![]() |
| Guru sama murid keliatannya sama aja yaaaa :) |
learning writing
Kamis, 19 Desember 2019
berkarir di Education Bussiness
Kamis, 07 Maret 2019
Bingkai Kabinet Adler-Altruis
Senin, 26 Maret 2018
Tentang Kita
By. Adet
Hai, selamat malam. Mungkin di daerahmu tepat ketika kau membaca kisahku adalah saat matahri mulai menjejakan diri di kaki cakrawala, atau raja siang tenggah bertengger di atas takhta, atau mungkin mentari mulai merah merona bersiap kembali keperaduan. Tapi bagiku waktuku adalah malam, waktu sunyi dengan bintang yang seperti permata sengaja ditaburkan, satu hari melelahkan telah kita selesaikan, waktu yang tepat untuk evaluasi dan perencanaan untuk hari esok yang akan atau mungkin datang. Aku bukan Tegar sosok lelaki yang dihadirkan bang Tere dengan kegemarannya akan pagi, atau Rosie yang sangat menyukai sunset sore hari.
Malam memang gelap, tapi dalam gelapnya aku tahu ada cahaya. Malam memang dingin, karenanya aku tahu berharganya kehangatan. Malam terlihat suram, saat itulah aku selalu mengagumi kerlip bintang yang beragam. Malam selalu mengundang rasa pengap yang menghimpit rasa karenanya kita ingin berlapang mengikhlaskan, tarikan-tarikan nafas tertahan terasa menyakitkat yang dengannya kita berusaha tetap bertahan, teriakan keputus asaan saat mengeng yang membuat kita sadar untuk berjuang. Itulah malam bagiku. Ya, bagiku. Lagi-lagi tentang malam. Kesunyiannya membuatku mudah berbicara, kesendirian di tengah-tengahnya aku dapat merasakan diriku yang seharian berdramaturgi. Aku seolah dapat melihat diriku di cermin Tarsah Harry Potter. Entah diri mana yang sejatinya, namun malam bercerita bahwa aku harus mempersiapkan hari esok yang mungkin akan aku lewatkan.
Malam yang kumiliki hadir dan menghadirkan cerita yang berbeda. Malam yang mengundang sesal, malam yang penuh kegembiraan, malam dengan isak tangis memilukan, malam dengan kesendirian yang menyendiri, dengan kermaian yang diramaikan, malam dengan cinta dan buai rindu kasih sayang. Parit pipi terasa mudah mengalir karena malam, entah membawa hangat rasa senang atau kepiluan. Satu malam yang hendak aku ceritakan, malam dingin yang terasa panas oleh buncahnya kegirangan, malam gelap yang mendadak gemerlap dengan bintang di hati yang berjatuhan, setiap runcing sudutnya merobek buntalan bunga cinta yang bermekaran, satu malam yang karenanya aku gelagap senang, satu malam yang berlanjut hingga sekarang.
**
“Dari mana aku memulainya? Malam bukan hanya satu jam, apalagi malam itu. Malam yang terasa lebih lama dari biasanya. Tapi terlalu banyak jika memulai dari sana, baiklah akan aku mulai dengan denting satu pesan singkat itu.” Aku terlibat percakapan monolog saat memulai kisah ini.
Singgkat saja isi dari pesan itu, hanya bertuliskan beberapa kata yang diakhiri tanda tanya, “Gimana kalo aku memiliki perasaan padamu?” hanya itu, tapi cukuplah sudah untuk mengawali kisah bersama. Ruang kamar sederhana yang tidak terlalu sempit terasa pengap dengan gempita rasa yang entah apalah namanya, aku baru merasakannya. Bukan karena isi pesan, mungkin saja aku berkali-kali mendapatkannya tanpa aku mengingat-ingat. Tapi karena dia, karena dirinya yang menghadirkan diri dengan cara yang sama sekali berbeda. Karena dia, karena dirinya.
“Ngomong apa si Det? Dia, dirinya, siapa?” teman kosan yang menjadi tuan rumah kali ini tidak lain adalah sahabatku. Selaannya diantara monologku menyadarkanku bahwa aku hanya menyebutnya sebagai dia, sebagai dirinya yang belum aku perkenalkan siapa.
