Kamis, 19 Desember 2019

berkarir di Education Bussiness

Adetia Siti Nurmaluloh_Education Bussiness


Assalamu'alaikum manteman, kabar baik dong ya semuanya. Akan ada apa di postingan kali ini? Mari kita mengenal bisnis di dunia pendidikan. Ini kisah perjalanan karirku, kutunggu kisahmu!!!

Perkenalkan aku Adetia Siti Nurmaluloh, temen-temen cukup panggil aku Neng, Adet, or Neng Adet. Aku adalah mahasiswa BKI UIN Sunan Gunung Djati Bandung semester akhir. Sepanjang sejarah yang telah aku lalui di kampus ini, tidak terlepas tentang bagaimana aku meniti karir disamping berusaha untuk survive mewujudkan cerita akhir penuh haru saat namaku dipanggil sebagai salah satuu wisudawati Bimbingan Konseling Islam dengan cumlaud dan mendapat selempang itu, selempang pujian.

Banyak kisah perjalanan karir yang telah aku tempuh, salah satunya adalah dengan menjadi guru BK di SMP Mekar Arum. Bermula dari aku yang tidak berminat di dunia bisnis tapi ingin mendapat penghasian tambahan agar tidak terlalu mengandalkan uang bulanan, aku mengambil kesempatan untuk menjadi guru BK karena aku nyaman dengan dunia itu dan dari sana aku juga mendapatkan penghasilan tambahan. Kuy kepoin gimana cerita awalnya!!

Cerita bermula ketika melakukan observasi mata kuliah bk Pendidikan ke sekolah-sekoah, aku mendapat giliran observasi ke sekolah SMP, kami sekelompok memutuskan untuk mengunjungi sekolah SMP Mekar Arum. Hari pertama baru bisa menyampaikan surat pengantaranya saja dari fakultas, utuk jadwal observasi itu senidri masih didiskusikan dengan pihak guru BK yang ada di sana, dan saya yang menjadi narahubungnya. 

Dari pengalaman tersebut, sepertinya guru BK SMP Mekar Arum masih menyimpan kontak aku, selasai aku menjalankan PPM, kemudian lanjut KKN, beliau selalu menghubungi aku dengan pertanyaan yang sama, yaitu “kapan beres kuliahnya?” aku menjawab apa adanya, aku masih PPM dan aku masih KKN. 

Setelah beres KKN dan bersiap menuju semester berikutya yaitu semester 7, beliau kembali menghubungi aku dengan pertanyaan yang masih sama, akhirnya beliau menelponku. Dari percakapan telpon tersebut, aku akhirnya tau maksud dari pertanyaan-pertanyaan beliau, beliau ingin aku menjadi guru BK yang ada di sana karena sedang memerlukan guru BK dan beliau sedang mencari siapa yang bersedia. 

Sejujurnya aku selalu tertarik di dunia pendidikan, mendengar kesempatan tersebut aku menyanggupi untuk menjadi guru BK di SMP Mekar Arum, dan beliau memudahkan dengan tanpa harus mengajukan surat lamaran, wawancara dan sebagainya, aku disuruh untuk langsung datang dan memenuhi file-file yang harus ada sebagai data guru disana. Tidak banyak memang, tapi Alhamdulillah aku mendapatkan uang tambahan sehingga tidak selalu meminta kepada orang tua selagi bekalanya masih ada.

Alhamdulillh, di dunia edukasi ini aku sampai sekarang berkarir. Membantu sedikitnya meringankan beban orang tua dalam membiayai kehidupanku menjadi kebanggan paling berkesan yang aku rasakan. Dengan demikian aku menjadi termotivasi untuk senantiasa berjuang agar mampu melakukan keduanya dengan sama baiknya, menyelesaikan segudang tugas mahasiswa semester akhir dengan juga tetap malakukan layanan bimbingan dan konseling yang baik di SMP Mekar Arum sebagai bentuk profesionalisme, walaupun masih harus banyak belajar. Agar mendapatkan definisi “Sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui” maka saya mengambil penelitian BK di SMP Mekar Arum sebagai upaya dalam memnuhi tugas menyelesaikan skripsi.

“Cintai apa yang kamu lakukan, dan lakukanlah apa yang kamu cintai”. Tentu dunia yang aku tekuni sekarang keduanya adalah dunia yang aku minati, yaitu dunia edukasi dan konseling. Dengan penuh cinta, seberat apapun tantanganya, akan diselesaikan. Ibaratnya jika harus mendaki gunung, lewati lebah, atau harus mengarungi samudera, melangit ke udara, akan dijalani dengan penuh semangat dan kesungguhan untuk mendapatkannya, hal tersebut adalah karena cinta, lelah terasa namun tidak akan membuat saya mengeluh begitu saja, penat pasti menghampiri tapi dengan cinta ‘berhenti’ tidak akan terjadi.

