Beranjak dari dunia kesendirian, pribadi yang tunggal, tempatku kini mengharuskanku berevolusi menjadi sosok yang baru, sosok dengan 180° berbeda. Yang tadinya aku berbicara pada buku catatan dengan torehan pena yang mengungkapkan semuanya, kini aku harus berbicara langsung dengan nada dari pita suara. Aku yang tadinya enggan berorganisasi, kini aku butuh itu. Aku yang dulu menganggap cukup aku saja, ternyata tidak saat jauh dari keluarga bersosialisasi adalah hal mutlak untuk lulus "seleksi alam" ini.

Jika dulu aku cukup tahu apa dan mengapa, kini kurumuskan bagaimana. Jika dulu lidahku kelu merangkai kata, kini aku menekuninya.

Saat itu aku mulai tumbuh dan bertunas, kemudian menghujamkan lemahnya akar ke dalam lapisan kerang bumi dalam geografi. Aku siap tumbuh tinggi. Aku memulainya ketika didaulat menjadi salah satu staf di organosasi intra sekolah. Akan aku coba.

***

Logam perak yang kini melinggkar di jari tengah tangan kiriku adalah awal mula perjalanan itu. Selayaknya staf yang akan dilantik, kami mendapatkan up greading dari staf terdahulu. Penyelenggaraan acara itu diorganisir oleh kakak kelas yang akan lengser jabatan. Dia ditunjuk sebagai ketua pelaksana oleh rekannya.

Tidak, tidak ada bedanya aku dengan yang lain karena aku "berbeda" dengan mereka, itu pribadi dan ini organisasi. Biarlah berada dalam porosnya masing-masing. Semua berjalan sebagaimana mestinya, walaupun aku belum bisa bersikap profesional. Kerap kali aku membuang muka ketika harus bersitatap denganya.

***

Jalan setapak yang gelap, aliran anak sungai terdengar lembut, suara hewan mulai berisik. Suasana ini sungguh tidak aku suka, bagaimana ini, kenapa suasananya setegang ini. Keresek hitam terikat benang ditarik secara tiba-tiba dari hadapanku, aku kenget dibuatnya. Langkah kakiku diisi dengan obrolan ringan dengan kawan di sampingku, untuk menyamarkan ketegangan yang tensinya terus naik.

Tak ada bunga tidur ataupun prasangka aku akan terkecualikan dari perbedaan. Entah itu sah atau tidak, tapi itu membuatku meras berbeda. Pada malam kesekian dari rangkaian acara up greading, aku mendapatkan kejutan yang membuatku ingin lari dari kenyataan.

Ketika aku bertanya pada kakak kelas perempuan yang dekat denganku, katanya dia tidak ikut jaga pos. Aku lega, tapi ternyata tidak aku duga. Dia sempurna berada di depanku sekarang.

Yang tadinya aku berjalan berdua, tepat di pos yang dijaganya, aku ditanya kenapa aku berjalan berdua. Ya memang aku tidak mau sendiri di start awal. Aku berangkat terakhiran, rekanku lebih dulu dipersilahkan. Urusan ini membuatku salah tinggah, untungnya malam ini gelap. Aku mencoba terlihat normal. Pada saat itulah aku dan dia berdua.

Aku kira akan mendapat tantangan atau apa seperti biasa, ternyata tidak. Aku mendapatkan kotak kecil dan surat yang tidak terlihat seperti biasanya, surat itu dilipat sedemikian rupa hingga terlihat seperti kepingan hati yang utuh. Entah percakapan apa dan seperti apa kala itu, aku tidak mengingatnya. Tapi tak dapat ku percaya, aku berbunga.

Tidak banyak orang yang tahu, seperti biasa. Tapi lagi-lagi surat itu raib dari tempatnya, kembali bertelepati ke tempat baru. Malam itu tak sabar rasanya aku ingin membuka kotak ini, aku penasaran. Tapi tidak, lain waktu saja aku membukanya. Aku tidak ingin malam ini menjadi ramai.

Aku melihat drama yang biasa dimainkan pada akhir acara, dimana orang-orang bersitegang dengan perkelahian kata dan tak jarang fisik juga. Teriakan yang memekakan telinga, masalah yang disengaja, kaki menghentak, kata membentak, membuat ruang kelas tidak terlihat rupanya. Si pengacau, pembela, dan penengah, masing-masing rapih memainkan perannya. Selesai acara, kami berkumpul di lapang, bermaafan, penjelasan disampaikan, riuh tawa tanda kebersamaan telah terlaksana. Lempar air menjadi puncaknya, aku memisahkan diri karena tidak mau basah, tetapi percuma kurasa. Entah siapa, dari atas ada yang melemparkannya tepat mendarat di belakangku. Suasana hati yang tidak bersahabat untuk terlibat dalam hal ini, kakiku mengantarkanku ke asrama. Pulang.