“Dia, ya dirinya, hee.” Lagi-lagi hanya itu dengan sedikit sipuan senyum yang terlihat seperti orang yang baru saja menyadari keterpelesetannya. Aku bingung sendiri, terkadang aku juga bertanya siapa dia tapi sebenarnya aku tahu dia.
“Ah begini saja. Simpelnya dia adalah someone-nya aku.” Pikirku kemudian yang terucap.
“Wah, ternyata kau?”
“Eemh,, mau dilanjutin gak nih?” aku segera memotong ucapan kawanku itu sebelum menjadi-jadi dengan suaranya yang seperti toa masjid sedang pengumuman.
“Hee, aku hanya terkejut saja. Akhirnya tanpa aku observasi lebih lanjut, kau menceritakannya juga. Ayolah ceritakan.” Dia tersenyum kegirangan. Persis seperti anak kecil yang mendengar kabar bahwa ayahnya akan segera datang dengan oleh-oleh ditenteng tangan.
“Singkatnya dia itu salah satu orang yang entah harus kusebut siapa, yang jelas dia adalah kakak kelasku yang juga masuk pada list nomor orang-orang yang menghubungiku.” Jelasku dengan sedikit mengintip lembaran masa silam. Lenggang yang cukup lama, sebelum desakan temanku yang lagi-lagi mengusikku saat hendak masuk lebih dalam pada kisah tersebut.
Aku ingin sekali menimpuk kepalanya dengan guling yang ada di pinggirku. Tidakah dia memberiku keleluasaan untuk bercerita sambil mengenang? Tapi itulah kawanku, ditidak-tidak nyatanya aku asik juga dengan tingkah jahil, kepo, dan ketidaksabarannya. Aku kembali bercerita, seperti kaset rusak karena banyak terpotong di sana-sini.
Jadi dia itu siapa? Mungkin hari ini aku menjawabnya demikian, namun lain cerita jika aku bercerita kemudian. Untuk mengenal seseorang bukan hanya tentang seberapa banyak aku mengetahui hal-hal yang berkaitan dengannya, bukan pula hanya sebatas betapa intensnya aku bertukar kabar satu sama lain, juga bukan hanya tentang berapa lamanya aku bersama. Seseorang nyatanya lebih rumit daripada susunan kimia, logika matematika, atau isyarat-isyarat fisika. Dalamnya kepribadian seseorang tidak bisa diukur dengan sonar seperti palung terdalam samudera, lebih tidak terprediksi dibanding tenangnya hamparan biru air tak bertuan. Untunglah cerita tentangnya bukan undang-undang negara. Jika iya, mungkin aku akan melakukan amandemen yang melelahkan, merevisi semua ketidak sesuaian.
Aku mengenalnya hanya sebatas itu, sebatas dia, sebatas dirinya. Kisah ini adalah kisahku dengannya, satu kisah tentang kita. Ini suaraku, bukan Milea yang menyuarakan Dilan, bukan pula Salma dan Nathan. Aku tak lain adalah pribadi yang tentunya berbeda, dia tidak lain adalah pribadi yang baru aku mengenanya, hanya kita yang yang sama, sama menanti, sama menjaga, satu kata yang terpaut dalam semoga.
Minggu, 18 Maret 2018
ON!
Sabtu, 09 Desember 2017
Life is Choices
By. Adetiasitinurmaluloh
"Alhambra, nama tempat yang entah kapan aku bisa menyambanginya dalam suatu perjalanan. Sebuah nama yang membuatku kagum dengan hanya membaca kisah entah siapa. Tempatnya yang selalu memerah kala raja siang bertengger dikaki langit, elok bukan kepalang. Tidak lagi semburat cahaya merah meruam dengan sapuan tipis awan di tepi pantai, menurut imajiku Alhambra tidak sekedar dinasti wisata. Duduk bersandar granada (delima), di atas bukit Sacromonte di timur Albaicin, Granada. Entah kapan aku menyebrangi lautan nun jauh untuk tiba disana."
Dari satu sumber bacaan, waktu yang sama 24 jam, tujuh hari jumlah pekan yang tidak beda, siang dan malam sama adanya. Tak lantas itu semua menjadi nutrisi bagi kedua jiwa pembaca. Mungkin yang satu terkagum membaca hingga ia berusaha berlayar jauh menghantam senyap lautan tak bertuan, yang satu lagi kagum tiada kepalang hanya dalam lamunan. Sama-sama membaca kisah yang sama, tidak lantas menjadikan keduanya sama.
