Sabtu, 09 Desember 2017

Life is Choices

By. Adetiasitinurmaluloh

"Alhambra, nama tempat yang entah kapan aku bisa menyambanginya dalam suatu perjalanan. Sebuah nama yang membuatku kagum dengan hanya membaca kisah entah siapa. Tempatnya yang selalu memerah kala raja siang bertengger dikaki langit, elok bukan kepalang. Tidak lagi semburat cahaya merah meruam dengan sapuan tipis awan di tepi pantai, menurut imajiku Alhambra tidak sekedar dinasti wisata. Duduk bersandar granada (delima), di atas bukit Sacromonte di timur Albaicin, Granada. Entah kapan aku menyebrangi lautan nun jauh untuk tiba disana."
Dari satu sumber bacaan, waktu yang sama 24 jam, tujuh hari jumlah pekan yang tidak beda, siang dan malam sama adanya. Tak lantas itu semua menjadi nutrisi bagi kedua jiwa pembaca. Mungkin yang satu terkagum membaca hingga ia berusaha berlayar jauh menghantam senyap lautan tak bertuan, yang satu lagi kagum tiada kepalang hanya dalam lamunan. Sama-sama membaca kisah yang sama, tidak lantas menjadikan keduanya sama.
Tahu pengamen jalan di bus-bus kota? Tahu Agnes Monika? Keduanya sama bernyanyi, tapi apakah memang sama? Tentu tidak. Yang satu nyanyi sekedar nyanyi, berisik mengganggu mungkin iya, tapi yang satunya bernyanyi dengan skill yang dioptimalkan seningga mendapat tepuk tangan kebanggaan.
Life is choices. Ungkapan kalimat yang simpel terdengar, kadang sepele hanya mengisi ruang hampa dalam pemanis kata, tak ubahnya pemanis buatan. Semakin sering dikecap bukan lagi manis terasa, pahit yang ada. Semakin sering diucap tanpa berusaha, semakin pahit kenyataan yang ia terima.
Kita adalah tuan bagi diri kita, mau menjadi apa atau seperti apa kita yang menentukannya. Kita akan dihargai sesuai dengan pilihan yang kita tetapkan. Orang akan berbeda menghargai CEO perusahaan tepung terigu dipojok jalan yang becek dengan CEO perusahaan tepung terigu segitiga biru di gedung perkantoran.
Kebanyakan orang hanya terfokus kepada hasil akhir, bukan pada proses memilih berbagai pilihan yang akan mengantarkannya pada tujuan. Meliahat anak-anak tampil dengan bacaan dan hapalan al-Quran yang sangat menakjubkan misalnya, orang-orang hanya terkagum dan menganggapnya suatu hal yang ‘wah’ yang tidak bisa dijangkau olehnya tanpa berpikir pilihan apa yang yang diambil oleh orang tua si anak dalam mendidiknya sehingga sang anak tumbuh menjadi sangat menawan hati.
Felix Y. Siauw berkata bahwa, “Today is yesterday and testerday is today” benar adanya. Karena adanya kita hari ini adalah implementasi pilihan-pilihan yang kita ambil kemarin, dan pilihan-pilihan kita kemarin menentukan kita akan seperti apa hari ini.
Dengan ringannya orang-orang berkata bahwa seorang mualaf dapat masuk Islam dan mendapatkan pemahaman keislaman yang lebih baik dari muslim sejak lahir adalah karena mendapatkan hidayah-Nya. Mereka seakan menutup mata dengan berbagai ungkapan, dan melupakan pilihan apa saja yang para mualaf ambil hingga akhirnya mereka sampai pada pemahaman Islam.
