Sabtu, 22 Juli 2017

Tentang Kita

#Bagian Kedua: The Call

Berkabar sekedar menanyakan kabar juga berlangsung ketika hari libur. Pulang ke rumah hand phone dalam genggaman. Tak ada lagi kurir dan tidak lagi menunggu lipatan 24 jam. Dengan kurir operator, tak payah menuliskan salam pembuka, isi, dan penutupan.

Mungkin agak sedikit berbeda. Jika dengan surat tulisanku dapat memenuhi satu, dua halaman penuh, sentuhan keyboard hanya menyentuh beberapa huruf yang menjadi kata atau kalimat balasan atas pertanyaan maupun pernyataan, begitu singkat. Terkadang hanya menjawab tanpa balik bertanya untuk kelangsungan berkirim pesan atau hanya ber-oh saja.

Bukan so atau apa, begitulah aku, tetlebih kepada orang yang masih "baru". Singkatnya balasan yang kukirim juga karena aku tidak tahu apa yang harus aku enter di keyboard, kecut dan kaku. Aku tak pandai mencerecau "basa-basi" lebih relax.

Kenapa aku mengatakan bahwa dia berbeda dari kebanyakan? karena ada banyak bandingan yang juga datang. Ketika yang lain hanya sibuk "pedekate", telpon dialah yang membedakannya. Malam dingin seperti biasa dengan udara pegunungan yang menusuk tulang, aku berkeringat "kepanasan" karena sebuah panggilan. Come on, aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Sensasi itu belum aku kenal, perasaan seperti itupun aku masih awam, hingga lama kemudian aku memahaminya.

Apa aku nervouse? mungkin iya. Apa aku gugup? bisa jadi benar. Apa aku salting? ah, kalaulah ngobrol face to face aku mati kutu sepertinya. Obrolan itu ringan saja, diawali salam, bertanya kabar, aktivitas, pertanyaan kenapa, dan pernyataan atas pertanyaan, hanya itu. Tapi dering telpon tersebut tidak sesimpel "hanya itu". Pertanyaan dia mengharuskan aku untuk menjawab secara definitif, deskriptif, bahkan naratif. Ketahuilah, under process dari "anti sosial" yang aku miliki tidak menjadikannya mudah hanya dengan aku berkata "biasa saja". Dari sanalah, aku belajar untuk "berbicara" mengungkapkan. Yang hingga saat ini 2017 aku masih belajar mengekspresikan diri.

Bagaimana telpon itu benyak membawa perubahan, perubahan pada pesan yang dikirmkannya kemudian. Pada malam tanggal 25 Desember 2012 dia mengirim pesan pendek. Pendek saja pesannya, "kalo a ilham punya perasaan ke adet gimana?" aku sampai bolak-balik membaca pesan pendek itu yang terasa panjang karena terus diulang. Tentulah aku senang, senang sekali. Serasa mimpi, ketika seseorang yang aku kagumi menghampiri hati, betapa beruntungnya aku karena ini bukan mimpi. Tetaplah menjadi someone yang aku kagumi.

***

Tulisan ini juga tidak serta merta produktivitas waktu senggang mengisi liburan, tulisan ini adalah ekspresi diri ketika kata tersangkut dikerongkongan dan tersedak saat hendak diucapkan. Ini adalah suaraku yang tak akan lekam dimakan waktu, persembahan bagi 1001 kisah asmara yang ada di dunia.

Walau rancu, tulisan inilah yang akan menjaga puzzel memori dari sisiku. Malam hangat yang kontras dengan udara over sejuk di luar, aku kembali memonitori layar screen, kembali menelusuri peta kisahku.

Panggilan telpon tersebut menjadikanku santai, tak lagi sibuk membalas pesan di kotak masuk. Panggilan telpon itu pula yang membuat aku stres. Baru tahu kenapa jerawat disebut juga bisul asmara, karena memang stres memikirkannya, haha.