Insyaallah aku segera menyelesaikan studi di Jurusan Bimbingan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Sebagai pelaku sosial di bidang pendidikan, jika hal tersebut dibutuhkan dan tertarik dengan dunia pendidikan dan konseling yang didalamnya juga termasuk training, MC, atau mau konsultasi tenatang apapun masalahnya, Insyaallah dengan pelantara aku temen-temen semua dapat menentukan langkah apa yang harus diambil dan bagaimana menyikapi semua permasalahan yang ada, boleh banget kontak aku di no. WA 0858-0425-1981 atau boleh juga di facebook aku (adet) atau IG aku (adet977), tapi akan lebih cepat mendapat respon bila melalui WA.

Terimakasih kepada Bapak Sugandi Miharja, Ph.D sebagai dosen BK Karir dan BK Industriku, yang telah menyempatkan untuk berbagi ilmu, terlebih ilmu di bidang Bimbingan dan Konseling Industri dan Organisasi. Terimakasih juga buat manteman yang telah menyimak postingan aku di malam ini. Mudahn-mudahan postingan ini dapat memberikan manfaat yang lebih banyak untuk menjadi pelajaran, juga memberikan kesempatan untuk bekerjasama dalam bidang yang sama-sama dicintainya.
Guru sama murid keliatannya sama aja yaaaa :)

Kamis, 07 Maret 2019

Bingkai Kabinet Adler-Altruis



Oleh: Adet


Bingkai merupakan sebuah BSO atau (read: badan semi otonom) dari HMJ (read: himpunan mahasiswa jurusan) yang dikenal juga sebagai komunitas kepemudaan di lingkungan eksternal kampus. Pada sebuah organisasi tentu akan mengalami regenerasi dari tahun ke tahunnya sesuai dengan periode kepengurusannya masing-masing. Begitupun dengan Bingkai yang akan meregenerasi kepengurusannya setiap tahun.
Bingkai di tahun 2019 ini merupakan regenerasi ke tujuh yang akan mengemban amanah keorganisasian selama setahun kedepan. Pada periode ini Bingkai UIN Sunan Gunung Djati memperkenalkan dirinya dengan kabinet yang bernama Adler-Altruis. Adler adalah seorang tokoh konseling yang menyatakan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh apa yang menjadi orientasinya sehingga ia senantiasa berusaha mewujudkannya. Adapun yang dimaksud dengan Altruis adalah sebuah istilah di dunia psikologi yang memeiliki arti berjiwa penolong.
Adler-Altruis tidak lain adalah harapan bagi Bingkai agar senantiasa menyelaraskan langkah-langkahnya terhadap jalan yang dapat mewujudkan visi yang diemban kepengurusan periode ini dengan kesadaran penuh yang timbul dari seorang pembimbing dan konselor yang berjiwa penolong. Seperti yang telah disampaikan oleh ketua umum terpilih, Adetia Siti Nurmaluloh pada pelantiakan Bingkai yang dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 1 Maret 2019 di aula Fakultas Dakwan dan Komunikasi UIN Bandung.
Orientasi Bingkai kabinet Adler-Altruis tercermin dalam rangkaian kata yang menjadi tema besar dari pelantikannya yaitu, “Mewujudkan Pembimbing dan Konselor Islam yang Gemilang dengan Bingkai Ukhuwah dalam Jalinan Aqidah”. Sesuai dengan namanya, Bingkai atau Bimbingan Konselor Agama Islam, terdapat dua peran yaitu pembimbing dan konselor. Yang membedakannya dengan pembimbing dan konselor lainnya ialah Islam, dimana tidak hanya menaati kode etik yang berlaku bagi pembimbing dan konselor tertapi juga membawa misi tersampaikannya ajaran-ajaran Islam kepada umat manusia. Mengapa harus pembimbing dan konselor Islam yang gemilang yang akan diwujudkan oleh Bingkai? Bagi Bingkai kata gemilang adalah rangkaian akhir dari jargonnya (Bingkai Bangkit! Bisa, Menang, Gemilang!) yang memiliki arti luarbiasa, dimana kita sebagai manusia akan melanjutkan perjalannan hidupnya pada kehidupan yang kekal di akhirat kelak mampu gemilang tidak hanya di alam persinggahan. Perjalanan yang akan dilalui oleh Bingkai untuk mewujudkan itu tentu memerlukan kekuatan serta usaha yang besar dari setiap elemennya. Maka dari itu Bingkai membingkai diri dalam sebuah ukuhuwah persaudaraan dengan satu ikatan yang tidak akan lekang dimakan zaman, sebuah jalinan paling kuat diantara jalinan-jalinan yang ada, yaitu ikatan atau jalinan aqidah antar seluruh elemen yang membangun Bingkai untuk mewujudkan pembimbing dan konselor yang gemilang. Begitulah kiranya apa yang dipaparkan oleh ketua umum terpilih pada sambutannya di acara pelantikan Bingkai.
Sejarah Bingkai yang telah sampai pada generasi ketujuh dari perjalanannya tersebut kini kembali mempersiapkan diri untuk menjawab tatangan zaman. Bingkai akan hadir membasuh zaman yang haus dengan dahaganya hati manusia karena tambatan-tambatannya kepada selain Pencipta, Allah SWT.