Sedikit hal mengenai hidayah, Gengs sadarkah ada kekeliruan dalam memahaminya? Memang, hidayah adalah hak peto yang hanya dimiliki-Nya. Hidayah bukan sesuatu yang akan datang tanpa diusahakan. Tahu mengapa salah satu nama lain dari al-Quran adalah al-Huda? Karena melalui al-Quran itulah Allah menunjukan jalan yang menuju kepada-Nya. So? Jika memnag betul ingin mendapatkan hidayah, baca al-Quran, pahami, hayati setiap maknanya, hayati keindahannya, berdo’a pada Sang Mahakuasa.
Ketika kita menginginkan untuk menjadi sosok seperti seseorang yang kita kagumi mudah saja. Mulai hari ini, pilihlah pilihan yang diambil oleh orang yang kita menginginkan untuk menjadi sepertinya itu, mudah saja bukan? Apakah hanya sesederhana itu? Ya, tentu, hanya sesederhana itu! Kita akan menjadi sepertinya dengan versi diri kita.
Masih ungkapan Siauw, “One time, one choice”. Sebuah pilihan yang berbeda tidak bisa diambil bersamaan dalam waktu yang sama. Satu waktu hanya untuk satu pilihan. Seperti saatnya sekarang, untuk membaca tulisan hingga sampai disini kita harus meningalkan paragraf sebelumnya. Atau mungkin seperti saya yang memilih untuk menulis ini dan meninggalkan pilihan untuk membaca.
Begitulah kiranya dalam berislam. Berislam bukan soal siapa yang mendapat hidayah dan siapa yang belum mendapat hidayah. Berislam adalah pilihan, “Laaa ikrooha fid-diin,...” tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam,... (QS. Al-Baqarah [2]: 256). Jelas, tegas. Allah menghadirkan Islam sebagai pilihan hidup, bukan sebagai legalisasi otoriter bagi non-Islam untuk memilih Islam. Ketika kita memutuskan untuk memilih Islam maka tidak bisa dalam waktu bersamaan melanggar ketentuan Islam, lah bukankan kita sudah memilihnya?
Setiap pilihan memiliki investasi, konsekuensi, dan risiko tertentu. Tidak satupun dari pilihan tanpa adanya ketiga hal tersebut. Investasi adalah ‘modal awal’ yang harus kita keluarkan saat akan memilih suatu pilihan. Konsekuensi disini tidak lain adalah apa yang akan datang menimpa kita saat memutuskan suatu pilihan. Adapun risiko adalah apa yang akan kita dapatkan kemudian setelah menetapkan pilihan atau saat menjalani sebuah pilihan. Tidak ada istilah hidup poya-poya, kaya di dunia, mati masuk surga. Ngawur itu.
Ketika kita hendak berislam, maka kita harus berinvestasi dengan menanggalkan seluruh kejahiliyahan, konsekuensinya adalah siap diatur oleh aturan Islam, kemudian apabila taat kepada Allah dalam berislam maka risiko yang akan diterima adalah dimasukan kedalam Surga-Nya. Menentukan pilihan berislam bukanlah pilihan yang ringan, berislam adalah pilihan yang sangat besar. Semakin besar pilihan hidup kita maka semakin besar pula investasi yang harus kita keluarkan, konsekuensi yang harus kita tanggung, dan risiko yang akan kita dapatkan. With great choice comes the great investment, consequences, and risk.