Tahu pengamen jalan di bus-bus kota? Tahu Agnes Monika? Keduanya sama bernyanyi, tapi apakah memang sama? Tentu tidak. Yang satu nyanyi sekedar nyanyi, berisik mengganggu mungkin iya, tapi yang satunya bernyanyi dengan skill yang dioptimalkan seningga mendapat tepuk tangan kebanggaan.
Life is choices. Ungkapan kalimat yang simpel terdengar, kadang sepele hanya mengisi ruang hampa dalam pemanis kata, tak ubahnya pemanis buatan. Semakin sering dikecap bukan lagi manis terasa, pahit yang ada. Semakin sering diucap tanpa berusaha, semakin pahit kenyataan yang ia terima.
Kita adalah tuan bagi diri kita, mau menjadi apa atau seperti apa kita yang menentukannya. Kita akan dihargai sesuai dengan pilihan yang kita tetapkan. Orang akan berbeda menghargai CEO perusahaan tepung terigu dipojok jalan yang becek dengan CEO perusahaan tepung terigu segitiga biru di gedung perkantoran.
Kebanyakan orang hanya terfokus kepada hasil akhir, bukan pada proses memilih berbagai pilihan yang akan mengantarkannya pada tujuan. Meliahat anak-anak tampil dengan bacaan dan hapalan al-Quran yang sangat menakjubkan misalnya, orang-orang hanya terkagum dan menganggapnya suatu hal yang ‘wah’ yang tidak bisa dijangkau olehnya tanpa berpikir pilihan apa yang yang diambil oleh orang tua si anak dalam mendidiknya sehingga sang anak tumbuh menjadi sangat menawan hati.
Felix Y. Siauw berkata bahwa, “Today is yesterday and testerday is today” benar adanya. Karena adanya kita hari ini adalah implementasi pilihan-pilihan yang kita ambil kemarin, dan pilihan-pilihan kita kemarin menentukan kita akan seperti apa hari ini.
Dengan ringannya orang-orang berkata bahwa seorang mualaf dapat masuk Islam dan mendapatkan pemahaman keislaman yang lebih baik dari muslim sejak lahir adalah karena mendapatkan hidayah-Nya. Mereka seakan menutup mata dengan berbagai ungkapan, dan melupakan pilihan apa saja yang para mualaf ambil hingga akhirnya mereka sampai pada pemahaman Islam.
Sedikit hal mengenai hidayah, Gengs sadarkah ada kekeliruan dalam memahaminya? Memang, hidayah adalah hak peto yang hanya dimiliki-Nya. Hidayah bukan sesuatu yang akan datang tanpa diusahakan. Tahu mengapa salah satu nama lain dari al-Quran adalah al-Huda? Karena melalui al-Quran itulah Allah menunjukan jalan yang menuju kepada-Nya. So? Jika memnag betul ingin mendapatkan hidayah, baca al-Quran, pahami, hayati setiap maknanya, hayati keindahannya, berdo’a pada Sang Mahakuasa.
Ketika kita menginginkan untuk menjadi sosok seperti seseorang yang kita kagumi mudah saja. Mulai hari ini, pilihlah pilihan yang diambil oleh orang yang kita menginginkan untuk menjadi sepertinya itu, mudah saja bukan? Apakah hanya sesederhana itu? Ya, tentu, hanya sesederhana itu! Kita akan menjadi sepertinya dengan versi diri kita.
Masih ungkapan Siauw, “One time, one choice”. Sebuah pilihan yang berbeda tidak bisa diambil bersamaan dalam waktu yang sama. Satu waktu hanya untuk satu pilihan. Seperti saatnya sekarang, untuk membaca tulisan hingga sampai disini kita harus meningalkan paragraf sebelumnya. Atau mungkin seperti saya yang memilih untuk menulis ini dan meninggalkan pilihan untuk membaca.
Begitulah kiranya dalam berislam. Berislam bukan soal siapa yang mendapat hidayah dan siapa yang belum mendapat hidayah. Berislam adalah pilihan, “Laaa ikrooha fid-diin,...” tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam,... (QS. Al-Baqarah [2]: 256). Jelas, tegas. Allah menghadirkan Islam sebagai pilihan hidup, bukan sebagai legalisasi otoriter bagi non-Islam untuk memilih Islam. Ketika kita memutuskan untuk memilih Islam maka tidak bisa dalam waktu bersamaan melanggar ketentuan Islam, lah bukankan kita sudah memilihnya?