Terhitung dua kali aku berpapasan dengannya dalam organisasi, intra dan ekstra. Aku tidak paham pada awalnya organisasi apa ini. Kedua-duanya aku tak banyak bicara. Membiarkan semua berjalan sebagaimana mestinya.

***

Ceritanya aku dipanggil kakak kelas saat KBM tanpa guru berlangsung, kelas yang gaduh tambah rame mengiringi langkah kakiku keluar. Pada saat itu aku diikutsertakan untuk menjadi peserta dalam kongres pelajar region Ciamis-Banjar. Ya, aku ikut. Ada dua orang dari masing-masing kelas, aku salah satunya.

Aku duduk di bangku yang melintang di depan kelas, kami membicarakan teknis pemberangkatan. Aku ditanya akan ikut bersama peserta lain atau pergi duluan bersama staf yang akan mepersiapkan acara. Aku bingung, dalam hati aku ingin berangkat dengan kakak kelas yang sudah dekat denganku, tapi bingung juga apa yang akan aku kerjakan di sana, atau aku berangkat bersama peserta yang lain saja? Ah tidak, aku belum terlalu mengenal mereka. Pilihan yang ada sama-sama membingungkan. Akhirnya aku memutuskan untuk berangkat duluan, mungkin di sana aku bisa sedikit bantu-bantu.

Rencana berangkat duluan untuk mempersiapkan acara terhalang juga, kami tidak mendapat izin dari pembina asrama. Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya tetap, izin tidak kami kantongi. Hanya dia dan satu rekannyanyang berangkat malam itu.

Kami yang telah bersiap-siap, kembali lagi ke asrama. Kami mempersiapkan apa yang bisa kami kerjakan, membuat huruf-huruf yang nantinya akan ditempelkan. Kami tidak menggunakan banner, kami memilih cara manual untuk berampingkan budget dekorasi. Tanganku yang kaku tidak bisa membantu banyak, aku tidak bisa membuat huruf-huruf indah di atas karton warna-warni. Aku hanya bisa membantu mengguntingnya. Kami berangkat setelah shalat subuh untuk mengejar waktu. Walaupun hanya menggunting, aku tidak sempat tidur.

Setibanya disana perkiraanku meleset, aku kira tempat sudah siap, ternyata tidak. Katanya, dia dan rekan satunya setiba di sana tidak dapat menemui rekan pribuminya, tidak ada yang banyak mereka kerjakan, mereka menunggu dan merancang.

Singkat cerita, disana aku menunggu di pelataran mesjid. Aku bersembunyi saat dia ngobrol dengan kakak kelas yang bersamaku, persembunyianku jelas tampak oleh siapapun, aku "bersembunyi" membelakanginya dengan bersandar pada tiang mesjid. Konyol, aku hanya mendengarkan percakapan tanpa ikut di dalamnya. Aku terlihat seperti orang sibuk dengan buku di tangan lengkap dengan bolpoinnya menuliskan apapun yang terpikir olehku. Bosan menunggu, kakak kelas yang bersamaku mengajak jalan-jalan melihat sekitar setelah dia berlalu entah mempersiapkan apa. Aku si yes, dari pada hanya duduk bosan.

Jalan-jalan terasa pegal, terlebih aku rasa salah jalan. Aku bertemu makhluk yang tidak aku harapkan. Aku melihat ulat. Setelah melihat satu, makhluk itu seakan menunjukan diri padaku, lebih sering aku menjumpainya di lebatnya dedaunan. Menyebalkan.

Kami putuskan putar arah, tapi jalan-jalannya masih saja pegal. Selang waktu berlalu, kami beristirahat terlebih dahulu di tempat yang telah disediakan. Aku berbaring sejenak di bangku panjang. Tidak buruk juga, setidaknya aku dapat meluruskan tulang punggu yang sedari kemarin malam hanya terduduk.

Sebagai peserta aku wajib mengikuti acara ini hingga selesai. Aku mendengar kabar bahwa kakak kelas yang dekat denganku dipanggil pulang untuk peraktek mengajar, jelas aku ingin ikut dengannya. Tapi tidak, aku harus menyelesaikan ini dan kakak kelaskupun tetap menemani.

Tidak sepenuhnya kurasa aku mengikuti acara ini, aku kurang fit. Rasa lelah menyergap dan kantukpun kurasa. Susah payah menjaga mata agar tetap terjaga. Sesi foto tak menampakkan wajahku, aku berdiri di belakang dan bersembunyi di balik punggung teman yang ada di depan.

