Kemana kita akan pergi dan apa
yang akan kita lakukan setelah kelulusan? Pada umumnya itu yang akan menjadi
pertanyaan utama di benak kita. Begitupun denganku yang harus mulai menata
jalan kedepannya untuk mengantarkanku pada semua cita dan asa, perihal kemana
aku akan pergi, aku akan pergi menuju gerbang masuk perguruan tinggi sebagai
langkah awal mewujudkan apa yang aku inginkan. Apa yang akan aku lakukan untuk sampai pada gerbang
tersebut? Realistis saja, sebagai seorang yang tak berlimpah materi aku akan
menjadi “pemburu beasiswa” bersaing dengan dunia nyata. Meskipun demikian, aku
tidak ingin sama seperti kabanyakan orang diluar sana yang terfokus pada
beasiswa-beasiswa dan jalur masuk lainnya untuk masuk perguruan tinggi. Aku
yakin bahwa semua usaha yang telah aku lakukan akan mendapatkan hasil terbaik
dari Allah SWT. maka dari itu aku akan memprioritaskan Allah dalam semua
usahaku dengan senantiasa konsisten menjaga shalat malam dan duha, berdoa
dikala orang-orang terlelap dan orang-orang sibuk beraktifitas. Bisa dibilang
aku adalah remaja dengan penuh mimpi dan harapan akan perubahan menjadi lebih
baik dari sebelumnya, aku bersikap “tuli” tuli pada teriakan-teriakan pesimis
dan aku “buta” pada sikap pragmatis. Jika terdapat 99% kemunginan gagal dalam
mewujudkan harapan, maka aku akan mencari 1% kemungkinan yang tersisa untuk
mencapai kesuksesan. Aku ingin menjadi konsultan politik, entah itu bagaimana.
Aku hanya berlandaskan pada kekuatan tekad untuk menjadi bagian dari kejayaan
islam. Ada 3 aspek yang menjadi faktor penunjang jayanya islam di dunia, yaitu
ilmu pengetahuan, ekonomi dan kekuasaan. Selain menjadi cendikia muslim yang
menguasai ilmu pengetahuan, aku ingin menjadi bagian dari revolusi kekuasaan
islam. Mimpiku tidak hanya sebatas konsultan politik , aku juga ingin menjadi
jurnalis untuk turut aktif dengan jihad bil kitabah. Itulah garis utama
impianku, menjadi cendikia konsultan politik yang aktif di dunia jjurnalistik,
dan untuk mewujudkannya aku akan melalui setiap proses di universitas
padjajaran dengan sungguh-sungguh. Selain itu aku juga ingin menjadi konselor
melalui fakultas bimbingan konseling di universitas negri islam yogyakarta.
Terlepas hal-hal di atas, aku sngat berharap dapat mengunjungi satu tempat
selain kunjungan wajib ke Makkah menjadi tamu Allah saat ku mampu, aku ingin
pergi ke london menginjakan kakiku di atas jembatan mewahnya, entah itu
bagaimana yang jelas aku akan pergi ke sana. Kehidupan di luar memang tak
selalu menawarkan kemudahan, dari sekian kemudahan tersebut lebih banyak
kemungkinan hidup yang menakutkan, walau demikian satu kalimat yang selalu aku
ingat “rasakanlah ketakutan itu lalu lakukanlah”, ketakutan itu bukan untuk
dihindari tapi untuk dinikmati, karena bersama ketakutan itulah akhir kita dalam
kebahagiaan. Terimakasih PPI 109 Kujang, karenamu aku berani bermimpi dan
berharap.