Setiap pilihan memiliki investasi, konsekuensi, dan risiko tertentu. Tidak satupun dari pilihan tanpa adanya ketiga hal tersebut. Investasi adalah ‘modal awal’ yang harus kita keluarkan saat akan memilih suatu pilihan. Konsekuensi disini tidak lain adalah apa yang akan datang menimpa kita saat memutuskan suatu pilihan. Adapun risiko adalah apa yang akan kita dapatkan kemudian setelah menetapkan pilihan atau saat menjalani sebuah pilihan. Tidak ada istilah hidup poya-poya, kaya di dunia, mati masuk surga. Ngawur itu.
Ketika kita hendak berislam, maka kita harus berinvestasi dengan menanggalkan seluruh kejahiliyahan, konsekuensinya adalah siap diatur oleh aturan Islam, kemudian apabila taat kepada Allah dalam berislam maka risiko yang akan diterima adalah dimasukan kedalam Surga-Nya. Menentukan pilihan berislam bukanlah pilihan yang ringan, berislam adalah pilihan yang sangat besar. Semakin besar pilihan hidup kita maka semakin besar pula investasi yang harus kita keluarkan, konsekuensi yang harus kita tanggung, dan risiko yang akan kita dapatkan. With great choice comes the great investment, consequences, and risk.
Jumat, 08 Desember 2017
Keep Walking
Sebuah karya tidak akan terlepas dari maksud yang hendak disampaikan oleh si pencipta. Karya memiliki wujud yang beragam, salah satunya adalah tulisan. Dalam tulisanpun banyak juga jenisnya, salah satunya adalah novel. Steatment pembaca tidak dapat terhindar dari perbedaan, positif, negatif, dan biasa saja. Pendapat pribadi dengan lantang menyuarakan steatment-steatment positif terhadap keberadaan novel, karena memandangnya sebagai alternatif dalam menginternalisasi diri dengan nilai-nilai luhur yang Islami. Ketika orang-orang ada yang beranggapan bahwa membaca novel adalah kegiatan yang kurang bermanfaat karena hanya menghabiskan waktu dengan kisah-kisah yang tidak nyata, di lain sisi ada yang beranggapan bahwa pembelajaran yang paling mudah adalah pembelajaran dari kisah-kisah terlepas itu nyata atau tidak, selama isinya tidak hanya “sebuah kisah”.
Novel “Pulang” yang ditulis oleh Tere Liye adalah sebuah kisah yang tidak layak disebut hanya “sebuah kisah”. Pembaca mungkin bertanya-tanya apa yang hendak disampaikan oleh Tere Liye dalam novel Pulangnya. Setelah sampai pada bagian epilog barulah pembaca akan paham apa makna dari judul novel tersebut. Secara utuh penulis menggambarkan perjalanan seorang anak muda dengan ambisi jiwa mudanya menemukan sebuah arti kata pulang pada hakikat pulang yang sebenarnya. Sebuah kisah dari perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit. Pulang kepada panggilan Tuhan.
Ada sebuah penggalan paragraf yang sangat menarik perhatian di lembaran kisah pertama novel tersebut, ketika sang tokoh utama melakukan monolog dalam memperkanalkan dirinya, “Inilah hidupku, dan aku tidak peduli apapun penilain kalian. Toh, aku hidup bukan untuk membahagiakan orang lain, apalagi menghabiskan waktu mendengar komentar mereka.” Pandangan sekilas mungkin akan menganggapnya sebagai ungkapan orang yang apatis terhadap lingkungan sosialnya, orang yang acuh terhadap nilai dirinya dihadapan yang lain, tetapi tidak menutup kemungkinan ada orang yang menganggapnya sebagai sebuah rumusan untuk mencapai apa yang disemogakan.
Pernyataan dari penggalan paragraf tersebut sesuai dengan sebuah istilah yang sangat populer dengan ungkapan, “Anjing mengonggong, kapilah berlalu.” Seorang kapilah yang mengacuhkan gonggongan anjing entah bagaimanapun ia akan sampai pada tujuannya, sedangkan gonggongoan anjing akan semakin samar kemudian hilang tidak terdengar ketika ia fokus melanjutkan perjalanan. Akan lain ceritanya ketika ia meggubris gonggongan anjing dan menyuruhnya diam, ia tidak akan mampu menghentikan gonggongan dan ia pun tidak akan sampai pada tujuan.