Aku mulai mengakrabkan diri dengan kata menunggu. Bagaimana tidak, dari awal perjalanan ini adalah tentang menunggu. Jika di sekolah aku menunggu kurir kapan menemuiku dengan tangan yang tak lagi hampa tanpa surat, di rumah pun aku menunggu, menunggu kapan smsku akan dibalas. Tepat 30 menit selang waktu aku menunggu pesan singkat tersebut, bahkan bisa lebih dari itu. Tak jarang aku lupa bahwa aku sedang menunggu, hingga beberapa jam berikutnya baru aku kembali berjibaku dengan menunggu.

Apa aku jatuh cinta? ah, enggan aku jatuh cinta. Yang namanya jatuh itu sakit, walaupun dengan embel-embel cinta tetap saja jatuh. Apa aku sedang membangun cinta? nah, bisa jadi aku tengah membangun imperium megah itu dalam sejarah hidupku.

***

"Teh abon, tadi malem a ilham nelpon." keesokan harinya aku berkirim pesan dengan kakak kelasku--ade bondan--yang memang sudah tahu dari awal, entah dari mana. Mungkin hasil translatenya melihat gelagatku yang kemudian disusunkan di atas papan puzzel gosip dari telinga ke telinga.
"Wah, gimana aja tuh?" balasnya singkat, yang berbanding terbalik dengan balasanku selanjutnya. Menceritakan percakapan kami--yang sekarang tak lagi aku mengingatnya--.
"Wih, terus gimana neng?" tanyannya kemudian. lagi-lagi tidak berbanding lurus dengan pesanku yang memenuhi beberapa slide di screen ponsel.
"Debak! sok lah neng, aku percaya kalo sama dia." jeng-jeng, pesanku ringan dibalasnya dengan singkat kata saja.

Perpesanan segera terpenuhi oleh percakapan aku dan kakak kelasku. Dia? entahlah. Aku tidak akan mengawali dalam hal berkirim pesan. Jika ada pesan darinya, aku akan membalasnya. Jika tidak ada pesan, ya aku tidak akan menghubunginya kalau bukan urusan yang penting dan mendesak, sehingga aku memiliki alasan untuk memuali perpesanan.

Kenapa gitu? apa aku saking gengsinya mengawali kabar? ah tidak juga, aku hanya selalu terjebak. Terjebak dalam polemik persepsiku sendiri. Bagaimana jika pesanku malah mengganggu harinya? bagaimana jika pesanku tidak dibalas olehnya? bagaimana pendapatnya jika aku ternyata mengirim pesan duluan? apakah dia akan risih? dan banyak lagi persepsi lainnya. Tidak heran jika aku selalu bersedia untuk menunggu karena aku tidak memiliki keberanian untuk memulai.

***

Telpon..
Apa kau sibuk?
Bolehkah aku menelpon?
tut, tut, tut, tut, panggilan tersambung..
Ketika hand phone berdering memunculkan namanya..
Entah mengapa aku senang hati menerimanya..
Hallo...? sapanya daridsebrang sana..
Apa yang akan aku katakan? berbalas hallo??
Ada apa ini? mengapa ada getaran disuaraku??
Malam dingin pegunungan, tapi aku berpeluh tertahan..
Menahan rasa yang hendak buncah seketika.. Ini kali pertama..
Mengapa? aku menjawabnya karena..
Bagaimana?? aku menjawabnya seperti ini, itu, dan begini..
Aku berkata jika ditanya, diam menunggu atau balik bertanya..
Hanya itu,, tapi betapa kapiran kurasa urusan ini..
Lihatlah, kemudian aku menerima pesan..
Sebuah pesan pertanyaan, yang kutumpali pernyataan..
Semua berubah ketika itu, ada hal asing yang tumbuh..
Sesak memenuhi harap akan hari-hari mendatang..
Terus bersemayam hingga kini, setengah dekade pertumbuhannya..
Aku mengenal apa itu rasa, bagaimana itu cinta, yang terpaut berbagai asa..
Terimakasih untuk kesempatan hebat ini..
Kesempatan untuk mengenalmu,,
Kesempatan berharap untuk senantiasa bersamamu..

