Sabtu, 23 September 2017

Tahan Banting

By. EnpitsuAO

Kebanyakan dari manusia ketika tertimpa kemalangan, kesusahan, atau musibah dalam bentuk kesengsaraan, mereka akan merasa makhluk yang paling menyedihkan di dunia. Mematung berdiam diri, meratap, menyalahkan siapapun dan apapun dalam benak mereka, tak terbilang juga yang mengakhiri nyawa, mereka kira urusan akan berakhir pada kematian, konyol.

Mereka selalu menonggak ke atas, seakan leher mereka terbuat dari beton baja tidak mengalihkan pandangan dari aurora kehidupan orang lain yang menurut versinya itulah kehidupan yang mereka inginkan. Mereka selalu kagum melihat orang-orang hebat memberikan pidato, seminar, simposium, dan lain halnya. Mereka terus bermimpi, menyulam mimpi dalam tidur yang nyenyak tanpa merasa perlu melek dan bangun untuk mewujudkan mimpi itu.

Banyak kalimat motivasi membesarkan hati memenuhi status-status quotes media sosial, mereka hanya sibuk membaca, merasa tergugah seketika, kemudian menyampaikannya kepada yang lain, menunjukan sisi bijaknya dalam mendapatkan citra di hadapan manusia. Tapi nol mereka dapatkan, zonk! Mereka sama sekali tidak melakukan tindakan nyata sebagai wujud tergugahnya hati mereka. Nihil.

Ketika kita melihat seseorang gagah berdiri mentereng dikenal setiap lapisan sosial, melihat betapa tangguhnya ia, betapa beruntungnya ia, betapa takdir berbaik hati padanya. Jangan melihat itu semua sekarang saat ia berdiri kokoh dalam pijakan, tapi tanyakanlah berapa ribu rintangan yang menghadangnya dalam perjalanan, berapa kali ia harus terpuruk dalam dinginnya tangan takdir yang sama sekali tidak pernah dan tidak akan bertanya bagaimana perasaannya saat ia terjerembab jatuh kedalam dasar kenistaan.

Tujuh miliyar penduduk planet bumi galaksi bima sakti ini semuanya dari ayah Adam yang sama, Ibu Hawa yang satu. Mereka memiliki bekal potensi yang juga sama, mereka sama-sama tidak mengetahui sesuatu pun sejak oksigen pertama dihirupnya, jika masih ragu silahkan buka kitab suci yang tidak ada keraguan di dalamnya (QS. Al-Baqarah [2]: 2), buka adz-Dzikru tersebut tepat pada surat ke-16, an-Nahl ayat 78. Berikut terjemah yang dapat dipahami, mudah-mudahan tidak menyalahi arti sesungguhnya. “Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahu sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.”

Proses kehidupan yang mereka jalani yang akan membedakan mereka, nilai mereka akan berbeda satu sama lain tergantung pada kualitas diri mereka yang ditempa dengan berbagai ujian dan cobaan. Ada diantaranya yang sukses menghadapi tempaan hidup, pun banyak diantara mereka hanya mengantongi nilai rendah. Tempaan mereka tak ubahnya seperti dua karbon yang terpaut jauh dalam nilai dan kualitas. Keduanya kita kenal dengan nama berlian dan arang.

Berlian, benda yang satu ini menjadi dambaan banyak kalangan, tidak hanya kaum Hawa yang identik dengan keindahan, kaum Adam pun tidak ketinggalan. Kilaunya yang mengagumkan dapat menyihir setia pasang mata yang memandangnya. Ia menjadi brand dari strata teratas dalam interaksi sosial manusia. Alat pahatnya pun tidak sembarangan, gergajinya sangat khusus, pengrajinnya memperlakukan ia seperti ratu, takut sekali terkena debu, tempat ia bertahta pun dibuat sedemikian rupa nyamannya dibingkai indah etalase kaca menawan penglihatan, kokohnya nyata terlihat.

Mari lihat karbon yang satunya. Ia terlihat legam, si punya meletakkannya diatas tanah tanpa alas, tempatnya berada sama hitam dengan dirinya, jangan tanya bagaimana perlakuan manusia terhadapnya terinjak pun ia tak apa dan dilewatkan begiu saja. Bentuknya tidak beraturan, jauh dari kata kokoh, ia rapuh. Nilainya dapat terlihat sendiri dari kualitasnya.

Berlian, tidak sim salabim memikat hati dengan nilai dan kualitas tinggi. Kokohnya ia tidak lain didapatkan dari tempaan temperatur tinggi, tekanan eksrim, dan  dengan waktu yang tidak sebentar lama sekali proses tersebut berlangsung. Beda halnya dengan rapuhnya arang, ia dihasilkan dari temperatur rendah, tekanan seadanya, dan waktu yang terbilang singkat tidak memerlukan waktu lama.