Jumat, 08 Desember 2017

Keep Walking

Sebuah karya tidak akan terlepas dari maksud yang hendak disampaikan oleh si pencipta. Karya memiliki wujud yang beragam, salah satunya adalah tulisan. Dalam tulisanpun banyak juga jenisnya, salah satunya adalah novel. Steatment pembaca tidak dapat terhindar dari perbedaan, positif, negatif, dan biasa saja. Pendapat pribadi dengan lantang menyuarakan steatment-steatment positif terhadap keberadaan novel, karena memandangnya sebagai alternatif dalam menginternalisasi diri dengan nilai-nilai luhur yang Islami. Ketika orang-orang ada yang beranggapan bahwa membaca novel adalah kegiatan yang kurang bermanfaat karena hanya menghabiskan waktu dengan kisah-kisah yang tidak nyata, di lain sisi ada yang beranggapan bahwa pembelajaran yang paling mudah adalah pembelajaran dari kisah-kisah terlepas itu nyata atau tidak, selama isinya tidak hanya “sebuah kisah”.
Novel “Pulang” yang ditulis oleh Tere Liye adalah sebuah kisah yang tidak layak disebut hanya “sebuah kisah”. Pembaca mungkin bertanya-tanya apa yang hendak disampaikan oleh Tere Liye dalam novel Pulangnya. Setelah sampai pada bagian epilog barulah pembaca akan paham apa makna dari judul novel tersebut. Secara utuh penulis menggambarkan perjalanan seorang anak muda dengan ambisi jiwa mudanya menemukan sebuah arti kata pulang pada hakikat pulang yang sebenarnya. Sebuah kisah dari perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit. Pulang kepada panggilan Tuhan.
Ada sebuah penggalan paragraf yang sangat menarik perhatian di lembaran kisah pertama novel tersebut, ketika sang tokoh utama melakukan monolog dalam memperkanalkan dirinya, “Inilah hidupku, dan aku tidak peduli apapun penilain kalian. Toh, aku hidup bukan untuk membahagiakan orang lain, apalagi menghabiskan waktu mendengar komentar mereka.” Pandangan sekilas mungkin akan menganggapnya sebagai ungkapan orang yang apatis terhadap lingkungan sosialnya, orang yang acuh terhadap nilai dirinya dihadapan yang lain, tetapi tidak menutup kemungkinan ada orang yang menganggapnya sebagai sebuah rumusan untuk mencapai apa yang disemogakan.
Pernyataan dari penggalan paragraf tersebut sesuai dengan sebuah istilah yang sangat populer dengan ungkapan, “Anjing mengonggong, kapilah berlalu.” Seorang kapilah yang mengacuhkan gonggongan anjing entah bagaimanapun ia akan sampai pada tujuannya, sedangkan gonggongoan anjing akan semakin samar kemudian hilang tidak terdengar ketika ia fokus melanjutkan perjalanan. Akan lain ceritanya ketika ia meggubris gonggongan anjing dan menyuruhnya diam, ia tidak akan mampu menghentikan gonggongan dan ia pun tidak akan sampai pada tujuan.
Ketika kita menemukan titik balik untuk pulang pada hakikat sebenar-benarnya pulang, abaikanlah semua perkataan orang yang meragukan, bahkan mereka yang mencibir, fokus pada perbaikan dan tujuan awal. Ketika terlalu lelah mendengar semuanya tidak ada yang salah untuk sejenak menghentikan langkah, mundur satu langkah kebelakang untuk melesat seribu langkah kedepan. Ketika terlalu ramai dan memekakan telinga, cukup tetap yakin terhadap kebenaran yang dianggap benar untuk dilakukan sehingga sampai kepada makna pulang. Apalah daya ketika tangan hanya dua, mulut mereka terlalu banyak untuk kita bisa menutupnya, cukuplah kita menutup telingan dengan kedua tangan yang kita punya.

Sabtu, 23 September 2017

Tahan Banting

By. EnpitsuAO

Kebanyakan dari manusia ketika tertimpa kemalangan, kesusahan, atau musibah dalam bentuk kesengsaraan, mereka akan merasa makhluk yang paling menyedihkan di dunia. Mematung berdiam diri, meratap, menyalahkan siapapun dan apapun dalam benak mereka, tak terbilang juga yang mengakhiri nyawa, mereka kira urusan akan berakhir pada kematian, konyol.

Mereka selalu menonggak ke atas, seakan leher mereka terbuat dari beton baja tidak mengalihkan pandangan dari aurora kehidupan orang lain yang menurut versinya itulah kehidupan yang mereka inginkan. Mereka selalu kagum melihat orang-orang hebat memberikan pidato, seminar, simposium, dan lain halnya. Mereka terus bermimpi, menyulam mimpi dalam tidur yang nyenyak tanpa merasa perlu melek dan bangun untuk mewujudkan mimpi itu.

Banyak kalimat motivasi membesarkan hati memenuhi status-status quotes media sosial, mereka hanya sibuk membaca, merasa tergugah seketika, kemudian menyampaikannya kepada yang lain, menunjukan sisi bijaknya dalam mendapatkan citra di hadapan manusia. Tapi nol mereka dapatkan, zonk! Mereka sama sekali tidak melakukan tindakan nyata sebagai wujud tergugahnya hati mereka. Nihil.

Ketika kita melihat seseorang gagah berdiri mentereng dikenal setiap lapisan sosial, melihat betapa tangguhnya ia, betapa beruntungnya ia, betapa takdir berbaik hati padanya. Jangan melihat itu semua sekarang saat ia berdiri kokoh dalam pijakan, tapi tanyakanlah berapa ribu rintangan yang menghadangnya dalam perjalanan, berapa kali ia harus terpuruk dalam dinginnya tangan takdir yang sama sekali tidak pernah dan tidak akan bertanya bagaimana perasaannya saat ia terjerembab jatuh kedalam dasar kenistaan.