Tok-tok, terdengar suara ketukan di kaca. Aku menoleh, dan itu dia. Bertanya padaku untuk mengajak pulang bersama naik bis, aku mengiyakan. Tapi rencana hanya rencana. Selesainya acara aku mendapati dia bersama rekannya entah kemana, aku pulang bersama rombongan anak perempuan yang lain, naik angkot.

***

Seingatku, aku hanya diam, tersenyum, dan tidak berani melihatnya secara langsung. Aku tidak seperti yang lain, komunikasi seperlunya, bertemu ketika berpapasan, tak banyak rencana untuk bertemu sekedar ngobrol melepas rindu. Biarlah rindu itu tetap tumbuh dalam diam, biarlah cinta itu tetap riuh dalam tenang. Cara itulah yang berhasil membuatku tersenyum saat mendengar cerita tentangnya, berpapasan dengannya, ataupun saat melihatnya.

The ring, menjadi saksi bagaimana aku bertransformasi yang melingkar di jari.

to be continue...

Minggu, 06 Agustus 2017

Tentang Kita

#Bagian Ketiga: Cerita Hujan

Rinai hujan nampak indah melukis sejuk di gersangnya bumi, tempiasnya berbulir di permukaan kaca hitam rumahku. Selalu saja menyenangkan melihatnya, harmoni alam suguhkan melodi khas yang juga menentramkan. Lagit sore terlihat gelap dengan awan hitam menggelayut membawa butiran air hujan yang kini membasahi bumi tempatku berpijak. Kuhentikan sejenak rutinitas untuk menikmati sore membiru ini. Duduk tersandar kursi, mataku menatap awas pada setiap butiran hujan yang seperti orkestra alam dengan kilat petir melengkapi tarian dedaunan menikmati hujan.

***

Bagiku hujan bukanlah sekedar tetesan air yang diturukan awan karena tak lagi mampu menahannya. Tirai air hujan yang jernih bukan sekedar air, komposisinya lebih dari itu, karena bagiku air dari air hujan hanya satu persen, dan 99% sisanya adalah kenangan.

Betapa tidak, hujan selalu saja berhasil lukiskan kenangan. Bagiku, hujan tidak hanya sekedar hujan. Hujan adalah tajuk buku dengan kisah menakjubkan. Memang, sang penulis tidak tahu bagaimana kisahku dengan dia, tapi tak kusangkal kisahnya serupa dengan kisahku. Tentu, bukan setting, latar, dan sikon, karena kisah tersebut dikisahkan pada era puncak peradaban teknologi manusia modern, tetapi cerita cinta Lail dan Soke Bahtera dirasakan langsung oleh Adet dan Inur di kehidupan nyata.

Aku bukan Lail, yatim piatu pemegang lisensi kelas A sistem kesehatan, relawan yang mendapat penghargaan, gadis beruntung yang memiliki kepingan hati seorang Esok. Aku Adet, seperti Lail yang selalu menunggu kabar dari Esok, tapi aku tidak ekstrim seperti dirinya, sesekali aku yang memulai obrolan. Aku Adet, yang bertingkah konyol seperti Lail saat senang mendapat Esok mengabarinya. Aku Adet, seperti Lail yang merasa senang sekaligus sedih, merasa yakin sekaligus khawatir, merasakan dua hal bersebrangan secara bersamaan. Aku Adet, tidak seperti Lail yang menangis karena Claudia. Dan aku Adet, tidak seperti Lail yang menyimpulkan kesalah pahaman dengan menghapus ingatan karena terlambatnya penjelasan.

Dia bukan Esok, laki-laki jenius yang memiliki hak paten atas teknologi yang berkembang, ilmuwan muda yang memimpin proyek rahasia, anak muda yang beruntung dapat bertemu dengan Lail dan menggnggam hatinya. Dia Inur, yang sibuk tenggelam dalam pengerjaan proyek hidupnya, tapi dia bukan Esok dengan proyek kapal angkasa rahasia ditengah gempita kekhawatiran umat manusia. Dia Inur, seperti Esok yang selalu menyempatkan menghubungi Lail ditengah kepenatan rutinitasnya. Dia Inur, yang tengah menyusun rencana kehidupan seperti Esok yang merancang hidupnya dengan menyertakan Lail dalam rancangan rencananya. Dia Inur, tidak seperti Esok yang luput mengutarakan perasaannya. Dan dia Inur, tidak seperti Esok yang selalu memakai topi biru "the smart one" membawa sepeda merah untuk berkeliling menggantikan satu tahun penantian dengan satu dua jam pertemuan.

Tak bosan aku membaca kisah mereka, aku juga tidak keberatan berjam-jam membaca rangkaian kata di dalamnya, itu selalu saja menyenangkan. Tapi aku berpikir, mengapa aku hanya sibuk membaca kisa mereka? kapan orang-orang akan membaca kisahku? inilah saatnya moment itu.

