#Bagian Kedua: The Call
Berkabar sekedar menanyakan kabar juga berlangsung ketika hari libur. Pulang ke rumah hand phone dalam genggaman. Tak ada lagi kurir dan tidak lagi menunggu lipatan 24 jam. Dengan kurir operator, tak payah menuliskan salam pembuka, isi, dan penutupan.
Mungkin agak sedikit berbeda. Jika dengan surat tulisanku dapat memenuhi satu, dua halaman penuh, sentuhan keyboard hanya menyentuh beberapa huruf yang menjadi kata atau kalimat balasan atas pertanyaan maupun pernyataan, begitu singkat. Terkadang hanya menjawab tanpa balik bertanya untuk kelangsungan berkirim pesan atau hanya ber-oh saja.
Bukan so atau apa, begitulah aku, tetlebih kepada orang yang masih "baru". Singkatnya balasan yang kukirim juga karena aku tidak tahu apa yang harus aku enter di keyboard, kecut dan kaku. Aku tak pandai mencerecau "basa-basi" lebih relax.
Kenapa aku mengatakan bahwa dia berbeda dari kebanyakan? karena ada banyak bandingan yang juga datang. Ketika yang lain hanya sibuk "pedekate", telpon dialah yang membedakannya. Malam dingin seperti biasa dengan udara pegunungan yang menusuk tulang, aku berkeringat "kepanasan" karena sebuah panggilan. Come on, aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Sensasi itu belum aku kenal, perasaan seperti itupun aku masih awam, hingga lama kemudian aku memahaminya.
Apa aku nervouse? mungkin iya. Apa aku gugup? bisa jadi benar. Apa aku salting? ah, kalaulah ngobrol face to face aku mati kutu sepertinya. Obrolan itu ringan saja, diawali salam, bertanya kabar, aktivitas, pertanyaan kenapa, dan pernyataan atas pertanyaan, hanya itu. Tapi dering telpon tersebut tidak sesimpel "hanya itu". Pertanyaan dia mengharuskan aku untuk menjawab secara definitif, deskriptif, bahkan naratif. Ketahuilah, under process dari "anti sosial" yang aku miliki tidak menjadikannya mudah hanya dengan aku berkata "biasa saja". Dari sanalah, aku belajar untuk "berbicara" mengungkapkan. Yang hingga saat ini 2017 aku masih belajar mengekspresikan diri.
Bagaimana telpon itu benyak membawa perubahan, perubahan pada pesan yang dikirmkannya kemudian. Pada malam tanggal 25 Desember 2012 dia mengirim pesan pendek. Pendek saja pesannya, "kalo a ilham punya perasaan ke adet gimana?" aku sampai bolak-balik membaca pesan pendek itu yang terasa panjang karena terus diulang. Tentulah aku senang, senang sekali. Serasa mimpi, ketika seseorang yang aku kagumi menghampiri hati, betapa beruntungnya aku karena ini bukan mimpi. Tetaplah menjadi someone yang aku kagumi.
***
Tulisan ini juga tidak serta merta produktivitas waktu senggang mengisi liburan, tulisan ini adalah ekspresi diri ketika kata tersangkut dikerongkongan dan tersedak saat hendak diucapkan. Ini adalah suaraku yang tak akan lekam dimakan waktu, persembahan bagi 1001 kisah asmara yang ada di dunia.
Walau rancu, tulisan inilah yang akan menjaga puzzel memori dari sisiku. Malam hangat yang kontras dengan udara over sejuk di luar, aku kembali memonitori layar screen, kembali menelusuri peta kisahku.
Panggilan telpon tersebut menjadikanku santai, tak lagi sibuk membalas pesan di kotak masuk. Panggilan telpon itu pula yang membuat aku stres. Baru tahu kenapa jerawat disebut juga bisul asmara, karena memang stres memikirkannya, haha.
Aku mulai mengakrabkan diri dengan kata menunggu. Bagaimana tidak, dari awal perjalanan ini adalah tentang menunggu. Jika di sekolah aku menunggu kurir kapan menemuiku dengan tangan yang tak lagi hampa tanpa surat, di rumah pun aku menunggu, menunggu kapan smsku akan dibalas. Tepat 30 menit selang waktu aku menunggu pesan singkat tersebut, bahkan bisa lebih dari itu. Tak jarang aku lupa bahwa aku sedang menunggu, hingga beberapa jam berikutnya baru aku kembali berjibaku dengan menunggu.
Apa aku jatuh cinta? ah, enggan aku jatuh cinta. Yang namanya jatuh itu sakit, walaupun dengan embel-embel cinta tetap saja jatuh. Apa aku sedang membangun cinta? nah, bisa jadi aku tengah membangun imperium megah itu dalam sejarah hidupku.
***
"Teh abon, tadi malem a ilham nelpon." keesokan harinya aku berkirim pesan dengan kakak kelasku--ade bondan--yang memang sudah tahu dari awal, entah dari mana. Mungkin hasil translatenya melihat gelagatku yang kemudian disusunkan di atas papan puzzel gosip dari telinga ke telinga.
"Wah, gimana aja tuh?" balasnya singkat, yang berbanding terbalik dengan balasanku selanjutnya. Menceritakan percakapan kami--yang sekarang tak lagi aku mengingatnya--.
"Wih, terus gimana neng?" tanyannya kemudian. lagi-lagi tidak berbanding lurus dengan pesanku yang memenuhi beberapa slide di screen ponsel.