Begitupun manusia. Allah sang Maha Raja dari raja-raja mustahil menempatkan berlian pada posisi arang atau sebaliknya menempatkan arang pada posisi berlian. Ketika datang ujian dari Allah, sejatinya itu adalah temperatur tinggi serta tekanan ekstrim yang terjadi dalam waktu yang tidak singkat. Jika manusia dapat melalui proses tersebut ia akan menjadi berlain, jika ia menyerah lalu keluar menginggaki ujian tersebut akan menjadi kabon kedua yaitu arang.

Sejatinya diri kita bukan milik kita, Allah adalah pemilik jiwa raga segala yang ada di alam raya. Dia tahu kadar kemampuan dari setiap makhluk ciptaan-Nya, mustahil bagi-Nya melakukan kesalahan membebani makhluk dengan beban yang tidak mampu ditanggungnya. Jelas kiranya dalam QS. al-Baqarah [2]: 286 Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan menimpakan sesuatu kepada hambanya diluar batas kemampuannya. Janji Allah adalah sebenar-benarnya janji.

Tidak usah risau menjalani sukarnya belukar hidup yang terhampar. Tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana caranya untuk menjadi seperti orang lain. Cukup tenang, terima dengan lapang, dan jalani setiap proses tempaan hidup, kemudia bersyukur atas setiap nafas yang dapat dihembuskan. Jadilah berlian, jangan lari dari kenyataan yang akan menjadikanmu sebagai arang.

Tidak perlu juga merasa menjadi makhluk paling mengenaskan di dunia, berhenti menonggak gemintang yang berkilauan. Lihatlah betapa beruntungnya dirimu meski itu dalam keadaan yang sangat menyesakan. Tundukan kepalamu, lebih banyak orang dengan nasib dan tempaan yang lebih berat darimu, mereka tidak leluasa mengambil oksigen gratis yang ada di bumi karena sesaknya paru kehidupan mereka. Pengemban risalah mulia, Rasul saw. begitu bijak bersabda tentang larangan bagi pengikutnya untuk melihat kehidupan yang ada di atas yang akan menyebabkannya ingkar terhadap karunia Allah, yang tidak lain memerintahkan untuk melihat kehidupan yang berada di bawah dengannya rasa syukur dan kepedulian akan menyeruak sebagai kualitas pribadi hamba-Nya.

Note: adz-Dzikru adalah nama lain dari al-Quran, dikatakan demikian (adz-Dzikru, yang memberikan peringatan) karena memang al-Quran adalah pemberi peringatan bagi yang membacanya agar senantiasa mingingat-Nya selama menjalani kehidupan di dunia fana.

Oleh: Adetia Siti Nurmalulloh

Tahan Banting

By. EnpitsuAO

Kebanyakan dari manusia ketika tertimpa kemalangan, kesusahan, atau musibah dalam bentuk kesengsaraan, mereka akan merasa makhluk yang paling menyedihkan di dunia. Mematung berdiam diri, meratap, menyalahkan siapapun dan apapun dalam benak mereka, tak terbilang juga yang mengakhiri nyawa, mereka kira urusan akan berakhir pada kematian, konyol.

Mereka selalu menonggak ke atas, seakan leher mereka terbuat dari beton baja tidak mengalihkan pandangan dari aurora kehidupan orang lain yang menurut versinya itulah kehidupan yang mereka inginkan. Mereka selalu kagum melihat orang-orang hebat memberikan pidato, seminar, simposium, dan lain halnya. Mereka terus bermimpi, menyulam mimpi dalam tidur yang nyenyak tanpa merasa perlu melek dan bangun untuk mewujudkan mimpi itu.

Banyak kalimat motivasi membesarkan hati memenuhi status-status quotes media sosial, mereka hanya sibuk membaca, merasa tergugah seketika, kemudian menyampaikannya kepada yang lain, menunjukan sisi bijaknya dalam mendapatkan citra di hadapan manusia. Tapi nol mereka dapatkan, zonk! Mereka sama sekali tidak melakukan tindakan nyata sebagai wujud tergugahnya hati mereka. Nihil.

Ketika kita melihat seseorang gagah berdiri mentereng dikenal setiap lapisan sosial, melihat betapa tangguhnya ia, betapa beruntungnya ia, betapa takdir berbaik hati padanya. Jangan melihat itu semua sekarang saat ia berdiri kokoh dalam pijakan, tapi tanyakanlah berapa ribu rintangan yang menghadangnya dalam perjalanan, berapa kali ia harus terpuruk dalam dinginnya tangan takdir yang sama sekali tidak pernah dan tidak akan bertanya bagaimana perasaannya saat ia terjerembab jatuh kedalam dasar kenistaan.

Tujuh miliyar penduduk planet bumi galaksi bima sakti ini semuanya dari ayah Adam yang sama, Ibu Hawa yang satu. Mereka memiliki bekal potensi yang juga sama, mereka sama-sama tidak mengetahui sesuatu pun sejak oksigen pertama dihirupnya, jika masih ragu silahkan buka kitab suci yang tidak ada keraguan di dalamnya (QS. Al-Baqarah [2]: 2), buka adz-Dzikru tersebut tepat pada surat ke-16, an-Nahl ayat 78. Berikut terjemah yang dapat dipahami, mudah-mudahan tidak menyalahi arti sesungguhnya. “Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahu sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.”