Senin, 26 Maret 2018

Tentang Kita

By. Adet

Hai, selamat malam. Mungkin di daerahmu tepat ketika kau membaca kisahku adalah saat matahri mulai menjejakan diri di kaki cakrawala, atau raja siang tenggah bertengger di atas takhta, atau mungkin mentari mulai merah merona bersiap kembali keperaduan. Tapi bagiku waktuku adalah malam, waktu sunyi dengan bintang yang seperti permata sengaja ditaburkan, satu hari melelahkan telah kita selesaikan, waktu yang tepat untuk evaluasi dan perencanaan untuk hari esok yang akan atau mungkin datang. Aku bukan Tegar sosok lelaki yang dihadirkan bang Tere dengan kegemarannya akan pagi, atau Rosie yang sangat menyukai sunset sore hari.

Malam memang gelap, tapi dalam gelapnya aku tahu ada cahaya. Malam memang dingin, karenanya aku tahu berharganya kehangatan. Malam terlihat suram, saat itulah aku selalu mengagumi kerlip bintang yang beragam. Malam selalu mengundang rasa pengap yang menghimpit rasa karenanya kita ingin berlapang mengikhlaskan, tarikan-tarikan nafas tertahan terasa menyakitkat yang dengannya kita berusaha tetap bertahan, teriakan keputus asaan saat mengeng yang membuat kita sadar untuk berjuang. Itulah malam bagiku. Ya, bagiku. Lagi-lagi tentang malam. Kesunyiannya membuatku mudah berbicara, kesendirian di tengah-tengahnya aku dapat merasakan diriku yang seharian berdramaturgi. Aku seolah dapat melihat diriku di cermin Tarsah Harry Potter. Entah diri mana yang sejatinya, namun malam bercerita bahwa aku harus mempersiapkan hari esok yang mungkin akan aku lewatkan.

Malam yang kumiliki hadir dan menghadirkan cerita yang berbeda. Malam yang mengundang sesal, malam yang penuh kegembiraan, malam dengan isak tangis memilukan, malam dengan kesendirian yang menyendiri, dengan kermaian yang diramaikan, malam dengan cinta dan buai rindu kasih sayang. Parit pipi terasa mudah mengalir karena malam, entah membawa hangat rasa senang atau kepiluan. Satu malam yang hendak aku ceritakan, malam dingin yang terasa panas oleh buncahnya kegirangan, malam gelap yang mendadak gemerlap dengan bintang di hati yang berjatuhan, setiap runcing sudutnya merobek buntalan bunga cinta yang bermekaran, satu malam yang karenanya aku gelagap senang, satu malam yang berlanjut hingga sekarang.

**
“Dari mana aku memulainya? Malam bukan hanya satu jam, apalagi malam itu. Malam yang terasa lebih lama dari biasanya. Tapi terlalu banyak jika memulai dari sana, baiklah akan aku mulai dengan denting satu pesan singkat itu.” Aku terlibat percakapan monolog saat memulai kisah ini.
Singgkat saja isi dari pesan itu, hanya bertuliskan beberapa kata yang diakhiri tanda tanya, “Gimana kalo aku memiliki perasaan padamu?” hanya itu, tapi cukuplah sudah untuk mengawali kisah bersama. Ruang kamar sederhana yang tidak terlalu sempit terasa pengap dengan gempita rasa yang entah apalah  namanya, aku baru merasakannya. Bukan karena isi pesan, mungkin saja aku berkali-kali mendapatkannya tanpa aku mengingat-ingat. Tapi karena dia, karena dirinya yang menghadirkan diri dengan cara yang sama sekali berbeda. Karena dia, karena dirinya.