***

Aku yang sekarang terduduk hanya menikmati hujan secara visual, aku suka hujan. Kalaulah sekarang bukan di rumah, aku akan berhambur keluar menari bersama dedaunan yang dibasahi hujan. Selalu saja ada halangan, dibilang bukan lagi anak kecil lah, buat apa hujan-hujanan lah, dan masalah "lah" lainnya. Haruskan aku menjadi anak kecil untuk bermain hujan? Ah tidak. Aku jadi Yes-man saja.

Berbeda halnya ketika aku di sekolah berasrama, lantai tiga tanpa atap tempat kami menjemur pakaian adalah tempat favorit menikmati hujan bersama, tanpa ribet harus berpakaian lengkap seperti biasa kami keluar, kami sama-sama menikmati hujan. Pepohonan dari kebun yang sengaja dibiarkan tumbuh menjulang, pucuknya terlihat bersaing dengan atap bangunan, melihat awan yang tidak menyisakan birunya langitpun tetap menawan. Semakin desar hujan, semakin kami riang. Membiarkan tubuh kuyup dengan dinginnya desiran angin, wajah yang menengadah membiarkan diri terkena tempiasnya. Ada yang senang hati membersihkan tempat jemuran dengan senda gurau juga ada yang berdiam diri seakan bisu membiarkan pikirannya liar menjajah setiap kenangan.

Tidak hanya itu caraku menikmati hujan, suatu ketika aku dan kawanku tengah disibukan dengan acara yang akan diselenggarakan oleh organisasi intra sekolah. Kami mengerjakan tugas dengan guyuran air hujan, aku yang dengan senang hati mondar-mandir dalam hujan saat mendapat tugas ini, itu, dan sebagainya, asik berjalan santai hingga aku menyadari aku mulai merasa gerah, aku harus melewati lapangan sekolah yang ramai tidak hanya dengan hujan, tetapi ramai dengan remaja yang bermain sepak bola. Aku berjalan senormal dan secepat aku bisa, menghiraukan celotehan remaja itu. Bagaimana mereka tidak berceloteh, di sana juga ada dia bermain dengan timnya. Selalu saja begini, padahal aku kuyup, tapi aku merasa panas. Saat itulah aku tak lagi menikmati hujan, aku ingin cepat-cepat berada di seberang, aku tidak ingin mereka melihat roman mukaku yang memerah karena malu.

Sebenarnya aku ingin berlama-lama, tapi tidak. Mukaku akan bersemu merah setiap merasa malu. Tapi aku bebas melihatnya dan selalu senang melihatnya di tempat "persembunyian"ku. Seperti saat itu, masih dalam suasana hujan, rekan sekamarku sedang mengamati seseorang yang ia cari, tapi nampaknya orang yang dicari tidak ada, ia berseru padaku yang sedang membaca kisah dalam buku, aku dilanda rindu membacah larik kisah dalam buku hingga hujan tak mampu mengalaihkan pandangku.
" Neng sini!" ucapnya dengan pandangan masih di luar jendela, tangannya sedikit menyingkap gordeng, mengintip.
"Ada apa?" tanyaku yang dijawabnya dengan mempersilahkan aku duduk di tempatnya.
"Lihat disana, ada Inur lagi main bola." Bola mataku menyapu ke arah telunjuk temanku yang tadi, setelah aku menemukannya aku tersenyum, ternyata memang dia.
Sepertinya main bola saat hujan seru sekali, teriakan mereka seakan ingin menyaingi suara hujan. keringat merekapun tak nampak dengan kuyupnya baju yang mereka kenakan.

Inur? Pada awalnya temanku juga selalu bertanya siapa Inur. Inur tak lain adalah Ilham Nurhidayatullah, berhubung nama Ilham tidak hanya satu maka panggilan itu yang membedakan satu dan lainnya. Itu ketika aku dan dia masih bersekolah di tempat yang sama tetapi sampai sekarang aku lebih terbiasa dengan panggilan tersebut, padahal tidak banyak lagi nama Ilham berkeliaran dalam kehidupanku hingga tak ada nama ilham dalam sapaanku.

***

Aku seperti Lail, aku suka hujan. Tapi kisahku tidak seperti Lail, ketika ia menyukai hujan kenangan penting dalam hidupnya terjadi saat hujan. Bukankah itu menyenangkan? Tidak juga, bagaimana ketika kenangan itu berubah menyakitkan? Setiap hujan turun akan terasa lebih menyesakan, melihat semua kenangan itu jatuh dalam bulir hujan yang berkubik-kubik, bagaimana dia akan menyikapinya. Secepat ia berlari, tetap saja basah. Ia ingin menghindar, bagaimanalah caranya saat berada di tanah lapang. Setiap tetesnya membawa satu kenangan. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain membiarkannya dibasuh air hujan, menari bersama dengan rinainya, menikmati semua tetesnya sampai hujan berhenti dengan sendirinya.