Proses kehidupan yang mereka jalani yang akan membedakan mereka, nilai mereka akan berbeda satu sama lain tergantung pada kualitas diri mereka yang ditempa dengan berbagai ujian dan cobaan. Ada diantaranya yang sukses menghadapi tempaan hidup, pun banyak diantara mereka hanya mengantongi nilai rendah. Tempaan mereka tak ubahnya seperti dua karbon yang terpaut jauh dalam nilai dan kualitas. Keduanya kita kenal dengan nama berlian dan arang.

Berlian, benda yang satu ini menjadi dambaan banyak kalangan, tidak hanya kaum Hawa yang identik dengan keindahan, kaum Adam pun tidak ketinggalan. Kilaunya yang mengagumkan dapat menyihir setia pasang mata yang memandangnya. Ia menjadi brand dari strata teratas dalam interaksi sosial manusia. Alat pahatnya pun tidak sembarangan, gergajinya sangat khusus, pengrajinnya memperlakukan ia seperti ratu, takut sekali terkena debu, tempat ia bertahta pun dibuat sedemikian rupa nyamannya dibingkai indah etalase kaca menawan penglihatan, kokohnya nyata terlihat.

Mari lihat karbon yang satunya. Ia terlihat legam, si punya meletakkannya diatas tanah tanpa alas, tempatnya berada sama hitam dengan dirinya, jangan tanya bagaimana perlakuan manusia terhadapnya terinjak pun ia tak apa dan dilewatkan begiu saja. Bentuknya tidak beraturan, jauh dari kata kokoh, ia rapuh. Nilainya dapat terlihat sendiri dari kualitasnya.

Berlian, tidak sim salabim memikat hati dengan nilai dan kualitas tinggi. Kokohnya ia tidak lain didapatkan dari tempaan temperatur tinggi, tekanan eksrim, dan  dengan waktu yang tidak sebentar lama sekali proses tersebut berlangsung. Beda halnya dengan rapuhnya arang, ia dihasilkan dari temperatur rendah, tekanan seadanya, dan waktu yang terbilang singkat tidak memerlukan waktu lama.

Begitupun manusia. Allah sang Maha Raja dari raja-raja mustahil menempatkan berlian pada posisi arang atau sebaliknya menempatkan arang pada posisi berlian. Ketika datang ujian dari Allah, sejatinya itu adalah temperatur tinggi serta tekanan ekstrim yang terjadi dalam waktu yang tidak singkat. Jika manusia dapat melalui proses tersebut ia akan menjadi berlain, jika ia menyerah lalu keluar menginggaki ujian tersebut akan menjadi kabon kedua yaitu arang.

Sejatinya diri kita bukan milik kita, Allah adalah pemilik jiwa raga segala yang ada di alam raya. Dia tahu kadar kemampuan dari setiap makhluk ciptaan-Nya, mustahil bagi-Nya melakukan kesalahan membebani makhluk dengan beban yang tidak mampu ditanggungnya. Jelas kiranya dalam QS. al-Baqarah [2]: 286 Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan menimpakan sesuatu kepada hambanya diluar batas kemampuannya. Janji Allah adalah sebenar-benarnya janji.

Tidak usah risau menjalani sukarnya belukar hidup yang terhampar. Tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana caranya untuk menjadi seperti orang lain. Cukup tenang, terima dengan lapang, dan jalani setiap proses tempaan hidup, kemudia bersyukur atas setiap nafas yang dapat dihembuskan. Jadilah berlian, jangan lari dari kenyataan yang akan menjadikanmu sebagai arang.

Tidak perlu juga merasa menjadi makhluk paling mengenaskan di dunia, berhenti menonggak gemintang yang berkilauan. Lihatlah betapa beruntungnya dirimu meski itu dalam keadaan yang sangat menyesakan. Tundukan kepalamu, lebih banyak orang dengan nasib dan tempaan yang lebih berat darimu, mereka tidak leluasa mengambil oksigen gratis yang ada di bumi karena sesaknya paru kehidupan mereka. Pengemban risalah mulia, Rasul saw. begitu bijak bersabda tentang larangan bagi pengikutnya untuk melihat kehidupan yang ada di atas yang akan menyebabkannya ingkar terhadap karunia Allah, yang tidak lain memerintahkan untuk melihat kehidupan yang berada di bawah dengannya rasa syukur dan kepedulian akan menyeruak sebagai kualitas pribadi hamba-Nya.

Note: adz-Dzikru adalah nama lain dari al-Quran, dikatakan demikian (adz-Dzikru, yang memberikan peringatan) karena memang al-Quran adalah pemberi peringatan bagi yang membacanya agar senantiasa mingingat-Nya selama menjalani kehidupan di dunia fana.