***

Libur telah usai, aku kembali ke tanah rantau.  Kembali berjibaku dengan aktivitas sekolah. Banyak lagi hal yang berubah sekarang. Hariku mulai dipenuhi banyak kicauan, riuh rendah mengiang di telinga. Sumbernya tentu bukan dari kelasku. Jelas, kelasku hanya dihuni tujuh orang. Kicauan tersebut buming di kelas dia, yang cepat merembet kelas kiri, kanan di sampingnya. Ada saja celetukan-celetukan saat aku melewati kerumunan. Dari sanalah aku belajar berjalan cepat, agar segera berlalu meninggalkan kicau yang memekakan. Apa yang tak ingin aku tampakkan, entah bagaimana sekarang menjadi konsumsi publik.

Tahukahkau bagaimana cara aku berjalan? aku berjalan seperti dikejar setan, tatapan lurus ke depan atau menunduk dalam-dalam menyembunyikan rona muka, kaki kulangkahkan secepat yang kubisa, tak ada senyum, tak ada gurau. Itu ketika aku tahu akan melewati kerumunan mereka--teman laki-laki sekelas dia--, jika berjalan bisa ya santai saja. Saling melempar candang dengan kawan sejalan.

Jika aku datang terlambat, sumpah, malas rasanya. Bukan malas sekolahnya, aku malas mendengar sahutan mereka, sialnya lagi mereka seakan berkerumun seperti "penjaga gerbang", jadi bagaimalah aku bisa menghindar. Kalupun aku berhasil melewati gerbang, mereka seperti sengaja ongkang-ongkang kaki menunggu mangsa berderet di tangga menuju kelas atas.

Dalam sekejap mereka bisa bertransformasi menjadi komposer musik "papan penggilesan" ketika melempar canda menggoda rekan kelasnya itu. Sound track filem animasi favorit semua kalangan warga Indonesi dengan riangnya mereka resing dengan lirik berbeda, sound track Doraemon.
"la la la, Ilham sayang sekali,, Adetia."
Aduh, mukaku merah seperti tomat. Betapa girangnya mereka saat bernyanyi "menyambut" langkahku meniti tangga kelas.

***

Kenangan itu selalu sukses membuatku merekahkan senyum saat mengingatnya. Benarlah pepetah lama itu, setiap hal sekalipun itu sangat menyebalkan jika kau merangkulnya dengan bahagia maka kau akan tersenyum saat mengingatnya.

Pada suatu kesempatan, dia juga pernah menyampaikan hal serupa. "tak apa lah mereka--teman kelasnya-- seperti itu, nanti kalau a ilham sudah keluar, kelakuan mereka akan terkenang dan dirindukan." Ternya benar, aku merindukannya.

***

Aku tersenyum saatku tak tampak olehmu,,
Aku melihatmu saat aku tak ada dalam sapuan pandangmu..
Kusembunyikan senyumku saat kau bersama mereka,,
Aku tak ingin terlihat, karena aku ingin melihatmu..
Dalam persembunyian, aku menatapmu..
Curi-curi pandang rupanya aku..

To be continue...

Rabu, 19 Juli 2017

Tentang Kita

#Bagian Kesatu: Kurir Cinta

sendiri. menyendiri dari keramaian. pintu kamar tertutup rapat dari hingar bingar hiburan. menilik jam di pergelangan tangan, jarum jam menunjukan waktu yang belum terlalu malam, namun sudah lerlampau petang. aku tersenyum, mengingat "masa muda" yang segar dalam ingatan.
***

ruang kelas--yang tidak cukup besar untuk tujuh orang siswa yang tengah bermetamorfosis mengenal "dunia baru"--terasa sunyi dibanding kelas lainnya yang gaduh. ruang kelas tidak terdaftar angka sebagaimana kelas lazimnya. kelas persiapan. kelas ini adalah wajah baru dari kantor yang dialih fungsikan menjadi ruang belajar.

ruangan itu menghadap langsung tiga lapangan dalam satu lahan. lapangan footsall, basket, dan vollyball, saling melintang dan berpotongan dengan garis warna yang berbeda. pohon rindang yang terlihat lenggang tampak menghijau di antara barisan bohon pinggir lapang, berfotosintesis dengan sinar mentari yang hangatkan pagi.