Ingin tertawa sebenarnya menulis semua ini, terlebih ketika membaca ulang, tulisan ini seakan pengakuan. Pengakuan yang dulu aku tidak ingin orang tahu bahkan oleh dia, tapi sekarang aku menuliskan kisah yang bisa dibaca siapapun yang mengetahui alamatnya. Saat bertemu dalam pertemuan yang sangat langka aku tidak banyak bercerita, bagiku pertemuan itu telah mewakili semuanya, namun kini aku ingin dia tahu bagaimana perasaanku. Aku tak pandai bercerita dihadapannya, karena itu kutulis rangkaian cerita ini untuknya.

***

Masih tentang hujan, ada sedikit perasaan aneh yang aku rasa dari temanku, mengapa dia marah melihat someone-nya hujan-hujanan? Katanya takut "si dia"nya sakit. Owh my God, ada apa dengan temanku ini? Ko rasanya aku yang ilfeel ya? Protect banget dengan kehidupan orang lain, ya aku katakan orang lain, toh belum ada ikatan resmi diantaranya. Tapi katanya, karena temanku sayang sama someone-nya, ingin menjaganya, khawatir akannya. Wait, gak harus gitu juga kan? Menurutku untuk membuatnya tenang tanpa kemarahannya yang merembet. Pengertian yang aku bisa berikan telah tersampaikan, mungkin temanku ini juga mencerna yang aku sampaikan, hujan-hujanan tidak berdampak buruk pada tubuhnya. Kalaupun demam setelahnya itu hanya masalah imunitas dan sugesti.

Tidak harus protect untuk menunjukan kepedulian, tidak harus membatasi untuk menunjukan perhatian, tidak harus berunjuk perasaan untuk menunjukan kasih sayang, bagiku cukup diam selama dia "aman". Dia punya kehidupan sendiri tanpa harus aku intervensi. Jalani saja hidupnya, tunaikanlah rencana-rencananya, aku tidak usah repot" dengan mengkhawatirkannya, toh bukankah aku tau bahwa aku termasuk dalam rencana kehidupannya? Itu cukup bagiku.

Temanku yang satu lagi juga membuatku heran, aku tahu dia sedang kurang fit, tapi kenapa dia keluar menerobos hujan tanpa payung dia kenakan. Tepuk jidat aku melihat ulahnya. Pulang dari membeli kudapan, temanku ini berpapasan dengan "si dia"nya. Besoknya saat bertemu di sekolah, mereka pada marah. Katanya emang lagi pengen marahan, hujanlah yang menjadi kambing hitam.

Banyak cara memaknai hujan untuk meramaikan suasana, entah itu senang, sedih, kesal, marah, hujan bisa saja membumbuinya. Mungkin ada orang yang merasa senang saat hujan seperti aku, ada juga yang sedih karena hujan yang menghujamkan kenangan menyakitkan, ada orang yang merasa kesal karena hujan dianggapnya penghambat urusan, mungkin pula ada orang yang marah seperti cerita barusan. Ada cerita apa lagi dalam hujan? Nantikan part selanjutnya...

#to be continue...

Sabtu, 05 Agustus 2017

Dear...

Langit biru sejauh mata memandang, gelombang awal berarak tak beraturan, semilir angin pagi menyegarkan, entah berapa kali aku melewatkannya. Rimba beton perumahan warga susul menyusul dan berlomba, hamparan padi menguning siap panen menyibukan, entah berapa kali aku tak bersantai dengannya. Ayam bercicit sahut menyahut burung bersiul, bertanya pada alam yang hening, sampai kapankah ini akan berulang. Sang surya bola merah membara mulai mengintip disela jejer bukit beranjak naik, silaunya indah terasa, berapakan mentari pagi yang tak aku acuhkan. Rembulan yang bersiap naik tahta saat mentari kembali keperaduan beriring sirius bak permata kecil di kejauhan, tampak melenggang anggun, entah berapa kali satelit bumi ini tak aku perhatikan. Bintang kejora seakan mandiri tampak berkilau sendiri menunggu sinarnya dikalahkan matahari pagi, entah berpa kali aku tak memandangnya. Banyak kesempatan hebat dalam hidup setiap insan yang dinafikan. Mereka terlampau mengejar dan dikejar waktu keduniaan,, abai. Fabi ayyi aala irabbikuma tukadziban. Nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan? Pegunungan hijau jamrud gagah berpijak kau gunduli pohonnya, keruk tanahnya, ambil batunya, saat bencana kau mengiba hidup pada Yang Punya. Memelas kasih warga dunia dengan menenteng kaleng kemanusiaan. Kau pun tak habis cara mengisi saku kosongmu. Bahkan kau mengutuk alam yang mengamuk karena ulahmu. Wahai, mengapa kau berbuat kerusakan sedangkan Tuhanmu mengecamnya? Kini kau lihatlah, telah tampak kerusakan yang disebabkan tanganmu. Tetaplah ceracau mulutmu penuh harap. Tetaplah peragaimu mengais ampunan. Pada siapa kau akan meminta selain pada Sang Maha Memiliki. Pada siapa lagi kau akan percaya selain pada Sang Pemegang Janji.