Oleh: Adetia Siti Nurmalulloh

Pribadi Baru

By. EnpitsuAO

Sekilas tak ada bedanya aku dengan mereka, tapi jelas aku berbeda diantara mereka. Secara psikologis kebanyakan orang tidak senang dibandingkan dengan yang lainnya, begitupun aku. Aku menyakini setiap orang adalah pribadi yang unik yang tidak sama satu dan lainnya. Tapi aku tidak bisa lantang mengutarakan pikiranku kepada ayah-ibu yang terkadang lupa membandingkanku dengan yang lain. Aku tahu tidak seharusnya begitu, tapi dengan segala hormat aku menerima itu semua, keduanya hanya ingin menyemangatiku, tak ada yang salah akan hal itu.

Dalam setiap kehidudupan banyak sekali peristiwa yang besebrangan dengan keinginan. Bukankah itu lebih baik daripada semuanya berjalan sesuai apa yang kita inginkan? Betapa membosankan ketika itu terjadi, tidak akan ada yang tahu bagaimana indahnya seni fighting, motivasi, problem soulving, juga konseling.

Jikalah kita bersedia melihat segala hal dari sisi yang berbeda, dari sudut pandang sebaliknya, serta pendirian yang anti mainstream. Sebagai contoh, apa yang dirasakan ketika belum mecapai apa yang kita usaha? Atau ungkapan yang lebih sadis, bagaimana rasanya jika kita gagal ditengah jalan? Jangankan melihat hasil akhir dari perjalan, sampai pada perbatasannyapun tidak. Sakit memang.

Apa yang bisa kita lakukan. Mengumpat nasib? Menghancurkannya kemudian lari? Menyalahkan orang lain? Atau terpuruk meratap masa depan yang menjadi suram? Itu semua mudah dilakukan tapi percalah, dengan berbuat demikian tidak akan mengembalikan harapan kita. Apalagi ketika kita berpangku tangan, lengkap sudah detail sebagai pecundang kehidupan.

Ketahuilah, takdir tidak akan mengiba siapapun di dunia ini. Betapapun kita mengumpatnya, mengeluarkan sumpah serapah tiada henti takdir tidak akan berbalik bahkan menengok pun tidak. Itu hanya akan menunjukan betapa sampahnya hidup kita dengan semua cerecau menjijikan mengotori lisan. Atau ketika kita merasa kesal lantas menghancurkan harapan kita tanpa bentuk lantas lari meninggalkan kenyataan tidak akan mengubah apapun, bahkan sebelum benar-benar menghancurkannya kita akan lebih dulu hancur dengan pil pahit yang dibawanya. Percuma juga ketika lari meninggalkannya secepat pemegang rekor lari tercepat di dunia, kegagalan kita akan tetap menjadi bagian dari kehidupan, tidak akan ada yang berubah. Wah jangan terlintas sedikitpun untuk menyalahkan orang lain dalam kegagalan yang kita temukan, itu hanya akan memperjelas di minus sekian nilai diri kita. Terpuruk? Katakan tidak! Untuk apa meratapi itu dengan tatapan nanar menerawang di dalam bilik kamar bergelung selimut meringkuk di atas dipan, kita hanya akan terlihat seperti pesakitan yang kehilangan jiwa.

Sedih wajar, menangis juga sehat, marah tak ada salahnya. Tapi kehidupan tidak akan berbaik dengan sendirinya, saatnya kita bangkit kembali berusaha demi simpul senyum melihat matahari terbit esok lusa dengan gemilang ada dalam genggaman. Siapa yang dapat melakukan itu? Kita. Kapan kita akan bermetamorfosis dari menjiikan menjadi indah tak berbilang? Saat ini juga. Dimana kita memulai perubahan itu semua? Mulailah dimanapun sekarang kita berada.

Jauh sebelum ditemukannya istilah seni memotivasi diri, training bagaimana mencapai sukses setelah jongkok, konseling bagaimana cara berlari setelah merangkak, Tuhan yang Maha Esa menyampaikan kalam-Nya melalui utusan mulia salallahu ‘alaihi wasallam. Gengs, sudahkah kalian tahu itu? Untaian indah kalimatnya akan membawa kita pada point of view yang berbeda, padangan yang menentramkan jiwa yang gersang. Ungkapan tersebut ada dalam manual book kita sebagai orang yang mengaku muslim tepatnya dalam Quran surat ar-Rad ayat 11, berikut terjemah ayat tersebut, mudah-mudahan tidak menyalahi dan mengurangi sedikitpun hikmah dari firman-Nya. “... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri ...”

Itulah hal hebat yang mampu kita lakukan, mengubah alur kehidupan titipan ini. Tidak mesti kita bertransformasi dalam sekejap, mulailah dari mengubah point of view kita tentang hidup dan kehidupan. Kita hanya perlu membalik sedikit sisi hati kita, ketika kecewa kita dapat menerima, ketika getir kita mampu tersenyum manis, saat kenyataan pahit tertelan anggaplah itu obat mujarab yang mengobati sakit kita, saat semua seolah tidak berpihak kepada kita disanalah akan kita dapatkan kemandirian.