"Debak! sok lah neng, aku percaya kalo sama dia." jeng-jeng, pesanku ringan dibalasnya dengan singkat kata saja.
Perpesanan segera terpenuhi oleh percakapan aku dan kakak kelasku. Dia? entahlah. Aku tidak akan mengawali dalam hal berkirim pesan. Jika ada pesan darinya, aku akan membalasnya. Jika tidak ada pesan, ya aku tidak akan menghubunginya kalau bukan urusan yang penting dan mendesak, sehingga aku memiliki alasan untuk memuali perpesanan.
Kenapa gitu? apa aku saking gengsinya mengawali kabar? ah tidak juga, aku hanya selalu terjebak. Terjebak dalam polemik persepsiku sendiri. Bagaimana jika pesanku malah mengganggu harinya? bagaimana jika pesanku tidak dibalas olehnya? bagaimana pendapatnya jika aku ternyata mengirim pesan duluan? apakah dia akan risih? dan banyak lagi persepsi lainnya. Tidak heran jika aku selalu bersedia untuk menunggu karena aku tidak memiliki keberanian untuk memulai.
***
Telpon..
Apa kau sibuk?
Bolehkah aku menelpon?
tut, tut, tut, tut, panggilan tersambung..
Ketika hand phone berdering memunculkan namanya..
Entah mengapa aku senang hati menerimanya..
Hallo...? sapanya daridsebrang sana..
Apa yang akan aku katakan? berbalas hallo??
Ada apa ini? mengapa ada getaran disuaraku??
Malam dingin pegunungan, tapi aku berpeluh tertahan..
Menahan rasa yang hendak buncah seketika.. Ini kali pertama..
Mengapa? aku menjawabnya karena..
Bagaimana?? aku menjawabnya seperti ini, itu, dan begini..
Aku berkata jika ditanya, diam menunggu atau balik bertanya..
Hanya itu,, tapi betapa kapiran kurasa urusan ini..
Lihatlah, kemudian aku menerima pesan..
Sebuah pesan pertanyaan, yang kutumpali pernyataan..
Semua berubah ketika itu, ada hal asing yang tumbuh..
Sesak memenuhi harap akan hari-hari mendatang..
Terus bersemayam hingga kini, setengah dekade pertumbuhannya..
Aku mengenal apa itu rasa, bagaimana itu cinta, yang terpaut berbagai asa..
Terimakasih untuk kesempatan hebat ini..
Kesempatan untuk mengenalmu,,
Kesempatan berharap untuk senantiasa bersamamu..
***
Libur telah usai, aku kembali ke tanah rantau. Kembali berjibaku dengan aktivitas sekolah. Banyak lagi hal yang berubah sekarang. Hariku mulai dipenuhi banyak kicauan, riuh rendah mengiang di telinga. Sumbernya tentu bukan dari kelasku. Jelas, kelasku hanya dihuni tujuh orang. Kicauan tersebut buming di kelas dia, yang cepat merembet kelas kiri, kanan di sampingnya. Ada saja celetukan-celetukan saat aku melewati kerumunan. Dari sanalah aku belajar berjalan cepat, agar segera berlalu meninggalkan kicau yang memekakan. Apa yang tak ingin aku tampakkan, entah bagaimana sekarang menjadi konsumsi publik.
Tahukahkau bagaimana cara aku berjalan? aku berjalan seperti dikejar setan, tatapan lurus ke depan atau menunduk dalam-dalam menyembunyikan rona muka, kaki kulangkahkan secepat yang kubisa, tak ada senyum, tak ada gurau. Itu ketika aku tahu akan melewati kerumunan mereka--teman laki-laki sekelas dia--, jika berjalan bisa ya santai saja. Saling melempar candang dengan kawan sejalan.
Jika aku datang terlambat, sumpah, malas rasanya. Bukan malas sekolahnya, aku malas mendengar sahutan mereka, sialnya lagi mereka seakan berkerumun seperti "penjaga gerbang", jadi bagaimalah aku bisa menghindar. Kalupun aku berhasil melewati gerbang, mereka seperti sengaja ongkang-ongkang kaki menunggu mangsa berderet di tangga menuju kelas atas.
Dalam sekejap mereka bisa bertransformasi menjadi komposer musik "papan penggilesan" ketika melempar canda menggoda rekan kelasnya itu. Sound track filem animasi favorit semua kalangan warga Indonesi dengan riangnya mereka resing dengan lirik berbeda, sound track Doraemon.
"la la la, Ilham sayang sekali,, Adetia."
Aduh, mukaku merah seperti tomat. Betapa girangnya mereka saat bernyanyi "menyambut" langkahku meniti tangga kelas.
***
Kenangan itu selalu sukses membuatku merekahkan senyum saat mengingatnya. Benarlah pepetah lama itu, setiap hal sekalipun itu sangat menyebalkan jika kau merangkulnya dengan bahagia maka kau akan tersenyum saat mengingatnya.
Pada suatu kesempatan, dia juga pernah menyampaikan hal serupa. "tak apa lah mereka--teman kelasnya-- seperti itu, nanti kalau a ilham sudah keluar, kelakuan mereka akan terkenang dan dirindukan." Ternya benar, aku merindukannya.
***
Aku tersenyum saatku tak tampak olehmu,,
Aku melihatmu saat aku tak ada dalam sapuan pandangmu..
Kusembunyikan senyumku saat kau bersama mereka,,
Aku tak ingin terlihat, karena aku ingin melihatmu..
Dalam persembunyian, aku menatapmu..
Curi-curi pandang rupanya aku..
To be continue...