Kamis, 03 Agustus 2017

Karyakan Dakwahmu


Ketika menapaktilasi riwayat hidup yang belum seberapa jauh, terhitung masih "belia" dengan ukuran orang yang ada di hadapannya. Perkataan itu masih saja terngiang walaupun sudah jauh tertinggal, satu kalimat saja, "kapan kau akan berkarya?". Memperhatikan grafik yang tengah dijelaskan dalam suatu kelas perkuliahan, pikirannya kembali memutar bola cakram mesin waktu, hingga mesin tersebut membawanya kembali pada kenyataan bahwa ia sedang duduk mengikuti presentasi dosen. Ia mengutuk dalam hati, " wahai diri, apakah layak kau ada di dalam kehidupan ini? Untuk apa kau hidup? apa bukti kau hidup? mengapa kau masih stagnan di zona nyaman, ongkang-ongkang kaki bersandar dengan nyamannya pada pundak kedua orang tua?". Terlampau sering ia berjanji pada diri untuk kemudian dilanggarnya, ia berultimatum pada diri untuk kemudian dikhianatinya, sakit memang. Ia benci pada dirinya kala itu, benci melihat dirinya yang mengikuti bayangan, ia benci melihat betapa "sampahnya" di kehidupan. seakan apa yang menjadi sumbangsihnya pada kehidupan hanyalah fatamorgana.

***

Kawan, apa yang kau rasakan ketika membaca cuplikan diatas? Apakah kau melihat seorang anak manusia yang setres dengan keadaan dirinya? Ataukah kau melihatnya sebagai anak manusia yang "gegana" dengan kehidupannya? Atau kau melihat seorang anak manusia yang hendak bertransformasi dari ketidak berdayaannya? Ataukah kau melihatnya sebagai anak manusia pemarah yang tak mensyukuri anugerah Tuhannya?.

Banyak pernyataan yang akan timbul dari cuplikan di atas. Stereotip tidak dapat dihindari ketika mendapati sebuah peristiwa di hadapan kita. Namun kawan, ini bukan saatnya men-judges siapapun, judgement kita tidak akan berpengaruh terhadapnya.

Seperti yang telah diketahui, manusia merupakan makhluk tiga dimensi. Dikatakan demikian karena begitulah keadaannya, ada tiga unsur yang ada dalam tubuh manusia. Kendati unsur-unsur tersebut ada di dalam tubuh manusia, ketiganya tidak menjamin akan memanusiakan manusia. Unsur tersebut adalah ruh, jasad, dan nafs.

Ruh merupakan esensi dari kehidupan manusia, ia merupakan unsur yang paling halus dan bersifat suci, ia juga cenderung pada hal-hal yang fitri dan ilahi, unsur ini adalah unsur yang kekal dalam perjalanan hidup manusia. Masih berbicara tentang ruh, ruh dibedakan menjadi dua, yaitu ruh munazzalah dan ruh al-gharizah. Ruh munazzalah adalah ruh yang masih "utuh" dalam artian ruh yang masih berada di alam ajali, sedangkan ruh al-gharizah adalah ruh yang telah "terkontaminasi" kesuciannya karena telah masuk pada jasad manusia, dan dikenal pula sebagai nafs.

Jasad merupakan wujud fisik--anatomi manusia--. Wujud anatomi ini cenderung pada hal-hal yang bersifat biologis serta merupakan eksistensi dan "wadah" unsur kehidupan walaupun keberadaannya tidak immortal.

Nafs seperti yang telah disinggung merupakan substansi psiko-fisik gabungan antara ruh dan jasad. Karena keberadaannya adalah gabungan, nafs ini memiliki kecenderungan yang juga gabungan antara ruh dan jasad. Yang paling digaris bawahi dalam nafs adalah aktualisasinya yang membentuk kepribadian.

Oleh karena nafs yang berperan dalam aktualisasi diri, perlu kiranya mengetahui bahwa dalam nafslah terdapat tiga pautan inti, qalbu, akal, dan nafsu yang akan diminta pertanggung jawaban. Peran dan posisi qalbu, akal, dan nafsu harus senantiasa berada dalam ketepatan, kebenaran, dan keseimbangan. Tidak dibenarkan adanya dominasi yang akan menjadikan eksistensi diri berada dalam ketimpangan.

