Senin, 26 Maret 2018

Tentang Kita

By. Adet

Hai, selamat malam. Mungkin di daerahmu tepat ketika kau membaca kisahku adalah saat matahri mulai menjejakan diri di kaki cakrawala, atau raja siang tenggah bertengger di atas takhta, atau mungkin mentari mulai merah merona bersiap kembali keperaduan. Tapi bagiku waktuku adalah malam, waktu sunyi dengan bintang yang seperti permata sengaja ditaburkan, satu hari melelahkan telah kita selesaikan, waktu yang tepat untuk evaluasi dan perencanaan untuk hari esok yang akan atau mungkin datang. Aku bukan Tegar sosok lelaki yang dihadirkan bang Tere dengan kegemarannya akan pagi, atau Rosie yang sangat menyukai sunset sore hari.

Malam memang gelap, tapi dalam gelapnya aku tahu ada cahaya. Malam memang dingin, karenanya aku tahu berharganya kehangatan. Malam terlihat suram, saat itulah aku selalu mengagumi kerlip bintang yang beragam. Malam selalu mengundang rasa pengap yang menghimpit rasa karenanya kita ingin berlapang mengikhlaskan, tarikan-tarikan nafas tertahan terasa menyakitkat yang dengannya kita berusaha tetap bertahan, teriakan keputus asaan saat mengeng yang membuat kita sadar untuk berjuang. Itulah malam bagiku. Ya, bagiku. Lagi-lagi tentang malam. Kesunyiannya membuatku mudah berbicara, kesendirian di tengah-tengahnya aku dapat merasakan diriku yang seharian berdramaturgi. Aku seolah dapat melihat diriku di cermin Tarsah Harry Potter. Entah diri mana yang sejatinya, namun malam bercerita bahwa aku harus mempersiapkan hari esok yang mungkin akan aku lewatkan.

Malam yang kumiliki hadir dan menghadirkan cerita yang berbeda. Malam yang mengundang sesal, malam yang penuh kegembiraan, malam dengan isak tangis memilukan, malam dengan kesendirian yang menyendiri, dengan kermaian yang diramaikan, malam dengan cinta dan buai rindu kasih sayang. Parit pipi terasa mudah mengalir karena malam, entah membawa hangat rasa senang atau kepiluan. Satu malam yang hendak aku ceritakan, malam dingin yang terasa panas oleh buncahnya kegirangan, malam gelap yang mendadak gemerlap dengan bintang di hati yang berjatuhan, setiap runcing sudutnya merobek buntalan bunga cinta yang bermekaran, satu malam yang karenanya aku gelagap senang, satu malam yang berlanjut hingga sekarang.