Tujuh miliyar penduduk planet bumi galaksi bima sakti ini semuanya dari ayah Adam yang sama, Ibu Hawa yang satu. Mereka memiliki bekal potensi yang juga sama, mereka sama-sama tidak mengetahui sesuatu pun sejak oksigen pertama dihirupnya, jika masih ragu silahkan buka kitab suci yang tidak ada keraguan di dalamnya (QS. Al-Baqarah [2]: 2), buka adz-Dzikru tersebut tepat pada surat ke-16, an-Nahl ayat 78. Berikut terjemah yang dapat dipahami, mudah-mudahan tidak menyalahi arti sesungguhnya. “Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahu sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.”

Proses kehidupan yang mereka jalani yang akan membedakan mereka, nilai mereka akan berbeda satu sama lain tergantung pada kualitas diri mereka yang ditempa dengan berbagai ujian dan cobaan. Ada diantaranya yang sukses menghadapi tempaan hidup, pun banyak diantara mereka hanya mengantongi nilai rendah. Tempaan mereka tak ubahnya seperti dua karbon yang terpaut jauh dalam nilai dan kualitas. Keduanya kita kenal dengan nama berlian dan arang.

Berlian, benda yang satu ini menjadi dambaan banyak kalangan, tidak hanya kaum Hawa yang identik dengan keindahan, kaum Adam pun tidak ketinggalan. Kilaunya yang mengagumkan dapat menyihir setia pasang mata yang memandangnya. Ia menjadi brand dari strata teratas dalam interaksi sosial manusia. Alat pahatnya pun tidak sembarangan, gergajinya sangat khusus, pengrajinnya memperlakukan ia seperti ratu, takut sekali terkena debu, tempat ia bertahta pun dibuat sedemikian rupa nyamannya dibingkai indah etalase kaca menawan penglihatan, kokohnya nyata terlihat.

Mari lihat karbon yang satunya. Ia terlihat legam, si punya meletakkannya diatas tanah tanpa alas, tempatnya berada sama hitam dengan dirinya, jangan tanya bagaimana perlakuan manusia terhadapnya terinjak pun ia tak apa dan dilewatkan begiu saja. Bentuknya tidak beraturan, jauh dari kata kokoh, ia rapuh. Nilainya dapat terlihat sendiri dari kualitasnya.

Berlian, tidak sim salabim memikat hati dengan nilai dan kualitas tinggi. Kokohnya ia tidak lain didapatkan dari tempaan temperatur tinggi, tekanan eksrim, dan  dengan waktu yang tidak sebentar lama sekali proses tersebut berlangsung. Beda halnya dengan rapuhnya arang, ia dihasilkan dari temperatur rendah, tekanan seadanya, dan waktu yang terbilang singkat tidak memerlukan waktu lama.

Begitupun manusia. Allah sang Maha Raja dari raja-raja mustahil menempatkan berlian pada posisi arang atau sebaliknya menempatkan arang pada posisi berlian. Ketika datang ujian dari Allah, sejatinya itu adalah temperatur tinggi serta tekanan ekstrim yang terjadi dalam waktu yang tidak singkat. Jika manusia dapat melalui proses tersebut ia akan menjadi berlain, jika ia menyerah lalu keluar menginggaki ujian tersebut akan menjadi kabon kedua yaitu arang.

Sejatinya diri kita bukan milik kita, Allah adalah pemilik jiwa raga segala yang ada di alam raya. Dia tahu kadar kemampuan dari setiap makhluk ciptaan-Nya, mustahil bagi-Nya melakukan kesalahan membebani makhluk dengan beban yang tidak mampu ditanggungnya. Jelas kiranya dalam QS. al-Baqarah [2]: 286 Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan menimpakan sesuatu kepada hambanya diluar batas kemampuannya. Janji Allah adalah sebenar-benarnya janji.

Tidak usah risau menjalani sukarnya belukar hidup yang terhampar. Tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana caranya untuk menjadi seperti orang lain. Cukup tenang, terima dengan lapang, dan jalani setiap proses tempaan hidup, kemudia bersyukur atas setiap nafas yang dapat dihembuskan. Jadilah berlian, jangan lari dari kenyataan yang akan menjadikanmu sebagai arang.