ruangan ini sunyi, seharfiah maknanya. aku dan enam rekan lainnya mulai sibuk dengan dunia masing-masing, tenggelam dalam pemikiran yang berbeda. sunyinya ruangan ini terkadang tak sesunyi maknanya. tak jarang riuh tawa ruang guru di samping yang hanya disekat dengan papan triplek, menjadikannya sunyi dalam ramai, distingtif. tidak hanya sepi dari kebisingan, kelas ini sepi dari modifikasi yang meramaikan pemandangan kiri, kanan, depan, maupun belakang. hanya ada deretan bangku yang berjajar, mading dengan jadwal piket, serta kaligrafi di atas papan tulis. hanya itu.

saat itu, aku tenggelam dalam berjuta baris kata yang sambung menyambung rangkaikan kalimat, kalimat terkumpul menjadi paragraf, tersusun dalam satu sub-bab, dan ber-bab-bab dalam satu buku yang terlihat menawan.

inilah rutinitas baru yang aku jalani, membaca. sejujurnya aku bukan tipikal orang yang gemar membaca, untuk pertamakalinya dengan tempat, waktu, budaya, dan kebutuhan yang berbeda, aku mulai menggemari makhluk yang bernama buku. membaca, aku agendakan dalam hari-hari baruku.

bagi seorang yang awam akan berbagai tulisan, tak ayal aku menyerngitkan dahi untuk mencerna bacaan itu. terlebih ketika kelas berlangsung, aku banyak dikenalkan dengan huruf-huruf dalam tulisan yang rumit namun indah, sambung menyambung dengan berbagai liuk dan lekuk bertabur simbol di atas-bawahnya, tulisan dengan huruf-huruf bahasa arab.

hangatnya udara pagi tak lagi aku rasakan. atmosfer mulai berpaling menjadi panas. gontai kaki menuju asrama terasa berat, langkah pun terasa lambat, waktunya untuk beristirahat sejenak. sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi, tasku telah tersampir mantap di pundak. matahari mulai tergelincir dari tahta singgahnya, dan aku kembali berjubel dengan jadwal mata pelajaran berikutnya.

entah aku yang "terlalu" rajin hingga tiba di kelas hanya dengan kursi dan meja yang "berserakan" dalam tempatnya, ataukah rekanku yang belum juga sampai, entahlah. aku memutuskan untuk beristirahat sejenak, duduk bersandar dan meluruskan kaki sejenak santai. tak selang beberapa lama, temanku mulai datang satu per satu. dia adalah wahyu, teman yang duduk tepat di depanku. dengan buku yang masih ditentengnya dalam genggaman, masuk berucap salam, kemudian memanggilku.
"adet!" sapanya setelah terjawab salam.
"iya!" aku mengalihkan pandangan untuk meresponnya lebih baik.
"ini ada surat dari al-ustadz."
" al-ustadz?" dahiku terlipat melontarkan pertanyaan, "al-ustadz siapa?" tanyaku sejurus kemudian.
"haha, dari a ilham nur hidayatullah." jawabnya teriring tawa.
"owh." aku menerimanya, lantas kumasukan ke dalam saku.

percakapan "kurir cinta" itu terhenti setelah beberapa potong kaliamat berikutnya.

***

lembar surat itu tak lagi tersimpan dalam arsip pribadi. surat perdana dan surat-surat berikutnya telah terlampir dalam arsip pembina asrama, kena rajia.

surat. cara jadul itu tetap ngetren di sekolah berasrama dengan peraturan dilarang membawa alat komunikasi--khususnya hand phone--. mengingat itu simpul senyum selalu tergambar. teringat betapa "anehnya" aku akan hal itu. ingatanku kembali memutar mesin waktu pada lima tahun kebelakang, berpilin berbagai memori hingga memenuhi lamunan.

wajah datarku saat menerima surat itu menguap bersama atmosfer panas di lantai tiga gedung asrama putri. perlahan kubuka setiap lipatan. sebelum menerima surat ini aku sudah dapat membedakan dua ilham kakak kelasku itu, untuk ilham yang satu ini, aku tau saat dia menjadi speaker dalam suatu kegiatan yang entahlah apa namanya itu, dia menyampaikan "waktu". aku terilhami oleh ilham yang satu itu.