“Ngomong apa si Det? Dia, dirinya, siapa?” teman kosan yang menjadi tuan rumah kali ini tidak lain adalah sahabatku. Selaannya diantara monologku menyadarkanku bahwa aku hanya menyebutnya sebagai dia, sebagai dirinya yang belum aku perkenalkan siapa.
“Dia, ya dirinya, hee.” Lagi-lagi hanya itu dengan sedikit sipuan senyum yang terlihat seperti orang yang baru saja menyadari keterpelesetannya. Aku bingung sendiri, terkadang aku juga bertanya siapa dia tapi sebenarnya aku tahu dia.
“Ah begini saja. Simpelnya dia adalah someone-nya aku.” Pikirku kemudian yang terucap.
“Wah, ternyata kau?”
“Eemh,, mau dilanjutin gak nih?” aku segera memotong ucapan kawanku itu sebelum menjadi-jadi dengan suaranya yang seperti toa masjid sedang pengumuman.
“Hee, aku hanya terkejut saja. Akhirnya tanpa aku observasi lebih lanjut, kau menceritakannya juga. Ayolah ceritakan.” Dia tersenyum kegirangan. Persis seperti anak kecil yang mendengar kabar bahwa ayahnya akan segera datang dengan oleh-oleh ditenteng tangan.
“Singkatnya dia itu salah satu orang yang entah harus kusebut siapa, yang jelas dia adalah kakak kelasku yang juga masuk pada list nomor orang-orang yang menghubungiku.” Jelasku dengan sedikit mengintip lembaran masa silam. Lenggang yang cukup lama, sebelum desakan temanku yang lagi-lagi mengusikku saat hendak masuk lebih dalam pada kisah tersebut.
Aku ingin sekali menimpuk kepalanya dengan guling yang ada di pinggirku. Tidakah dia memberiku keleluasaan untuk bercerita sambil mengenang? Tapi itulah kawanku, ditidak-tidak nyatanya aku asik juga dengan tingkah jahil, kepo, dan ketidaksabarannya. Aku kembali bercerita, seperti kaset rusak karena banyak terpotong di sana-sini.
Jadi dia itu siapa? Mungkin hari ini aku menjawabnya demikian, namun lain cerita jika aku bercerita kemudian. Untuk mengenal seseorang bukan hanya tentang seberapa banyak aku mengetahui hal-hal yang berkaitan dengannya, bukan pula hanya sebatas betapa intensnya aku bertukar kabar satu sama lain, juga bukan hanya tentang berapa lamanya aku bersama. Seseorang nyatanya lebih rumit daripada susunan kimia, logika matematika, atau isyarat-isyarat fisika. Dalamnya kepribadian seseorang tidak bisa diukur dengan sonar seperti palung terdalam samudera, lebih tidak terprediksi dibanding tenangnya hamparan biru air tak bertuan. Untunglah cerita tentangnya bukan undang-undang negara. Jika iya, mungkin aku akan melakukan amandemen yang melelahkan, merevisi semua ketidak sesuaian.
Aku mengenalnya hanya sebatas itu, sebatas dia, sebatas dirinya. Kisah ini adalah  kisahku dengannya, satu kisah tentang kita. Ini suaraku, bukan Milea yang menyuarakan Dilan, bukan pula Salma dan Nathan. Aku tak lain adalah pribadi yang tentunya berbeda, dia tidak lain adalah pribadi yang baru aku mengenanya, hanya kita yang yang sama, sama menanti, sama menjaga, satu kata yang terpaut dalam semoga.

