By. Adet
Hai, selamat malam. Mungkin di daerahmu tepat ketika kau membaca kisahku adalah saat matahri mulai menjejakan diri di kaki cakrawala, atau raja siang tenggah bertengger di atas takhta, atau mungkin mentari mulai merah merona bersiap kembali keperaduan. Tapi bagiku waktuku adalah malam, waktu sunyi dengan bintang yang seperti permata sengaja ditaburkan, satu hari melelahkan telah kita selesaikan, waktu yang tepat untuk evaluasi dan perencanaan untuk hari esok yang akan atau mungkin datang. Aku bukan Tegar sosok lelaki yang dihadirkan bang Tere dengan kegemarannya akan pagi, atau Rosie yang sangat menyukai sunset sore hari.
Malam memang gelap, tapi dalam gelapnya aku tahu ada cahaya. Malam memang dingin, karenanya aku tahu berharganya kehangatan. Malam terlihat suram, saat itulah aku selalu mengagumi kerlip bintang yang beragam. Malam selalu mengundang rasa pengap yang menghimpit rasa karenanya kita ingin berlapang mengikhlaskan, tarikan-tarikan nafas tertahan terasa menyakitkat yang dengannya kita berusaha tetap bertahan, teriakan keputus asaan saat mengeng yang membuat kita sadar untuk berjuang. Itulah malam bagiku. Ya, bagiku. Lagi-lagi tentang malam. Kesunyiannya membuatku mudah berbicara, kesendirian di tengah-tengahnya aku dapat merasakan diriku yang seharian berdramaturgi. Aku seolah dapat melihat diriku di cermin Tarsah Harry Potter. Entah diri mana yang sejatinya, namun malam bercerita bahwa aku harus mempersiapkan hari esok yang mungkin akan aku lewatkan.
Malam yang kumiliki hadir dan menghadirkan cerita yang berbeda. Malam yang mengundang sesal, malam yang penuh kegembiraan, malam dengan isak tangis memilukan, malam dengan kesendirian yang menyendiri, dengan kermaian yang diramaikan, malam dengan cinta dan buai rindu kasih sayang. Parit pipi terasa mudah mengalir karena malam, entah membawa hangat rasa senang atau kepiluan. Satu malam yang hendak aku ceritakan, malam dingin yang terasa panas oleh buncahnya kegirangan, malam gelap yang mendadak gemerlap dengan bintang di hati yang berjatuhan, setiap runcing sudutnya merobek buntalan bunga cinta yang bermekaran, satu malam yang karenanya aku gelagap senang, satu malam yang berlanjut hingga sekarang.
**
“Dari mana aku memulainya? Malam bukan hanya satu jam, apalagi malam itu. Malam yang terasa lebih lama dari biasanya. Tapi terlalu banyak jika memulai dari sana, baiklah akan aku mulai dengan denting satu pesan singkat itu.” Aku terlibat percakapan monolog saat memulai kisah ini.
Singgkat saja isi dari pesan itu, hanya bertuliskan beberapa kata yang diakhiri tanda tanya, “Gimana kalo aku memiliki perasaan padamu?” hanya itu, tapi cukuplah sudah untuk mengawali kisah bersama. Ruang kamar sederhana yang tidak terlalu sempit terasa pengap dengan gempita rasa yang entah apalah namanya, aku baru merasakannya. Bukan karena isi pesan, mungkin saja aku berkali-kali mendapatkannya tanpa aku mengingat-ingat. Tapi karena dia, karena dirinya yang menghadirkan diri dengan cara yang sama sekali berbeda. Karena dia, karena dirinya.
“Ngomong apa si Det? Dia, dirinya, siapa?” teman kosan yang menjadi tuan rumah kali ini tidak lain adalah sahabatku. Selaannya diantara monologku menyadarkanku bahwa aku hanya menyebutnya sebagai dia, sebagai dirinya yang belum aku perkenalkan siapa.
“Dia, ya dirinya, hee.” Lagi-lagi hanya itu dengan sedikit sipuan senyum yang terlihat seperti orang yang baru saja menyadari keterpelesetannya. Aku bingung sendiri, terkadang aku juga bertanya siapa dia tapi sebenarnya aku tahu dia.
“Ah begini saja. Simpelnya dia adalah someone-nya aku.” Pikirku kemudian yang terucap.
“Wah, ternyata kau?”
“Eemh,, mau dilanjutin gak nih?” aku segera memotong ucapan kawanku itu sebelum menjadi-jadi dengan suaranya yang seperti toa masjid sedang pengumuman.
“Hee, aku hanya terkejut saja. Akhirnya tanpa aku observasi lebih lanjut, kau menceritakannya juga. Ayolah ceritakan.” Dia tersenyum kegirangan. Persis seperti anak kecil yang mendengar kabar bahwa ayahnya akan segera datang dengan oleh-oleh ditenteng tangan.
“Singkatnya dia itu salah satu orang yang entah harus kusebut siapa, yang jelas dia adalah kakak kelasku yang juga masuk pada list nomor orang-orang yang menghubungiku.” Jelasku dengan sedikit mengintip lembaran masa silam. Lenggang yang cukup lama, sebelum desakan temanku yang lagi-lagi mengusikku saat hendak masuk lebih dalam pada kisah tersebut.
Aku ingin sekali menimpuk kepalanya dengan guling yang ada di pinggirku. Tidakah dia memberiku keleluasaan untuk bercerita sambil mengenang? Tapi itulah kawanku, ditidak-tidak nyatanya aku asik juga dengan tingkah jahil, kepo, dan ketidaksabarannya. Aku kembali bercerita, seperti kaset rusak karena banyak terpotong di sana-sini.
Jadi dia itu siapa? Mungkin hari ini aku menjawabnya demikian, namun lain cerita jika aku bercerita kemudian. Untuk mengenal seseorang bukan hanya tentang seberapa banyak aku mengetahui hal-hal yang berkaitan dengannya, bukan pula hanya sebatas betapa intensnya aku bertukar kabar satu sama lain, juga bukan hanya tentang berapa lamanya aku bersama. Seseorang nyatanya lebih rumit daripada susunan kimia, logika matematika, atau isyarat-isyarat fisika. Dalamnya kepribadian seseorang tidak bisa diukur dengan sonar seperti palung terdalam samudera, lebih tidak terprediksi dibanding tenangnya hamparan biru air tak bertuan. Untunglah cerita tentangnya bukan undang-undang negara. Jika iya, mungkin aku akan melakukan amandemen yang melelahkan, merevisi semua ketidak sesuaian.
Aku mengenalnya hanya sebatas itu, sebatas dia, sebatas dirinya. Kisah ini adalah kisahku dengannya, satu kisah tentang kita. Ini suaraku, bukan Milea yang menyuarakan Dilan, bukan pula Salma dan Nathan. Aku tak lain adalah pribadi yang tentunya berbeda, dia tidak lain adalah pribadi yang baru aku mengenanya, hanya kita yang yang sama, sama menanti, sama menjaga, satu kata yang terpaut dalam semoga.