**
“Dari mana aku memulainya? Malam bukan hanya satu jam, apalagi malam itu. Malam yang terasa lebih lama dari biasanya. Tapi terlalu banyak jika memulai dari sana, baiklah akan aku mulai dengan denting satu pesan singkat itu.” Aku terlibat percakapan monolog saat memulai kisah ini.
Singgkat saja isi dari pesan itu, hanya bertuliskan beberapa kata yang diakhiri tanda tanya, “Gimana kalo aku memiliki perasaan padamu?” hanya itu, tapi cukuplah sudah untuk mengawali kisah bersama. Ruang kamar sederhana yang tidak terlalu sempit terasa pengap dengan gempita rasa yang entah apalah  namanya, aku baru merasakannya. Bukan karena isi pesan, mungkin saja aku berkali-kali mendapatkannya tanpa aku mengingat-ingat. Tapi karena dia, karena dirinya yang menghadirkan diri dengan cara yang sama sekali berbeda. Karena dia, karena dirinya.
“Ngomong apa si Det? Dia, dirinya, siapa?” teman kosan yang menjadi tuan rumah kali ini tidak lain adalah sahabatku. Selaannya diantara monologku menyadarkanku bahwa aku hanya menyebutnya sebagai dia, sebagai dirinya yang belum aku perkenalkan siapa.
“Dia, ya dirinya, hee.” Lagi-lagi hanya itu dengan sedikit sipuan senyum yang terlihat seperti orang yang baru saja menyadari keterpelesetannya. Aku bingung sendiri, terkadang aku juga bertanya siapa dia tapi sebenarnya aku tahu dia.
“Ah begini saja. Simpelnya dia adalah someone-nya aku.” Pikirku kemudian yang terucap.
“Wah, ternyata kau?”
“Eemh,, mau dilanjutin gak nih?” aku segera memotong ucapan kawanku itu sebelum menjadi-jadi dengan suaranya yang seperti toa masjid sedang pengumuman.
“Hee, aku hanya terkejut saja. Akhirnya tanpa aku observasi lebih lanjut, kau menceritakannya juga. Ayolah ceritakan.” Dia tersenyum kegirangan. Persis seperti anak kecil yang mendengar kabar bahwa ayahnya akan segera datang dengan oleh-oleh ditenteng tangan.
“Singkatnya dia itu salah satu orang yang entah harus kusebut siapa, yang jelas dia adalah kakak kelasku yang juga masuk pada list nomor orang-orang yang menghubungiku.” Jelasku dengan sedikit mengintip lembaran masa silam. Lenggang yang cukup lama, sebelum desakan temanku yang lagi-lagi mengusikku saat hendak masuk lebih dalam pada kisah tersebut.
Aku ingin sekali menimpuk kepalanya dengan guling yang ada di pinggirku. Tidakah dia memberiku keleluasaan untuk bercerita sambil mengenang? Tapi itulah kawanku, ditidak-tidak nyatanya aku asik juga dengan tingkah jahil, kepo, dan ketidaksabarannya. Aku kembali bercerita, seperti kaset rusak karena banyak terpotong di sana-sini.
Jadi dia itu siapa? Mungkin hari ini aku menjawabnya demikian, namun lain cerita jika aku bercerita kemudian. Untuk mengenal seseorang bukan hanya tentang seberapa banyak aku mengetahui hal-hal yang berkaitan dengannya, bukan pula hanya sebatas betapa intensnya aku bertukar kabar satu sama lain, juga bukan hanya tentang berapa lamanya aku bersama. Seseorang nyatanya lebih rumit daripada susunan kimia, logika matematika, atau isyarat-isyarat fisika. Dalamnya kepribadian seseorang tidak bisa diukur dengan sonar seperti palung terdalam samudera, lebih tidak terprediksi dibanding tenangnya hamparan biru air tak bertuan. Untunglah cerita tentangnya bukan undang-undang negara. Jika iya, mungkin aku akan melakukan amandemen yang melelahkan, merevisi semua ketidak sesuaian.
Aku mengenalnya hanya sebatas itu, sebatas dia, sebatas dirinya. Kisah ini adalah  kisahku dengannya, satu kisah tentang kita. Ini suaraku, bukan Milea yang menyuarakan Dilan, bukan pula Salma dan Nathan. Aku tak lain adalah pribadi yang tentunya berbeda, dia tidak lain adalah pribadi yang baru aku mengenanya, hanya kita yang yang sama, sama menanti, sama menjaga, satu kata yang terpaut dalam semoga.

Minggu, 18 Maret 2018

ON!