Minggu, 18 Maret 2018

ON!










On!
By. Adet

Selamat malam, mungkin ketika kamu membaca catatan ini hari menjelang terik, atau mentari baru mengintip ufuk Timur tempatnya terbit, atau mega merah tengah merona di garis cakrawala, tapi aku ingin menyapa kalian dengan selamat malam. Karena ketika malam aku bercerita pada seluet diri walau hanyan pendar, saat gelap malam menyelimuti hari aku dapat melihat apa yang tidak terlihat karena tahta sang surya. Pada saat sinarnya menyilaukan aku tak dapat melihat indahnya bintang, berbeda dengan gelapnya malam dengan atau tanpa lengkungan sabit yang elok walau hanya biasan.
On! Sekarang mode diriku aku on-kan, on untuk kembali menemukan yang sempat hilang, on untuk kewajibanku pada-Nya, on untuk hak mereka yang ada padaku untuk dituntaskan, on kembali untuk setiap abjad yang akan menyusun rangkai kata kemudian menjelma kalimat yang memenuhi paragraf.
Aku ingin dirindu, aku ingin ada yang menunggu. Sejenak aku berpikir, layakkah aku untuk keinginan itu? Mana mungkin aku layak ketika aku tidak hidup dalam imaji mereka, dalam dunia mereka, dalam kebutuhan mereka, dan untuk sekarang aku ingin benar-benar hidup. Bagaimana aku akan hidup ketika aku sendiri hanya seonggok daging yang berjalan di atas bumi bernaung atmosfer nan biru dengan sapuan tipis awan yang berarak atau gelap dengan kelip permata nun jauh di alam raya. aku harus menghidupkan diri dengan daya hidup yang aku miliki, kini aku siap untuk menghidupkan diri sehingga aku benar-benar hidup dalam dunia sosial dan pribadi. Kurasa hanya dengan itu aku dirindu dan aku ditunggu. Mode ON aku aktifkan.
Hari ini aku aktifasi mode ON dari sebuah pertanyaan yang muncul di layar touch screen kecil dengan notifikasi setelan yang dikhususkan, “Kemana aja Det, kamu menghilang bagai ditelan bumi tanpa sedikitpun kabar.” Aku tahu itu bukan pertanyaan, aku balas dengan sebuah pernyataan, “Aku ditelan bumi saat kucoba menghentakan kaki ingin melejit jauh ke langit.” Apakah benar begitu adanya? Kurasa iya.
Dua pekan yang telah lalu aku terlibat dalam perumusan rencana untuk satu tahun mendatang. Banyak keinginan yang ingin aku wujudkan bersama mereka. Planing telah tersusun, gagasan muncul tak terbendung, konsep acara telah mengepung ruang diskusi yang ada dalam laci kecil di alam pikir. Apa daya ketika perangkatku mulai meminta haknya untuk berhenti, aku tahu dia kelelahan atas semua intruksi yang aku berikan.  Aku tidak tinggal diam, tapi aku sama sekali jauh dari kata maksimal. Jangankan merilisnya satu persatu, satu pun dari banyak planing tidak bisa aku sampaikan, semakin berkurang saja kontribusi yang bisa aku berikan.
Fakta diamnya aku tidak dapat disembunyikan, api aku belum menemukan cara untuk muncul kepermukaan. Setelah aku berpikir kenapa, ternyata aku masih terjebak dalam ruang isolasi yang berjeruji kalimat negatif yang aku hiraukan. Ok, baiklah. Aku tidak akan menyerah. Aku singkapkan semua belukar kata yang bernuansa negatif menjadi pupuk bagi tanah dimana aku ingin tumbuh. Aku rekontruksi semua kata dalam linguistic intelegent yang ada padaku, aku tanamkan satu benih kalimat yang berbunyi, “Change your word, you’ll change your world.” Akan aku mulai saat ini juga, akan aku awali dari diriku, akan aku gunakan apa yang dititipkan-Nya padaku. Aku siap untuk menjadi pribadi yang baru. Akan aku ubah perkataanku yang menyebutkan, “Aku merasa kurang dalam melakukan ini, ini, ini, dan ini.” Menjadi kalimat yang lebih cantik, “Aku akan mengoptimalkan ini, ini, ini, dan ini.”
Selain belukar kata negatif, aku juga harus membabat habis kanopi besar makna negatif seperti karbondioksida dalam menyikapi semua fenomena. Aku akan menyiangi kanopi yang tumbuh besar itu. Bukan, bukan dengan cara aku benar-benar mengakhiri pertumbuhannya, melainkan akan aku tumbuhkan lebih besar lagi, lebih lebat lagi pohon kehidupan berkanopi makna poitif yang akan berfotosintesis layaknya oksigen di udara. Ya, tidak ada satupun yang layak untuk melegitimasi kehidupan hanya dalam satu makna, tidak ada yang berhak. Hidup memiliki berbagai makna, kita akan tahu apa saja makna tersebut ketika kita mau melungkan sedikit waktu untuk lebih tahu.
Ketika aku seakan menghilang ditelan bumi saat harus mengalir di permukaan, saat aku menghentakan kaki karena ingin melejit jauh ke langit, tidak layak aku mengumpat, tidak pantas aku membenci, bukankah aku akan kembali bertunas? Aku akan berkecambah, kemudian perlahan tumbuh hingga pucuk tertinggiku menyentuh langit yang membiru, menyentuh langit dengan taburan kerlip yang bembisu.