Terlebih dari itu semua, hal menakjubkan yang dapat kita lakukan untuk mengubah total segala yang kita alami adalah berysukur. Mudah memang mengatakannya, tapi tidak demikian ketika akan menjalankannya. Lantas bagaimana kita bisa bersyukur? Ya mulailah, tidak ada jalan lain selain memulainya. Ingin tahu ada apa dengan syukur? Allah dengan jelas menyatakan dalam al-Huda surat Ibrahim ayat 7. Kurang lebih berikut terjemah yang akan disajikan, mudah-mudahan tidak jauh dari maksud ayat tersebut. “... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat.”

Betapa kerennya bersyukur, ketika kita melakukannya Allah dengan tegas menyatakan akan menambahkan nikmat yang telah kita peroleh. Jangan sampai kita tergolong orang yang ingkar nikmat-Nya, rugi dua kali tuh, udah gagal terancam adzab pula. Naudzubillah, serem. Syukuri kegagalan yang kita alami, itu akan lebih menguntungkan, nikmat yang kita peroleh jelas bertambah. Apanya yang nikmat jika kita gagal? Tentu saja nikmat ketika kita berproses membangun kesuksesan berikutnya, indah bukan? Pasti.

Kembali lagi pada proses berubah, bukan berubah seperti power rangers menjadi merah, kuning, biru, hijau, pink, putih, hitam dengan kekuatan masing-masing yang berbeda, tapi kita berubah menjadi pribadi baru dengan pemahaman yang kokoh. Mungkin sempat mampir di telinga pertanyaan orang yang putus asa, jika Allah Maha Pengasih dan Penyayang kenapa pula Dia membiarkan hambanyanya berada dalam kesulitan? Come on! Singkirkan jauh-jauh jangan sampai terngiang dalam ingatan, kunci rapat-rapat setiap pintu yang akan membisikan kembali pertanyaan itu. Ketika kita gundah, gelisah, banyak pertanyaan yang tidak dapat kita jawab buka as-Syifa, insyaallah tenang dah hati kita.

Pada surat kedelapan (al-Anfal) ayat 53, dapat kita pahami dalam terjemahan para mufasir berikut, “... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri...” dalam surat ini kita kembali menemukan perintah agar mengubah keadaan diri kita untuk mendapatkan nikmat yang kita harapkan dari Allah.

Jelaslah sudah bagaimana kita melukiskan indah guratan takdir. Jangan mengumpat dan menyesali kegagalan, bersyukurlah karena itu pernah mewarnai ragam perjalanan. Jangan sedih berkepanjangan ketika belum mencapai harapan, bersyukurlah karena kita diberi keinginan untuk mewujudkannya. Tumbuhkanlah selalu nasihat seorang khalifah yang gagah berani, Umar bin Khatab. “Jika memang itu untukku maka ia tidak akan melewatkanku. Jika ia melawatkanku maka ia bukan untukku.”

Just for your information gengs, al-Huda dan asy-Syifa adalah nama lain dari al-Quran, way of life yang kita miliki.

Oleh: Adetia Siti Nurmaluloh

Pribadi Baru

By. EnpitsuAO

Sekilas tak ada bedanya aku dengan mereka, tapi jelas aku berbeda diantara mereka. Secara psikologis kebanyakan orang tidak senang dibandingkan dengan yang lainnya, begitupun aku. Aku menyakini setiap orang adalah pribadi yang unik yang tidak sama satu dan lainnya. Tapi aku tidak bisa lantang mengutarakan pikiranku kepada ayah-ibu yang terkadang lupa membandingkanku dengan yang lain. Aku tahu tidak seharusnya begitu, tapi dengan segala hormat aku menerima itu semua, keduanya hanya ingin menyemangatiku, tak ada yang salah akan hal itu.

Dalam setiap kehidudupan banyak sekali peristiwa yang besebrangan dengan keinginan. Bukankah itu lebih baik daripada semuanya berjalan sesuai apa yang kita inginkan? Betapa membosankan ketika itu terjadi, tidak akan ada yang tahu bagaimana indahnya seni fighting, motivasi, problem soulving, juga konseling.

Jikalah kita bersedia melihat segala hal dari sisi yang berbeda, dari sudut pandang sebaliknya, serta pendirian yang anti mainstream. Sebagai contoh, apa yang dirasakan ketika belum mecapai apa yang kita usaha? Atau ungkapan yang lebih sadis, bagaimana rasanya jika kita gagal ditengah jalan? Jangankan melihat hasil akhir dari perjalan, sampai pada perbatasannyapun tidak. Sakit memang.

Apa yang bisa kita lakukan. Mengumpat nasib? Menghancurkannya kemudian lari? Menyalahkan orang lain? Atau terpuruk meratap masa depan yang menjadi suram? Itu semua mudah dilakukan tapi percalah, dengan berbuat demikian tidak akan mengembalikan harapan kita. Apalagi ketika kita berpangku tangan, lengkap sudah detail sebagai pecundang kehidupan.