surat balasan yang aku titipkan tidak kunjung mendapat balasan hingga dua, tiga hari ke depan. aku seolah menunggu, bertanya pada hampanya udara kapan balasan itu akan tiba. hal tersebut menjadi kapiran kurasa. lihatlah, ada sesuatu yang berbeda. menunggu? mengapa aku harus menunggu? sejak kapan aku mau menunggu? entahlah, tak satupun pertanyaan itu mendapatkan jawaban.

pada hari yang belum genap sepekan, balasan itu tiba. raut mukaku tak lagi datar, kalaulah ada yang memperhatikan, jelas sudah ada senyum disana. namun aku tidak ingin banyak orang tahu, cukup aku dan perasaanku. tak payahlah mereka ikut menghakimi perasaan ini.

begitulah, kurir cinta tak repot antar jemput surat dalam sehari. rentang surat dikirimkan mendapat balasan tak akan sesingkat satu hari. entah apa yang ada di dalamnya. mungkin hendak menyampaikan berjuta rasa dalam rangkaian kata. mungkin juga ingin membuat satu sama lain menunggu, seperti aku. aku terkadang sengaja menunda balasan bukan karena tidak mencari waktu pribadi, melainkan aku ingin membuatnya menunggu.

tidak hanya teman sekelasku yang pernah menjadi kurir cinta yang bersedia mendapat titipan secarik lipatan surat. surat menyurat dalam lembaran kertas yang selalu terarsip di tempat yang tidak diinginkan--arsip pembina--beralih pada layang melayangkan buku catatan.

suatu ketika lembaran surat itu berisi sebuah ajakan untuk membuat daily activity yang kita sepakati. deal, aku menambahkan beberapa list aktivitas apa saja yanh akan dibubuhkan pada kolom daily itu. mulai saat itu, berkirim surat di buku catatan kita sedikit berbeda. berbeda dengan mereka yang hanya bertanya kabar sebagai pembuka salam, mengungkapkan perasaan, hingga janji-janji tersematkan.

***

serapih apapun aku menyimpan cerita itu, pada akhirnya banyak orang tahu. beberapa orang yang ada di kamar barang tentu mereka tahu, tapi orang yang di "luar" tahu? aduh, bukan apa-apa si ya, kadang bad mood juga dengan kekepoannya.

berkirim dan berbalas salam, membahas daily activity, seungkap kalimat motivasi, harapan, enough. apa aku bosan, garing, boring, dan entahbkat apa lagi untuk mengungkapkannya? tidak, aku pribadi nyaman akan hal itu.

suatu hari selepas KBM sekolah, aku dan penghuni kamar tengah berada dalam percakapan ringan, obrolan santai mengurangi kepenatan. lantai tanpa tikar dengan berbagai jajanan menemani siang yang panas ini terasa menyejukan.
"neng, beneran neng sama ilham nur hifayatullah?" pertanyaan dari kakak kelas yang dekat denganku, sontak menumpahkan beragam tanda tanya di benakku, maksudnya apa ya? mungkin berkirim surat itu.
"iya teh." singkatnya aku menjawab.
"wih, baru kali ini dia kaya gitu." timpalnya kemudian, sambil berpindah posisi, bersiap menerima "informasi" lebih baik.
"iya tah? masa?" pernyataan itu membuatku penasaran
"iya beneran, selama aku di sini, yang aku tahu dia tuh cuek sama perempuan." jawabnya menjelaskan.
aku hanya tersenyum, mencoba mencerna kalimat barusan.
"garing gak sih neng sama dia?" teh ade bondan meneruskan daftar pertanyaannya.
"gak sih teh, neng enjoy aja tuh, gak boring. menurut nengmah ya dia tuh someone different than other, gak sama kaya yang kebanyakan." aku menjawab sekenanya.
"haha, iya neng. kayaknya emang ada karakter yang sama antara kalian berdua." tawanya dengan iringan steatment yang lagi-lagi aku tersenyum mendengarnya.