Sabtu, 09 Desember 2017

Life is Choices

By. Adetiasitinurmaluloh

"Alhambra, nama tempat yang entah kapan aku bisa menyambanginya dalam suatu perjalanan. Sebuah nama yang membuatku kagum dengan hanya membaca kisah entah siapa. Tempatnya yang selalu memerah kala raja siang bertengger dikaki langit, elok bukan kepalang. Tidak lagi semburat cahaya merah meruam dengan sapuan tipis awan di tepi pantai, menurut imajiku Alhambra tidak sekedar dinasti wisata. Duduk bersandar granada (delima), di atas bukit Sacromonte di timur Albaicin, Granada. Entah kapan aku menyebrangi lautan nun jauh untuk tiba disana."
Dari satu sumber bacaan, waktu yang sama 24 jam, tujuh hari jumlah pekan yang tidak beda, siang dan malam sama adanya. Tak lantas itu semua menjadi nutrisi bagi kedua jiwa pembaca. Mungkin yang satu terkagum membaca hingga ia berusaha berlayar jauh menghantam senyap lautan tak bertuan, yang satu lagi kagum tiada kepalang hanya dalam lamunan. Sama-sama membaca kisah yang sama, tidak lantas menjadikan keduanya sama.
Tahu pengamen jalan di bus-bus kota? Tahu Agnes Monika? Keduanya sama bernyanyi, tapi apakah memang sama? Tentu tidak. Yang satu nyanyi sekedar nyanyi, berisik mengganggu mungkin iya, tapi yang satunya bernyanyi dengan skill yang dioptimalkan seningga mendapat tepuk tangan kebanggaan.
Life is choices. Ungkapan kalimat yang simpel terdengar, kadang sepele hanya mengisi ruang hampa dalam pemanis kata, tak ubahnya pemanis buatan. Semakin sering dikecap bukan lagi manis terasa, pahit yang ada. Semakin sering diucap tanpa berusaha, semakin pahit kenyataan yang ia terima.
Kita adalah tuan bagi diri kita, mau menjadi apa atau seperti apa kita yang menentukannya. Kita akan dihargai sesuai dengan pilihan yang kita tetapkan. Orang akan berbeda menghargai CEO perusahaan tepung terigu dipojok jalan yang becek dengan CEO perusahaan tepung terigu segitiga biru di gedung perkantoran.
Kebanyakan orang hanya terfokus kepada hasil akhir, bukan pada proses memilih berbagai pilihan yang akan mengantarkannya pada tujuan. Meliahat anak-anak tampil dengan bacaan dan hapalan al-Quran yang sangat menakjubkan misalnya, orang-orang hanya terkagum dan menganggapnya suatu hal yang ‘wah’ yang tidak bisa dijangkau olehnya tanpa berpikir pilihan apa yang yang diambil oleh orang tua si anak dalam mendidiknya sehingga sang anak tumbuh menjadi sangat menawan hati.
Felix Y. Siauw berkata bahwa, “Today is yesterday and testerday is today” benar adanya. Karena adanya kita hari ini adalah implementasi pilihan-pilihan yang kita ambil kemarin, dan pilihan-pilihan kita kemarin menentukan kita akan seperti apa hari ini.
Dengan ringannya orang-orang berkata bahwa seorang mualaf dapat masuk Islam dan mendapatkan pemahaman keislaman yang lebih baik dari muslim sejak lahir adalah karena mendapatkan hidayah-Nya. Mereka seakan menutup mata dengan berbagai ungkapan, dan melupakan pilihan apa saja yang para mualaf ambil hingga akhirnya mereka sampai pada pemahaman Islam.
Sedikit hal mengenai hidayah, Gengs sadarkah ada kekeliruan dalam memahaminya? Memang, hidayah adalah hak peto yang hanya dimiliki-Nya. Hidayah bukan sesuatu yang akan datang tanpa diusahakan. Tahu mengapa salah satu nama lain dari al-Quran adalah al-Huda? Karena melalui al-Quran itulah Allah menunjukan jalan yang menuju kepada-Nya. So? Jika memnag betul ingin mendapatkan hidayah, baca al-Quran, pahami, hayati setiap maknanya, hayati keindahannya, berdo’a pada Sang Mahakuasa.
Ketika kita menginginkan untuk menjadi sosok seperti seseorang yang kita kagumi mudah saja. Mulai hari ini, pilihlah pilihan yang diambil oleh orang yang kita menginginkan untuk menjadi sepertinya itu, mudah saja bukan? Apakah hanya sesederhana itu? Ya, tentu, hanya sesederhana itu! Kita akan menjadi sepertinya dengan versi diri kita.
Masih ungkapan Siauw, “One time, one choice”. Sebuah pilihan yang berbeda tidak bisa diambil bersamaan dalam waktu yang sama. Satu waktu hanya untuk satu pilihan. Seperti saatnya sekarang, untuk membaca tulisan hingga sampai disini kita harus meningalkan paragraf sebelumnya. Atau mungkin seperti saya yang memilih untuk menulis ini dan meninggalkan pilihan untuk membaca.
Begitulah kiranya dalam berislam. Berislam bukan soal siapa yang mendapat hidayah dan siapa yang belum mendapat hidayah. Berislam adalah pilihan, “Laaa ikrooha fid-diin,...” tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam,... (QS. Al-Baqarah [2]: 256). Jelas, tegas. Allah menghadirkan Islam sebagai pilihan hidup, bukan sebagai legalisasi otoriter bagi non-Islam untuk memilih Islam. Ketika kita memutuskan untuk memilih Islam maka tidak bisa dalam waktu bersamaan melanggar ketentuan Islam, lah bukankan kita sudah memilihnya?
Setiap pilihan memiliki investasi, konsekuensi, dan risiko tertentu. Tidak satupun dari pilihan tanpa adanya ketiga hal tersebut. Investasi adalah ‘modal awal’ yang harus kita keluarkan saat akan memilih suatu pilihan. Konsekuensi disini tidak lain adalah apa yang akan datang menimpa kita saat memutuskan suatu pilihan. Adapun risiko adalah apa yang akan kita dapatkan kemudian setelah menetapkan pilihan atau saat menjalani sebuah pilihan. Tidak ada istilah hidup poya-poya, kaya di dunia, mati masuk surga. Ngawur itu.
Ketika kita hendak berislam, maka kita harus berinvestasi dengan menanggalkan seluruh kejahiliyahan, konsekuensinya adalah siap diatur oleh aturan Islam, kemudian apabila taat kepada Allah dalam berislam maka risiko yang akan diterima adalah dimasukan kedalam Surga-Nya. Menentukan pilihan berislam bukanlah pilihan yang ringan, berislam adalah pilihan yang sangat besar. Semakin besar pilihan hidup kita maka semakin besar pula investasi yang harus kita keluarkan, konsekuensi yang harus kita tanggung, dan risiko yang akan kita dapatkan. With great choice comes the great investment, consequences, and risk.