Ketahuilah, takdir tidak akan mengiba siapapun di dunia ini. Betapapun kita mengumpatnya, mengeluarkan sumpah serapah tiada henti takdir tidak akan berbalik bahkan menengok pun tidak. Itu hanya akan menunjukan betapa sampahnya hidup kita dengan semua cerecau menjijikan mengotori lisan. Atau ketika kita merasa kesal lantas menghancurkan harapan kita tanpa bentuk lantas lari meninggalkan kenyataan tidak akan mengubah apapun, bahkan sebelum benar-benar menghancurkannya kita akan lebih dulu hancur dengan pil pahit yang dibawanya. Percuma juga ketika lari meninggalkannya secepat pemegang rekor lari tercepat di dunia, kegagalan kita akan tetap menjadi bagian dari kehidupan, tidak akan ada yang berubah. Wah jangan terlintas sedikitpun untuk menyalahkan orang lain dalam kegagalan yang kita temukan, itu hanya akan memperjelas di minus sekian nilai diri kita. Terpuruk? Katakan tidak! Untuk apa meratapi itu dengan tatapan nanar menerawang di dalam bilik kamar bergelung selimut meringkuk di atas dipan, kita hanya akan terlihat seperti pesakitan yang kehilangan jiwa.

Sedih wajar, menangis juga sehat, marah tak ada salahnya. Tapi kehidupan tidak akan berbaik dengan sendirinya, saatnya kita bangkit kembali berusaha demi simpul senyum melihat matahari terbit esok lusa dengan gemilang ada dalam genggaman. Siapa yang dapat melakukan itu? Kita. Kapan kita akan bermetamorfosis dari menjiikan menjadi indah tak berbilang? Saat ini juga. Dimana kita memulai perubahan itu semua? Mulailah dimanapun sekarang kita berada.

Jauh sebelum ditemukannya istilah seni memotivasi diri, training bagaimana mencapai sukses setelah jongkok, konseling bagaimana cara berlari setelah merangkak, Tuhan yang Maha Esa menyampaikan kalam-Nya melalui utusan mulia salallahu ‘alaihi wasallam. Gengs, sudahkah kalian tahu itu? Untaian indah kalimatnya akan membawa kita pada point of view yang berbeda, padangan yang menentramkan jiwa yang gersang. Ungkapan tersebut ada dalam manual book kita sebagai orang yang mengaku muslim tepatnya dalam Quran surat ar-Rad ayat 11, berikut terjemah ayat tersebut, mudah-mudahan tidak menyalahi dan mengurangi sedikitpun hikmah dari firman-Nya. “... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri ...”

Itulah hal hebat yang mampu kita lakukan, mengubah alur kehidupan titipan ini. Tidak mesti kita bertransformasi dalam sekejap, mulailah dari mengubah point of view kita tentang hidup dan kehidupan. Kita hanya perlu membalik sedikit sisi hati kita, ketika kecewa kita dapat menerima, ketika getir kita mampu tersenyum manis, saat kenyataan pahit tertelan anggaplah itu obat mujarab yang mengobati sakit kita, saat semua seolah tidak berpihak kepada kita disanalah akan kita dapatkan kemandirian.

Terlebih dari itu semua, hal menakjubkan yang dapat kita lakukan untuk mengubah total segala yang kita alami adalah berysukur. Mudah memang mengatakannya, tapi tidak demikian ketika akan menjalankannya. Lantas bagaimana kita bisa bersyukur? Ya mulailah, tidak ada jalan lain selain memulainya. Ingin tahu ada apa dengan syukur? Allah dengan jelas menyatakan dalam al-Huda surat Ibrahim ayat 7. Kurang lebih berikut terjemah yang akan disajikan, mudah-mudahan tidak jauh dari maksud ayat tersebut. “... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat.”

Betapa kerennya bersyukur, ketika kita melakukannya Allah dengan tegas menyatakan akan menambahkan nikmat yang telah kita peroleh. Jangan sampai kita tergolong orang yang ingkar nikmat-Nya, rugi dua kali tuh, udah gagal terancam adzab pula. Naudzubillah, serem. Syukuri kegagalan yang kita alami, itu akan lebih menguntungkan, nikmat yang kita peroleh jelas bertambah. Apanya yang nikmat jika kita gagal? Tentu saja nikmat ketika kita berproses membangun kesuksesan berikutnya, indah bukan? Pasti.