Lantas, apa kaitannya ilustrasi di atas dengan pemaparan ini? Mungkin tidak berkaitan, akan tetapi bersinggungan. Ketika pautan inti tersebut harus seimbang, perlu adanya usaha untuk menyeimbangankannya. Dalam satu hal yang disebut "usaha", barang tentu akan menemui resiko atas keputusan yang diambil, ujian saat berpendirian, hingga gangguan dan ancaman eksternal.

Menyadari keterbatasan manusia dalam mengendalikan diri dan menghindari kesalahan, manusia sangat membutuhkan bantuan untuk tetap berada dalam kesadaran dan fitrahnya. Demi mencapai itu, Allah menciptakan mekanisme hidup yang telah paripurna dengan sempurnanya Islam.  Jalan dakwah yang telah ditempuh para massager-Nya adalah solusi untuk permasalahan tersebut.

Seorang manusia tidak bisa jemawa menunjuk dirinya "mampu" mempertimbangkan baik dan buruk dengan potensi akal yang dimilikinya karena akal memiliki sifat yang fluktruatif. Akal terkadang berpihak pada kesadaran dan bisa jadi ia terperosok jauh pada kejahatan. Kemurnian dari hakikat hati juga tidak selamanya dapat memancarkan sinar petunjuk bagi pemiliknya, ia akan bersinar manakala ia terpelihara, ada pun ketika ia terabaikan maka kotorlah ia dan tak lagi dapat menyinari kehidupan pemiliknya. Jangan ditanya bagaimana posisi nafsu, memang benar dengan nafsu terpelihara kelangsungan hidup manusia, namun ketika nafsu tidak lagi dikedalikan bahkan sebaliknya nafsulah yang mengendalikan sehingga dipertuhankan oleh tuannya, tak akan terelakan bahwa ia tengah membangun kehancuran bagi dirinya.

Oleh karenanyalah dakwah dibutuhkan guna memosisikan potensi tersebut tetap berada dan cenderung pada kebenaran. Dakwah akan menjadi penuntun akal manusia dalam mencari dan menjalankan kebenaran. Dakwah pun akan senantiasa menjadi nutrisi bagi hati--qalbu--sehingga terpeliharalah ia lantas konsisten menyinari kehidupan pemiliknya. Dakwah pulalah yang akan menjadi alarm peringatan bagi nafsu agar ia tetap terkendali dalam kebenaran.

Jika diibaratkan, fitah manusia adalah jalan lurus yang akan mengantarkannya pada "tujuan" akhir perjalanan, maka akan ada kalanya manusia itu berbelok arah, entah karena "bosan" melihat sisi kanan kiri yang terlihat menyenangkan, atau mungkin karena ada yang "membelokan". Ketika keluar dari lintasan jalan yang lurus, ada beberapa hipotesis. Ada yang keluar jalur lantas kembali meniti jalan yang lurus itu, tak dapat dipungkiri juga ia akan terus berjalan diatas jalan belok tadi hingga jauh terus menyusurinya lantas enggan untuk " kembali", atau ia hendak kembali tetapi "lupa" bagaimana caranya, bisa jadi ia ingin "kembali" tapi ia terlampau gengsi dan sakit hati, atau mungkin "belum" saatnya Sang Pemilik hidayah merestuinya untuk kembali, serta banyak lagi kemungkinan lainnya.

Seorang manusia tidak bisa mengubah seorang individu kembali ke dalam fitri, tetapi ia bisa membantunya agar ia kembali menemukan jati diri. Seorang anak manusia juga tidak bisa menjadikan individu tetap dalam ridha Illahi, tapi ia bisa menjaganya dalam tautan silaturahim. Manusia tidak bisa menjamin dirinya senantiasa dalam kebenaran. Jelas kiranya bahwa manusia pada dasarnya butuh akan dakwah sebagai alarm kehidupan yang selalu mengingatkannya untuk kembali, seruan Illahi melalui pelantara makhluk-Nya, serta bentuk kepedulian sejati atas keselamatan sesama.

Dakwah juga dapat diwujudkan sebagai karya yang dimaksud oleh ilustrasi di atas, karena dakwah adalah seni menawan dalam menyampaikan pesan nan suci. Bagaimana tidak, "profit" dakwah tidak hanya kepuasaan saat terwujudnya masterpiece, keuntungan saat mendapat materi dunia, namun lebih besar dari pada itu, yakni "profit" akhirat sebagai bekal yang mengabadi.