Jumat, 08 Desember 2017

Keep Walking

Sebuah karya tidak akan terlepas dari maksud yang hendak disampaikan oleh si pencipta. Karya memiliki wujud yang beragam, salah satunya adalah tulisan. Dalam tulisanpun banyak juga jenisnya, salah satunya adalah novel. Steatment pembaca tidak dapat terhindar dari perbedaan, positif, negatif, dan biasa saja. Pendapat pribadi dengan lantang menyuarakan steatment-steatment positif terhadap keberadaan novel, karena memandangnya sebagai alternatif dalam menginternalisasi diri dengan nilai-nilai luhur yang Islami. Ketika orang-orang ada yang beranggapan bahwa membaca novel adalah kegiatan yang kurang bermanfaat karena hanya menghabiskan waktu dengan kisah-kisah yang tidak nyata, di lain sisi ada yang beranggapan bahwa pembelajaran yang paling mudah adalah pembelajaran dari kisah-kisah terlepas itu nyata atau tidak, selama isinya tidak hanya “sebuah kisah”.
Novel “Pulang” yang ditulis oleh Tere Liye adalah sebuah kisah yang tidak layak disebut hanya “sebuah kisah”. Pembaca mungkin bertanya-tanya apa yang hendak disampaikan oleh Tere Liye dalam novel Pulangnya. Setelah sampai pada bagian epilog barulah pembaca akan paham apa makna dari judul novel tersebut. Secara utuh penulis menggambarkan perjalanan seorang anak muda dengan ambisi jiwa mudanya menemukan sebuah arti kata pulang pada hakikat pulang yang sebenarnya. Sebuah kisah dari perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit. Pulang kepada panggilan Tuhan.
Ada sebuah penggalan paragraf yang sangat menarik perhatian di lembaran kisah pertama novel tersebut, ketika sang tokoh utama melakukan monolog dalam memperkanalkan dirinya, “Inilah hidupku, dan aku tidak peduli apapun penilain kalian. Toh, aku hidup bukan untuk membahagiakan orang lain, apalagi menghabiskan waktu mendengar komentar mereka.” Pandangan sekilas mungkin akan menganggapnya sebagai ungkapan orang yang apatis terhadap lingkungan sosialnya, orang yang acuh terhadap nilai dirinya dihadapan yang lain, tetapi tidak menutup kemungkinan ada orang yang menganggapnya sebagai sebuah rumusan untuk mencapai apa yang disemogakan.
Pernyataan dari penggalan paragraf tersebut sesuai dengan sebuah istilah yang sangat populer dengan ungkapan, “Anjing mengonggong, kapilah berlalu.” Seorang kapilah yang mengacuhkan gonggongan anjing entah bagaimanapun ia akan sampai pada tujuannya, sedangkan gonggongoan anjing akan semakin samar kemudian hilang tidak terdengar ketika ia fokus melanjutkan perjalanan. Akan lain ceritanya ketika ia meggubris gonggongan anjing dan menyuruhnya diam, ia tidak akan mampu menghentikan gonggongan dan ia pun tidak akan sampai pada tujuan.
Ketika kita menemukan titik balik untuk pulang pada hakikat sebenar-benarnya pulang, abaikanlah semua perkataan orang yang meragukan, bahkan mereka yang mencibir, fokus pada perbaikan dan tujuan awal. Ketika terlalu lelah mendengar semuanya tidak ada yang salah untuk sejenak menghentikan langkah, mundur satu langkah kebelakang untuk melesat seribu langkah kedepan. Ketika terlalu ramai dan memekakan telinga, cukup tetap yakin terhadap kebenaran yang dianggap benar untuk dilakukan sehingga sampai kepada makna pulang. Apalah daya ketika tangan hanya dua, mulut mereka terlalu banyak untuk kita bisa menutupnya, cukuplah kita menutup telingan dengan kedua tangan yang kita punya.

Sabtu, 23 September 2017

Tahan Banting

By. EnpitsuAO

Kebanyakan dari manusia ketika tertimpa kemalangan, kesusahan, atau musibah dalam bentuk kesengsaraan, mereka akan merasa makhluk yang paling menyedihkan di dunia. Mematung berdiam diri, meratap, menyalahkan siapapun dan apapun dalam benak mereka, tak terbilang juga yang mengakhiri nyawa, mereka kira urusan akan berakhir pada kematian, konyol.

Mereka selalu menonggak ke atas, seakan leher mereka terbuat dari beton baja tidak mengalihkan pandangan dari aurora kehidupan orang lain yang menurut versinya itulah kehidupan yang mereka inginkan. Mereka selalu kagum melihat orang-orang hebat memberikan pidato, seminar, simposium, dan lain halnya. Mereka terus bermimpi, menyulam mimpi dalam tidur yang nyenyak tanpa merasa perlu melek dan bangun untuk mewujudkan mimpi itu.

Banyak kalimat motivasi membesarkan hati memenuhi status-status quotes media sosial, mereka hanya sibuk membaca, merasa tergugah seketika, kemudian menyampaikannya kepada yang lain, menunjukan sisi bijaknya dalam mendapatkan citra di hadapan manusia. Tapi nol mereka dapatkan, zonk! Mereka sama sekali tidak melakukan tindakan nyata sebagai wujud tergugahnya hati mereka. Nihil.

Ketika kita melihat seseorang gagah berdiri mentereng dikenal setiap lapisan sosial, melihat betapa tangguhnya ia, betapa beruntungnya ia, betapa takdir berbaik hati padanya. Jangan melihat itu semua sekarang saat ia berdiri kokoh dalam pijakan, tapi tanyakanlah berapa ribu rintangan yang menghadangnya dalam perjalanan, berapa kali ia harus terpuruk dalam dinginnya tangan takdir yang sama sekali tidak pernah dan tidak akan bertanya bagaimana perasaannya saat ia terjerembab jatuh kedalam dasar kenistaan.