Kembali lagi pada proses berubah, bukan berubah seperti power rangers menjadi merah, kuning, biru, hijau, pink, putih, hitam dengan kekuatan masing-masing yang berbeda, tapi kita berubah menjadi pribadi baru dengan pemahaman yang kokoh. Mungkin sempat mampir di telinga pertanyaan orang yang putus asa, jika Allah Maha Pengasih dan Penyayang kenapa pula Dia membiarkan hambanyanya berada dalam kesulitan? Come on! Singkirkan jauh-jauh jangan sampai terngiang dalam ingatan, kunci rapat-rapat setiap pintu yang akan membisikan kembali pertanyaan itu. Ketika kita gundah, gelisah, banyak pertanyaan yang tidak dapat kita jawab buka as-Syifa, insyaallah tenang dah hati kita.

Pada surat kedelapan (al-Anfal) ayat 53, dapat kita pahami dalam terjemahan para mufasir berikut, “... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri...” dalam surat ini kita kembali menemukan perintah agar mengubah keadaan diri kita untuk mendapatkan nikmat yang kita harapkan dari Allah.

Jelaslah sudah bagaimana kita melukiskan indah guratan takdir. Jangan mengumpat dan menyesali kegagalan, bersyukurlah karena itu pernah mewarnai ragam perjalanan. Jangan sedih berkepanjangan ketika belum mencapai harapan, bersyukurlah karena kita diberi keinginan untuk mewujudkannya. Tumbuhkanlah selalu nasihat seorang khalifah yang gagah berani, Umar bin Khatab. “Jika memang itu untukku maka ia tidak akan melewatkanku. Jika ia melawatkanku maka ia bukan untukku.”

Just for your information gengs, al-Huda dan asy-Syifa adalah nama lain dari al-Quran, way of life yang kita miliki.

Oleh: Adetia Siti Nurmaluloh

Kamis, 07 September 2017

Aku

Aku adalah ruh yang tidak dikenal, berbaur dengan ruh lain di alam yang juga kau tidak ketahui. Satu-persatu diantara kami mulai berkelan menuju alam lain. Alam itu sangat kokoh, walaupun tidak menjamin kenyamanan kami selama berada di sana. Mungkin suatu waktu akan tiba giliranku, tapi aku takut. Kalaulah aku tak lebih takut ketika aku berhadapan dengan Raja dari semua Raja, aku hendak protes tak terima. Cukuplah aku di sini, di tempat indah dengan belaian kasih sayang yang menentramkan.

Benar saja, kini giliranku untuk berkelana, aku masih takut, aku tak membawa apapun kecuali anugerah-Nya. Bagaimanakan tempatku nanti, nyaman atau sebaliknya? Aku takut. Ketika takut itulah bisikan terdengar kuat untuk meyakinkan. "Tak usah risau, tak perlu kau takut, kau tetap dalam genggaman-Ku." Ya aku tak perlu takut. Aku akan bersatu dengan seorang pemenang dari ribuan kekalahan. Aku akan hadir sebagai pemenang. Kemudian kembali terdengar, "Kau tak akan sendiri, akan Aku hadirkan sosok malaikat yang akan menjagamu, dua malaikat yang akan menjadi pintu surga bagimu."

Benarkah itu? Aku mulai dipenuhi angan dan harap, tak sabar rasanya melihat kedua malaikatku. Apapun yang terjadi aku harus bertahan di tempat kokoh itu. Bertransformasi menuju alam yang baru, aku mengambil sumpah pada Tuhanku, Allah Tuhanku. Hei tempat ini sangat nyaman. Lantunan suara serak yang merdu itu sangat indah, setiap hari tak bosannya suara ini terdengar di alam kokohku. Apakah itu suara malaikatku? Aku semakin riang ingin sekali berjumpa dengannya. Tuhanku berakata akan mengimku dua malaikat, mana suara malaikatku yang satu lagi?

Ketika aku bergumam sendiri, dengarlah! Ada yang mengajaku bicara. Sentuhannya terasa begitu hangat, suaranya ini suara yang berbeda, bukan suara serak merdu nan lembut itu. Karakter suara ini kuat, penuh kasih sayang dan naungan. Mungkinkah ini juga suara maiakatku? Ya, tidak salah lagi, waah! betapa beruntungnya aku.

Inilah aku, aku tidak lagi ketakutan. Tempatku nyaman, malaikatku senantisa menjagaku, bahkan aku selalu diutamakan dari sekian prioritas orang-orang yang berada di alam luar. Menakjubkan. Aku sangat nyaman. Lagi-lagi, Tuahanku tak menghendaki aku untuk menetap disini. Aku harus kembali berpindah untuk melaksanakan tugas yang telah diemban oleh pendahuluku. Kini aku bertanya kepada Tuhanku, mengapa aku harus keluar dari tempat yang nyaman ini, untuk keluarnya saja aku harus berjuang segenap tenaga, apalagi aku harus mendengar malaikatku begitu kesakitan dan harus mempertaruhkan dirinya untukku, aku tak kuasa.