Selain menjalankan perintah Allah untuk saling manasihati dalam kebenaran dan kesabaran agar tidak tergolong pada kelompok manusia yang merugi--QS. al-'Asr--dan ikut andil dalam persebaran Islam di muka bumi, dakwah adalah bentuk nyata dari kasih sayang sesama manusia yang dapat menghindarkannya dari sikap individualis. Adapun "profit" dari aktivitas dakwah diantaranya sebagai berikut:

1. Perwujudan Orang Beriman

Sikap hidup orang beriman adalah memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran (QS. at-Taubah [9]: 71). Berbeda halnya dengan orang munafik yang bersikap sebaliknya(QS. at-Taubah [9]: 67). Tidak pelak lagi bahwa dakwah adalah aktivitas amar ma'ruf nahyi munkar sebagai wujud dari orang yang beriman.

2. Mewujudkan Tanggung Jawab Bersama

Berdakwah dalam kehidupan bermasyarakat diibaratkan seperti sekelompok orang yang menghuni sebuah kapal layar. Ada yang mendapatkan tempat di atas dan ada juga yang di bawah. Bila orang yang ada di bawah hendak mengambil air, ia harus naik dan melewati setiap orang yang dilaluinya di setiap tingkat kapal. Terkadang orang yang di bawah berpikir, "seandainya aku lubagi saja kapal ini untuk mendapatkan air, maka aku tidak akan mengganggu orang yang ada di atas". Bagaimana jika orang tersebut melubangi kapalnya? Jangankan akan sampai pada tujuan, sebelum itu terjadi mereka akan tenggelam. Apabila mereka mencegahnya, maka mereka semua akan selamat dan terhindar dari petaka. Begitupun berdakwah di masyarakat, ketika orang-orang saling mengingatkan dan menyeru pada kebaikan serta mencegah pada kemunkaran, mereka akan selamat dari persinggahan menuju tempat tujuan. Sikap tenggang rasa antara penghuni atas dan bawah kapal juga akan tercipta dengan terciptanya kesadaran bersama untuk saling menjaga.

3. Bekal Menghadap Allah SWT.

Tentu kita mengetahui bahwa kehidupan ini hanyalah jembatan yang membentang pada satu titik akhir, yaitu kematian sebagai gerbang kehidupan yang kekal. Hidup di dunia hanyalah sementara, namun banyak umat manusia menjadi budak dunia karena keindahannya yang memperdaya (QS. al-Hadid [57]: 20), namun ada juga mereka yang menjadikan dunia dalam " kendalinya" dengan menyikapi dunia "seperlunya".

Hidup di zaman yang " mempertontonkan" kemaksiatan, "mempertuan" keinginan, peniadaan kebaikan, dan lain halnya, dakwah dapat dijadikan sebagai "alasan" saat menghadap Sang Hakim keadilan. Ketika tubuh ringkih terhuyung ketakutan di depan pengadilan-Nya, saat itulah pengharapan terbesar untuk diselamatkan dan hanya keridhaan-Nya yang kita perlukan, pertanyaannya apa yang kita miliki untuk selamat dari murka-Nya? dakwah adalah salah satu alasan untuk menyelamatkan diri. Ketika zama semakin tidak karuan, tetaplah gaungkan dakwah. Stereotip "mengepa kau menasihati kaum yang Allah akan membinasakan dan mengadzab mereka karena kemaksiatannya dengan adzab yang amat keras?" jawablah dengan tegas, "itu kami lakukan agar kami memiliki alasan pelepas tanggung jawab kepada Allah serta agar mereka bertakwa", sebagaimana yang telah Allah gambarkan dalam QS. al-'Araf [7]: 164.

4. Berpeluang Menjadi Orang yang Beruntung dan Meraih Kesempatan untuk Menjadi Umat Terbaik

Ayat ini begitu familiar di telinga, QS. Ali-Imran [3]: 104. Menyerukan kebajikan, memerintahkan kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar adalah aktivitas dakwah. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menyebutkan riwayat dari Abu Ja'far al-Baqir yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih setelah membaca ayat, " Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan", Rasulullah bersabda, "yang dimaksud dengan kebaikan itu adalah mengikuti al-Quran dan Sunnahku." Jelaslah kiranya aktivitas dakwah juga merupakan aktivitas menyerukan Firman Allah dalam al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. baik berupa perintah, larangan, maupun pembiaran, dengan hukum kedudukannya.

Masih dalam QS. Ali-Imran [3], pada ayat ke 110 Allah berfirman (yang artinya), "kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk menusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..."

Lagi-lagi dan lagi, Allah memberikan peluang yang sangat luar biasa (menjadi sebaik-baiknya umat) dengan aktivitas dakwah.

Masih rela gak termasuk aktivis dakwah? apa lagi pertimbangan tidak menjadikan dakwah sebagai karyamu? abil kesempatan emasmu menjadi aktivis dakwah, segera karyakan dakwahmu.

#adet
#karyakan_dakwahmu
#dakwahmu_karyamu
#menulis_dakwah
#to_be_continue