On!
By. Adet

Selamat malam, mungkin ketika kamu membaca catatan ini hari menjelang terik, atau mentari baru mengintip ufuk Timur tempatnya terbit, atau mega merah tengah merona di garis cakrawala, tapi aku ingin menyapa kalian dengan selamat malam. Karena ketika malam aku bercerita pada seluet diri walau hanyan pendar, saat gelap malam menyelimuti hari aku dapat melihat apa yang tidak terlihat karena tahta sang surya. Pada saat sinarnya menyilaukan aku tak dapat melihat indahnya bintang, berbeda dengan gelapnya malam dengan atau tanpa lengkungan sabit yang elok walau hanya biasan.
On! Sekarang mode diriku aku on-kan, on untuk kembali menemukan yang sempat hilang, on untuk kewajibanku pada-Nya, on untuk hak mereka yang ada padaku untuk dituntaskan, on kembali untuk setiap abjad yang akan menyusun rangkai kata kemudian menjelma kalimat yang memenuhi paragraf.
Aku ingin dirindu, aku ingin ada yang menunggu. Sejenak aku berpikir, layakkah aku untuk keinginan itu? Mana mungkin aku layak ketika aku tidak hidup dalam imaji mereka, dalam dunia mereka, dalam kebutuhan mereka, dan untuk sekarang aku ingin benar-benar hidup. Bagaimana aku akan hidup ketika aku sendiri hanya seonggok daging yang berjalan di atas bumi bernaung atmosfer nan biru dengan sapuan tipis awan yang berarak atau gelap dengan kelip permata nun jauh di alam raya. aku harus menghidupkan diri dengan daya hidup yang aku miliki, kini aku siap untuk menghidupkan diri sehingga aku benar-benar hidup dalam dunia sosial dan pribadi. Kurasa hanya dengan itu aku dirindu dan aku ditunggu. Mode ON aku aktifkan.
Hari ini aku aktifasi mode ON dari sebuah pertanyaan yang muncul di layar touch screen kecil dengan notifikasi setelan yang dikhususkan, “Kemana aja Det, kamu menghilang bagai ditelan bumi tanpa sedikitpun kabar.” Aku tahu itu bukan pertanyaan, aku balas dengan sebuah pernyataan, “Aku ditelan bumi saat kucoba menghentakan kaki ingin melejit jauh ke langit.” Apakah benar begitu adanya? Kurasa iya.
Dua pekan yang telah lalu aku terlibat dalam perumusan rencana untuk satu tahun mendatang. Banyak keinginan yang ingin aku wujudkan bersama mereka. Planing telah tersusun, gagasan muncul tak terbendung, konsep acara telah mengepung ruang diskusi yang ada dalam laci kecil di alam pikir. Apa daya ketika perangkatku mulai meminta haknya untuk berhenti, aku tahu dia kelelahan atas semua intruksi yang aku berikan.  Aku tidak tinggal diam, tapi aku sama sekali jauh dari kata maksimal. Jangankan merilisnya satu persatu, satu pun dari banyak planing tidak bisa aku sampaikan, semakin berkurang saja kontribusi yang bisa aku berikan.
Fakta diamnya aku tidak dapat disembunyikan, api aku belum menemukan cara untuk muncul kepermukaan. Setelah aku berpikir kenapa, ternyata aku masih terjebak dalam ruang isolasi yang berjeruji kalimat negatif yang aku hiraukan. Ok, baiklah. Aku tidak akan menyerah. Aku singkapkan semua belukar kata yang bernuansa negatif menjadi pupuk bagi tanah dimana aku ingin tumbuh. Aku rekontruksi semua kata dalam linguistic intelegent yang ada padaku, aku tanamkan satu benih kalimat yang berbunyi, “Change your word, you’ll change your world.” Akan aku mulai saat ini juga, akan aku awali dari diriku, akan aku gunakan apa yang dititipkan-Nya padaku. Aku siap untuk menjadi pribadi yang baru. Akan aku ubah perkataanku yang menyebutkan, “Aku merasa kurang dalam melakukan ini, ini, ini, dan ini.” Menjadi kalimat yang lebih cantik, “Aku akan mengoptimalkan ini, ini, ini, dan ini.”
Selain belukar kata negatif, aku juga harus membabat habis kanopi besar makna negatif seperti karbondioksida dalam menyikapi semua fenomena. Aku akan menyiangi kanopi yang tumbuh besar itu. Bukan, bukan dengan cara aku benar-benar mengakhiri pertumbuhannya, melainkan akan aku tumbuhkan lebih besar lagi, lebih lebat lagi pohon kehidupan berkanopi makna poitif yang akan berfotosintesis layaknya oksigen di udara. Ya, tidak ada satupun yang layak untuk melegitimasi kehidupan hanya dalam satu makna, tidak ada yang berhak. Hidup memiliki berbagai makna, kita akan tahu apa saja makna tersebut ketika kita mau melungkan sedikit waktu untuk lebih tahu.
Ketika aku seakan menghilang ditelan bumi saat harus mengalir di permukaan, saat aku menghentakan kaki karena ingin melejit jauh ke langit, tidak layak aku mengumpat, tidak pantas aku membenci, bukankah aku akan kembali bertunas? Aku akan berkecambah, kemudian perlahan tumbuh hingga pucuk tertinggiku menyentuh langit yang membiru, menyentuh langit dengan taburan kerlip yang bembisu.