Sabtu, 02 April 2016

Banyak cerita bagaimana mereka bahagia, terlampau banyak kisah kebijaksanaan hidup yang kita baca, menjadikan kita ingin bahagia seperti mereka tanpa rinci terhadap perjuangannya dan tak satupun tak kebijaksanaan hidup yang kita miliki karena hanya berangan saat membaca lantas lupa saat buku tak lagi terbuka,,. Berhentilah dari bayangan kebahagiaan mereka,  kita perlu berbagi kebahagiaan yang kita miliki detail dengan perjuangan sehingga terbesit dalam benak mereka ingin seperti  kita, temukan lah kebijaksanaan hidup yang sesuai dengan diri kita ataupun yang kita sesuaikan dengan nya,,. Kita hanya perlu sedikit merubah alur hati, yang tadinya benci menjadi kasih sayang, yang tadinya terpaksa menjadi sukarela, yang tadinya menyedihkan kita bergembira, yang tadinya jenuh kita meriahkan,, hanya seperti itu,. Dengannya kita tak akan brangan kebahagiaan penuh kebijaksanaan hidup yang mereka miliki, cukup merasa bahagia dengan kebijaksanaan yang akan kita miliki,,.  Kebahagiaan dan kebijaksanaan hidup tak kan datang sendiri memenuhi sebuah kebetulan, keduanya tak kan pernah terpenuhi dengan kekosongan,  kosong hati dan wawasan, keduanya terwujud atas batu dan wawasan

Jumat, 18 Maret 2016

konkrit dalam abstrak

kisah yang sederhana dalam keseharian tak kan sesederhana saat terkenang penuh makna dan kisah istimewa dalam moment kehidupan tak kan seistimewa saat berlalu tanpa harap...
maka kenanglah keistimewaan dengan penuh makna yang berlalu penuh harap....
tak mengapa bila kau harus menunggu walau sesak dan perih melalui itu semua, mimpi akan apa yang kita tunggu selalu menjanjikan bahagia...
waktu yang cepat berlalu, jarak yang terbentang,bukan alasan sirnanya keistimewaan...
istimewa bukanlah soal bagaiman, kapan dan mengapa, apalagi soal harga...
istimewa adalah soal nilai dan siapa....
istimewa tak kan tersisih oleh yang selalu ada..
tak seperti musafir singgah bersinggahsana istimewa yang kan berlalu dengan keistimewaannya. kenangan akannya segera menguap berganti dengan kehadiran sederhana yang selalu ada..
itulah kenangan yang konkrit dalam keabstrakkan...

Sabtu, 05 Maret 2016

1% from 99%


Kemana kita akan pergi dan apa yang akan kita lakukan setelah kelulusan? Pada umumnya itu yang akan menjadi pertanyaan utama di benak kita. Begitupun denganku yang harus mulai menata jalan kedepannya untuk mengantarkanku pada semua cita dan asa, perihal kemana aku akan pergi, aku akan pergi menuju gerbang masuk perguruan tinggi sebagai langkah awal mewujudkan apa yang aku inginkan. Apa yang  akan aku lakukan untuk sampai pada gerbang tersebut? Realistis saja, sebagai seorang yang tak berlimpah materi aku akan menjadi “pemburu beasiswa” bersaing dengan dunia nyata. Meskipun demikian, aku tidak ingin sama seperti kabanyakan orang diluar sana yang terfokus pada beasiswa-beasiswa dan jalur masuk lainnya untuk masuk perguruan tinggi. Aku yakin bahwa semua usaha yang telah aku lakukan akan mendapatkan hasil terbaik dari Allah SWT. maka dari itu aku akan memprioritaskan Allah dalam semua usahaku dengan senantiasa konsisten menjaga shalat malam dan duha, berdoa dikala orang-orang terlelap dan orang-orang sibuk beraktifitas. Bisa dibilang aku adalah remaja dengan penuh mimpi dan harapan akan perubahan menjadi lebih baik dari sebelumnya, aku bersikap “tuli” tuli pada teriakan-teriakan pesimis dan aku “buta” pada sikap pragmatis. Jika terdapat 99% kemunginan gagal dalam mewujudkan harapan, maka aku akan mencari 1% kemungkinan yang tersisa untuk mencapai kesuksesan. Aku ingin menjadi konsultan politik, entah itu bagaimana. Aku hanya berlandaskan pada kekuatan tekad untuk menjadi bagian dari kejayaan islam. Ada 3 aspek yang menjadi faktor penunjang jayanya islam di dunia, yaitu ilmu pengetahuan, ekonomi dan kekuasaan. Selain menjadi cendikia muslim yang menguasai ilmu pengetahuan, aku ingin menjadi bagian dari revolusi kekuasaan islam. Mimpiku tidak hanya sebatas konsultan politik , aku juga ingin menjadi jurnalis untuk turut aktif dengan jihad bil kitabah. Itulah garis utama impianku, menjadi cendikia konsultan politik yang aktif di dunia jjurnalistik, dan untuk mewujudkannya aku akan melalui setiap proses di universitas padjajaran dengan sungguh-sungguh. Selain itu aku juga ingin menjadi konselor melalui fakultas bimbingan konseling di universitas negri islam yogyakarta. Terlepas hal-hal di atas, aku sngat berharap dapat mengunjungi satu tempat selain kunjungan wajib ke Makkah menjadi tamu Allah saat ku mampu, aku ingin pergi ke london menginjakan kakiku di atas jembatan mewahnya, entah itu bagaimana yang jelas aku akan pergi ke sana. Kehidupan di luar memang tak selalu menawarkan kemudahan, dari sekian kemudahan tersebut lebih banyak kemungkinan hidup yang menakutkan, walau demikian satu kalimat yang selalu aku ingat “rasakanlah ketakutan itu lalu lakukanlah”, ketakutan itu bukan untuk dihindari tapi untuk dinikmati, karena bersama ketakutan itulah akhir kita dalam kebahagiaan. Terimakasih PPI 109 Kujang, karenamu aku berani bermimpi dan berharap.