Aku tidak mengerti, mengapa Tuhanku memperlakukanku seperti itu. Itu saat aku belum tahu hikmah mengapa aku harus keluar dari alam tersebut. Tuhanku kemudian berkata dengan takjimnya, "Kau harus keluar dari sini, kau tidak akan tahu betapa indahnya ciptaan-Ku ketika kau terus disii dengan kenyemanan itu. Apabila sekarang kau tak tahan dengan rasa sakit malaikatmu, maka kau sejatinya harus keluar memberikan kebahgian tak terhingga dengan tangisan pertamamu." Ya, aku ingin sekali meliat kebahagiaan malaikatku secara langsung. Aku pun berjuang bersama dengan malaikatku.

Hari pertama ketika kakiku mulai berpindah alam, disusul bagian tubuh yang lain, aku menangis kencang diantara haru bahagia orang sekitar. Aku menjadi satu-satunya orang yang menangis ketika yang lain tersenyum.

Benarlah kiranya apa yang terdengar olehku, begitu indah ciptaan Tuhanku. Kali ini aku sadar, mengapa aku berpindah alam. Tuhanku hendak mengajarkan aku berproses di alam persinggahan. Aku tidak boleh menetap dan nyaman juga di alam ini. Aku cukup tahu bahwa alam inipun hanya sementara. Alam yang mereka namakan dunia ini adalah satu rangkaian perjalanan seperti dua alam yang telah aku lalui. Hidup di dunia ini hanya akan menyampaikanku pada tujuan dari perjalanan panjang ini. Tujuanku masih jauh di depan sana, setelah kehidupan dunia ini pastilah ada alam lain sebelum aku benar-benar sampai pada tujuan.

Orang-orang kini memanggilku dengan panggilan Adet. Ya, setelah tujuh hari aku menghirup oksigen bumi kedua malaikatku memberiku nama Adetia Siti Nurmaluloh, dengan harapan kelak aku akan menjadi Harta Allah bagi mereka. Tak ubahnya aku seperti kebanyakan aku yang lain, adalah anak Adam di generasi kesekian yang terkadang kelilipan kilaunya bumi peristirahatan dalam rangka rehat dari sebuah perjalanan.

Waktu dunia singkat saja. Itulah rentang waktuku untuk membahagiakan kedua malaikatku. Sederhana saja, keduanya tidak memiliki sayap seperi kisah negeri dogeng pengantar tidur yang digemari. Malaikat ayu nan teduh itu adalah Ibu, sorot matanya menyampaikan pesan cinta yang begitu nyata, terkadang penuh kekhawatiran pula karena ulahku yang menjadi anaknya. Suaranya pagi, siang, sore, tidak pernah bosan mengingatkan ini itu untuk mengajarkanku yang baru seujung kuku menyelam dalam lautan garam kehidupan. Begitupun dengan malaikatku yang satu lagi, orang memanggilnnya Ayah. Garis wajahnya terlihat tegar, memancarkan ketampanan penuh karisma kewibawaan. Sorot matanya memancarkan kekuatan dan kedamaian. Aku dapat merasakan kembali belaian Tuhanku melalui tangan mereka, orang tuaku.

Mereka menjagaku siang malam, begitupun kelak ketika mereka mulai lelah. Mereka mengasihiku tanpa batas waktu, begitupun yang ingin aku berikan untuk keduanya. Mereka senantiasa mendekapku dalam kehangatan, begitupun harapku ketika mereka mulai kedinginan. Mereka membukakan begitu banyak kesempatan hidup yang belum mereka rasakan, pun aku yang ingin membuka lebar harapan mereka yang hendak dicapai.

Seperti apa yang dikatakan oleh penulis favotitku, hidup ini tentang menunggu, menunggu sampai kapan kau akan berhenti menunggu. Aku sedang meunggu, menunggu kapan Tuhanku akan kembali memindahkan kehidupanku pada alam selanjutnya. Satu pelajaran yang aku ingat dari pengalaman lalu, ketika aku takut untuk berpindah dari alam yang kokoh. Aku harus keluar dari alamku, selain memang itu adalah bagian hidupku akupun harus melihat dunia selanjutnya lagi dan lagi sampai tak ada lagi. Aku tak akan pernah tahu indahnya alam dunia ketika aku bersikeras dalam alam sebelumnya. Begitupun ketika aku bersikeras dengan alam dunia, aku tidak akan pernah tahu bagaimana indahnya alam dari alam pemisah, alam yang abadi. Tak perlu lagi aku takut, karena itu adalah sebuah keniscayaan, yang aku takutkan sekarang adalah tentang apa yang akan aku bawa untuk melanjutkan kehidupanku di alam sana.

Banyak makhluk bernama manusia yang terperdaya dengan kehidupan dunia. Padahal jelas kiranya firman Allah, tak ada ragu apalagi kebohongan bahwa dunia ini hanyalah perhiasan yang memerdaya, berikut terjemah yang mudah-mudahan benar dalam mengartikan firman-Nya.

"Setiap yang bernyawa pasti aakan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukan kedalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Ali-Imran [3]: 185)

"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permaian dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yag tanaman-tanamannya mengagumkan petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunandari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hayalah kesenangan yang palsu." (QS. al-Hadid [57]: 20)