Ketika kita menemukan titik balik untuk pulang pada hakikat sebenar-benarnya pulang, abaikanlah semua perkataan orang yang meragukan, bahkan mereka yang mencibir, fokus pada perbaikan dan tujuan awal. Ketika terlalu lelah mendengar semuanya tidak ada yang salah untuk sejenak menghentikan langkah, mundur satu langkah kebelakang untuk melesat seribu langkah kedepan. Ketika terlalu ramai dan memekakan telinga, cukup tetap yakin terhadap kebenaran yang dianggap benar untuk dilakukan sehingga sampai kepada makna pulang. Apalah daya ketika tangan hanya dua, mulut mereka terlalu banyak untuk kita bisa menutupnya, cukuplah kita menutup telingan dengan kedua tangan yang kita punya.
Sabtu, 23 September 2017
Tahan Banting
By. EnpitsuAO
Kebanyakan dari manusia ketika tertimpa kemalangan, kesusahan, atau musibah dalam bentuk kesengsaraan, mereka akan merasa makhluk yang paling menyedihkan di dunia. Mematung berdiam diri, meratap, menyalahkan siapapun dan apapun dalam benak mereka, tak terbilang juga yang mengakhiri nyawa, mereka kira urusan akan berakhir pada kematian, konyol.
Mereka selalu menonggak ke atas, seakan leher mereka terbuat dari beton baja tidak mengalihkan pandangan dari aurora kehidupan orang lain yang menurut versinya itulah kehidupan yang mereka inginkan. Mereka selalu kagum melihat orang-orang hebat memberikan pidato, seminar, simposium, dan lain halnya. Mereka terus bermimpi, menyulam mimpi dalam tidur yang nyenyak tanpa merasa perlu melek dan bangun untuk mewujudkan mimpi itu.
Banyak kalimat motivasi membesarkan hati memenuhi status-status quotes media sosial, mereka hanya sibuk membaca, merasa tergugah seketika, kemudian menyampaikannya kepada yang lain, menunjukan sisi bijaknya dalam mendapatkan citra di hadapan manusia. Tapi nol mereka dapatkan, zonk! Mereka sama sekali tidak melakukan tindakan nyata sebagai wujud tergugahnya hati mereka. Nihil.
Ketika kita melihat seseorang gagah berdiri mentereng dikenal setiap lapisan sosial, melihat betapa tangguhnya ia, betapa beruntungnya ia, betapa takdir berbaik hati padanya. Jangan melihat itu semua sekarang saat ia berdiri kokoh dalam pijakan, tapi tanyakanlah berapa ribu rintangan yang menghadangnya dalam perjalanan, berapa kali ia harus terpuruk dalam dinginnya tangan takdir yang sama sekali tidak pernah dan tidak akan bertanya bagaimana perasaannya saat ia terjerembab jatuh kedalam dasar kenistaan.
Tujuh miliyar penduduk planet bumi galaksi bima sakti ini semuanya dari ayah Adam yang sama, Ibu Hawa yang satu. Mereka memiliki bekal potensi yang juga sama, mereka sama-sama tidak mengetahui sesuatu pun sejak oksigen pertama dihirupnya, jika masih ragu silahkan buka kitab suci yang tidak ada keraguan di dalamnya (QS. Al-Baqarah [2]: 2), buka adz-Dzikru tersebut tepat pada surat ke-16, an-Nahl ayat 78. Berikut terjemah yang dapat dipahami, mudah-mudahan tidak menyalahi arti sesungguhnya. “Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahu sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.”
Proses kehidupan yang mereka jalani yang akan membedakan mereka, nilai mereka akan berbeda satu sama lain tergantung pada kualitas diri mereka yang ditempa dengan berbagai ujian dan cobaan. Ada diantaranya yang sukses menghadapi tempaan hidup, pun banyak diantara mereka hanya mengantongi nilai rendah. Tempaan mereka tak ubahnya seperti dua karbon yang terpaut jauh dalam nilai dan kualitas. Keduanya kita kenal dengan nama berlian dan arang.