***

sampai sekarang pun, hampir setengah dekade dari kisah itu, percakapan tersebut selalu rindu untuk dikenang, menapaktilasi "awal kisah" kehidupan. lihatlah, betapa tidak, ketika aku mengingatnya aku mesem-mesem sendiri. terkadang juga merasa konyol, tapi tak bisa dipungkiri, dari "hal konyol" itulah kisah kami berawal.

to be continue...

Kamis, 13 Juli 2017

Menunggu

Lajunya sepeda merah mengatakan, "Hidup itu tentang menunggu, menunggu kau sadar, kapan akan berhenti menunggu."
Syair pun mendendangkan, "Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku."
Menunggu,, itu bukan keahlianku. Namun kini aku menjiwai skill itu.
Aku setia menunggu untuk beberapa hal, menunggu sesuatu yang alu harapkan. Mulai dari angkutan umun perkotaan, hingga sebuah pertemuan.
Terimakasihku untuk banyak hal, tak terkecuali untuk menunggumu.
Kau lari menuju berbagai pertemuan, kau bersembunyi tak tampak dalam kesibukan,, aku menunggu.
Menunggu waktumu kapan kau akan berlari padaku.
Menunggu kesempatan, kapan kau akan melambaikan tangan padaku.
Tak masalah, aku tau siapa yang aku tunggu, aku tau mengapa aku menunggu, dan aku tau apa yang sedang kutunggu.
Eits.. Jangan salah,, aku yang terbiasa dengan pola kehidupanmu piawai dalam menunggu.
Walau lelah, getir, dan hampa,, aku tetap menunggu.

Rabu, 12 Juli 2017

Tentang kamu

Rembulan kembali ke peraduan, digantikan sang surya yang menyilaukan,, menelisik jendela kaca yang buram dengan menyiramkan berbagai harapan..
Hembusan angin baru yang bembawa kenangan,, lukisan tentangmu mulai datang perlahan.. Seperti anak panah yang terhempas dari busurnya,, kenangan itu menuhi ingatan tanpa bisa aku hentikan..
Tak jarang segera aku alihkan, terkadang aku sambut dengan riang..
Bukan, bukan aku tak mau mengenang. Taukah kau? Ingatan tentangmu adalah penantian..
Kokohnya benteng penantianku cukup hanya dengan kau berkabar, retaklah. Ingin rasanya aku hancurkan, berhambur lari pada dekapan kenyamanan..
Tidak, pondasiku akan terus mendirikannya,, penantianku akan mengukir gerbang bertahta setia hingga kau tiba..
Mengingatmu adalah simpul senyumku, melihatmu adalah bahagiaku..
Kenangan kita bersama adalah harapan, imaji kita berdua adalah penantian..
Suaraku mungkin tak banyak menyebut kisahmu, namun namamu riuh dalam ruang cintaku..
Keraguan?? Tentu aku merasakannya, terkadang ia bergerilia dalam keyakinan..
Tidak, aku tidak perlu jawaban atas keraguan,, jawabannya cukup aku percaya pada keyakinan..
Mengapa? Ketahuilah,, cinta tak memerlukan alasan, walaupun alasan akan menyertai cinta..
Kubiarkan cintaku nyaman bersamamu, tak perlu aku beralih ketikaku menemukannya.
Kubiarkan harapanku padamu, ketika aku yakin terhadapmu..
Aku setia pada prinsipku akanmu, dengannyalah aku akan memanggil kesetiaan terbaik darimu..
Aku hanya menunggu seseorang yang juga menungguku..
Aku hanya ingin bersama dengan seseorang yang ingin bersamaku..
Jika kau ingin aku lepaskan, aku akan melepaskan.. Karena aku yakin jika kau memang untukku, kau akan kembali,, jika aku memang cintamu, kau akan berlari,, dan jika kau yakin padaku, kau alan tetap bersamaku,, menyematkan asa untuk bersama..
Cinta sejati bukan ditemukan, cinta sejati adalah sebuah penantian, perjuangan, dan perwujudan kesetiaan..