Tujuh miliyar penduduk planet bumi galaksi bima sakti ini semuanya dari ayah Adam yang sama, Ibu Hawa yang satu. Mereka memiliki bekal potensi yang juga sama, mereka sama-sama tidak mengetahui sesuatu pun sejak oksigen pertama dihirupnya, jika masih ragu silahkan buka kitab suci yang tidak ada keraguan di dalamnya (QS. Al-Baqarah [2]: 2), buka adz-Dzikru tersebut tepat pada surat ke-16, an-Nahl ayat 78. Berikut terjemah yang dapat dipahami, mudah-mudahan tidak menyalahi arti sesungguhnya. “Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahu sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.”

Proses kehidupan yang mereka jalani yang akan membedakan mereka, nilai mereka akan berbeda satu sama lain tergantung pada kualitas diri mereka yang ditempa dengan berbagai ujian dan cobaan. Ada diantaranya yang sukses menghadapi tempaan hidup, pun banyak diantara mereka hanya mengantongi nilai rendah. Tempaan mereka tak ubahnya seperti dua karbon yang terpaut jauh dalam nilai dan kualitas. Keduanya kita kenal dengan nama berlian dan arang.

Berlian, benda yang satu ini menjadi dambaan banyak kalangan, tidak hanya kaum Hawa yang identik dengan keindahan, kaum Adam pun tidak ketinggalan. Kilaunya yang mengagumkan dapat menyihir setia pasang mata yang memandangnya. Ia menjadi brand dari strata teratas dalam interaksi sosial manusia. Alat pahatnya pun tidak sembarangan, gergajinya sangat khusus, pengrajinnya memperlakukan ia seperti ratu, takut sekali terkena debu, tempat ia bertahta pun dibuat sedemikian rupa nyamannya dibingkai indah etalase kaca menawan penglihatan, kokohnya nyata terlihat.

Mari lihat karbon yang satunya. Ia terlihat legam, si punya meletakkannya diatas tanah tanpa alas, tempatnya berada sama hitam dengan dirinya, jangan tanya bagaimana perlakuan manusia terhadapnya terinjak pun ia tak apa dan dilewatkan begiu saja. Bentuknya tidak beraturan, jauh dari kata kokoh, ia rapuh. Nilainya dapat terlihat sendiri dari kualitasnya.

Berlian, tidak sim salabim memikat hati dengan nilai dan kualitas tinggi. Kokohnya ia tidak lain didapatkan dari tempaan temperatur tinggi, tekanan eksrim, dan  dengan waktu yang tidak sebentar lama sekali proses tersebut berlangsung. Beda halnya dengan rapuhnya arang, ia dihasilkan dari temperatur rendah, tekanan seadanya, dan waktu yang terbilang singkat tidak memerlukan waktu lama.

Begitupun manusia. Allah sang Maha Raja dari raja-raja mustahil menempatkan berlian pada posisi arang atau sebaliknya menempatkan arang pada posisi berlian. Ketika datang ujian dari Allah, sejatinya itu adalah temperatur tinggi serta tekanan ekstrim yang terjadi dalam waktu yang tidak singkat. Jika manusia dapat melalui proses tersebut ia akan menjadi berlain, jika ia menyerah lalu keluar menginggaki ujian tersebut akan menjadi kabon kedua yaitu arang.

Sejatinya diri kita bukan milik kita, Allah adalah pemilik jiwa raga segala yang ada di alam raya. Dia tahu kadar kemampuan dari setiap makhluk ciptaan-Nya, mustahil bagi-Nya melakukan kesalahan membebani makhluk dengan beban yang tidak mampu ditanggungnya. Jelas kiranya dalam QS. al-Baqarah [2]: 286 Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan menimpakan sesuatu kepada hambanya diluar batas kemampuannya. Janji Allah adalah sebenar-benarnya janji.

Tidak usah risau menjalani sukarnya belukar hidup yang terhampar. Tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana caranya untuk menjadi seperti orang lain. Cukup tenang, terima dengan lapang, dan jalani setiap proses tempaan hidup, kemudia bersyukur atas setiap nafas yang dapat dihembuskan. Jadilah berlian, jangan lari dari kenyataan yang akan menjadikanmu sebagai arang.

Tidak perlu juga merasa menjadi makhluk paling mengenaskan di dunia, berhenti menonggak gemintang yang berkilauan. Lihatlah betapa beruntungnya dirimu meski itu dalam keadaan yang sangat menyesakan. Tundukan kepalamu, lebih banyak orang dengan nasib dan tempaan yang lebih berat darimu, mereka tidak leluasa mengambil oksigen gratis yang ada di bumi karena sesaknya paru kehidupan mereka. Pengemban risalah mulia, Rasul saw. begitu bijak bersabda tentang larangan bagi pengikutnya untuk melihat kehidupan yang ada di atas yang akan menyebabkannya ingkar terhadap karunia Allah, yang tidak lain memerintahkan untuk melihat kehidupan yang berada di bawah dengannya rasa syukur dan kepedulian akan menyeruak sebagai kualitas pribadi hamba-Nya.

Note: adz-Dzikru adalah nama lain dari al-Quran, dikatakan demikian (adz-Dzikru, yang memberikan peringatan) karena memang al-Quran adalah pemberi peringatan bagi yang membacanya agar senantiasa mingingat-Nya selama menjalani kehidupan di dunia fana.

Oleh: Adetia Siti Nurmalulloh