Berlian, benda yang satu ini menjadi dambaan banyak kalangan, tidak hanya kaum Hawa yang identik dengan keindahan, kaum Adam pun tidak ketinggalan. Kilaunya yang mengagumkan dapat menyihir setia pasang mata yang memandangnya. Ia menjadi brand dari strata teratas dalam interaksi sosial manusia. Alat pahatnya pun tidak sembarangan, gergajinya sangat khusus, pengrajinnya memperlakukan ia seperti ratu, takut sekali terkena debu, tempat ia bertahta pun dibuat sedemikian rupa nyamannya dibingkai indah etalase kaca menawan penglihatan, kokohnya nyata terlihat.
Mari lihat karbon yang satunya. Ia terlihat legam, si punya meletakkannya diatas tanah tanpa alas, tempatnya berada sama hitam dengan dirinya, jangan tanya bagaimana perlakuan manusia terhadapnya terinjak pun ia tak apa dan dilewatkan begiu saja. Bentuknya tidak beraturan, jauh dari kata kokoh, ia rapuh. Nilainya dapat terlihat sendiri dari kualitasnya.
Berlian, tidak sim salabim memikat hati dengan nilai dan kualitas tinggi. Kokohnya ia tidak lain didapatkan dari tempaan temperatur tinggi, tekanan eksrim, dan dengan waktu yang tidak sebentar lama sekali proses tersebut berlangsung. Beda halnya dengan rapuhnya arang, ia dihasilkan dari temperatur rendah, tekanan seadanya, dan waktu yang terbilang singkat tidak memerlukan waktu lama.
Begitupun manusia. Allah sang Maha Raja dari raja-raja mustahil menempatkan berlian pada posisi arang atau sebaliknya menempatkan arang pada posisi berlian. Ketika datang ujian dari Allah, sejatinya itu adalah temperatur tinggi serta tekanan ekstrim yang terjadi dalam waktu yang tidak singkat. Jika manusia dapat melalui proses tersebut ia akan menjadi berlain, jika ia menyerah lalu keluar menginggaki ujian tersebut akan menjadi kabon kedua yaitu arang.
Sejatinya diri kita bukan milik kita, Allah adalah pemilik jiwa raga segala yang ada di alam raya. Dia tahu kadar kemampuan dari setiap makhluk ciptaan-Nya, mustahil bagi-Nya melakukan kesalahan membebani makhluk dengan beban yang tidak mampu ditanggungnya. Jelas kiranya dalam QS. al-Baqarah [2]: 286 Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan menimpakan sesuatu kepada hambanya diluar batas kemampuannya. Janji Allah adalah sebenar-benarnya janji.
Tidak usah risau menjalani sukarnya belukar hidup yang terhampar. Tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana caranya untuk menjadi seperti orang lain. Cukup tenang, terima dengan lapang, dan jalani setiap proses tempaan hidup, kemudia bersyukur atas setiap nafas yang dapat dihembuskan. Jadilah berlian, jangan lari dari kenyataan yang akan menjadikanmu sebagai arang.
Tidak perlu juga merasa menjadi makhluk paling mengenaskan di dunia, berhenti menonggak gemintang yang berkilauan. Lihatlah betapa beruntungnya dirimu meski itu dalam keadaan yang sangat menyesakan. Tundukan kepalamu, lebih banyak orang dengan nasib dan tempaan yang lebih berat darimu, mereka tidak leluasa mengambil oksigen gratis yang ada di bumi karena sesaknya paru kehidupan mereka. Pengemban risalah mulia, Rasul saw. begitu bijak bersabda tentang larangan bagi pengikutnya untuk melihat kehidupan yang ada di atas yang akan menyebabkannya ingkar terhadap karunia Allah, yang tidak lain memerintahkan untuk melihat kehidupan yang berada di bawah dengannya rasa syukur dan kepedulian akan menyeruak sebagai kualitas pribadi hamba-Nya.
Note: adz-Dzikru adalah nama lain dari al-Quran, dikatakan demikian (adz-Dzikru, yang memberikan peringatan) karena memang al-Quran adalah pemberi peringatan bagi yang membacanya agar senantiasa mingingat-Nya selama menjalani kehidupan di dunia fana.
Oleh: Adetia Siti Nurmalulloh