Tidak perlu juga merasa menjadi makhluk paling mengenaskan di dunia, berhenti menonggak gemintang yang berkilauan. Lihatlah betapa beruntungnya dirimu meski itu dalam keadaan yang sangat menyesakan. Tundukan kepalamu, lebih banyak orang dengan nasib dan tempaan yang lebih berat darimu, mereka tidak leluasa mengambil oksigen gratis yang ada di bumi karena sesaknya paru kehidupan mereka. Pengemban risalah mulia, Rasul saw. begitu bijak bersabda tentang larangan bagi pengikutnya untuk melihat kehidupan yang ada di atas yang akan menyebabkannya ingkar terhadap karunia Allah, yang tidak lain memerintahkan untuk melihat kehidupan yang berada di bawah dengannya rasa syukur dan kepedulian akan menyeruak sebagai kualitas pribadi hamba-Nya.

Note: adz-Dzikru adalah nama lain dari al-Quran, dikatakan demikian (adz-Dzikru, yang memberikan peringatan) karena memang al-Quran adalah pemberi peringatan bagi yang membacanya agar senantiasa mingingat-Nya selama menjalani kehidupan di dunia fana.

Oleh: Adetia Siti Nurmalulloh

Tahan Banting

By. EnpitsuAO

Kebanyakan dari manusia ketika tertimpa kemalangan, kesusahan, atau musibah dalam bentuk kesengsaraan, mereka akan merasa makhluk yang paling menyedihkan di dunia. Mematung berdiam diri, meratap, menyalahkan siapapun dan apapun dalam benak mereka, tak terbilang juga yang mengakhiri nyawa, mereka kira urusan akan berakhir pada kematian, konyol.

Mereka selalu menonggak ke atas, seakan leher mereka terbuat dari beton baja tidak mengalihkan pandangan dari aurora kehidupan orang lain yang menurut versinya itulah kehidupan yang mereka inginkan. Mereka selalu kagum melihat orang-orang hebat memberikan pidato, seminar, simposium, dan lain halnya. Mereka terus bermimpi, menyulam mimpi dalam tidur yang nyenyak tanpa merasa perlu melek dan bangun untuk mewujudkan mimpi itu.

Banyak kalimat motivasi membesarkan hati memenuhi status-status quotes media sosial, mereka hanya sibuk membaca, merasa tergugah seketika, kemudian menyampaikannya kepada yang lain, menunjukan sisi bijaknya dalam mendapatkan citra di hadapan manusia. Tapi nol mereka dapatkan, zonk! Mereka sama sekali tidak melakukan tindakan nyata sebagai wujud tergugahnya hati mereka. Nihil.

Ketika kita melihat seseorang gagah berdiri mentereng dikenal setiap lapisan sosial, melihat betapa tangguhnya ia, betapa beruntungnya ia, betapa takdir berbaik hati padanya. Jangan melihat itu semua sekarang saat ia berdiri kokoh dalam pijakan, tapi tanyakanlah berapa ribu rintangan yang menghadangnya dalam perjalanan, berapa kali ia harus terpuruk dalam dinginnya tangan takdir yang sama sekali tidak pernah dan tidak akan bertanya bagaimana perasaannya saat ia terjerembab jatuh kedalam dasar kenistaan.

Tujuh miliyar penduduk planet bumi galaksi bima sakti ini semuanya dari ayah Adam yang sama, Ibu Hawa yang satu. Mereka memiliki bekal potensi yang juga sama, mereka sama-sama tidak mengetahui sesuatu pun sejak oksigen pertama dihirupnya, jika masih ragu silahkan buka kitab suci yang tidak ada keraguan di dalamnya (QS. Al-Baqarah [2]: 2), buka adz-Dzikru tersebut tepat pada surat ke-16, an-Nahl ayat 78. Berikut terjemah yang dapat dipahami, mudah-mudahan tidak menyalahi arti sesungguhnya. “Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahu sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.”

Proses kehidupan yang mereka jalani yang akan membedakan mereka, nilai mereka akan berbeda satu sama lain tergantung pada kualitas diri mereka yang ditempa dengan berbagai ujian dan cobaan. Ada diantaranya yang sukses menghadapi tempaan hidup, pun banyak diantara mereka hanya mengantongi nilai rendah. Tempaan mereka tak ubahnya seperti dua karbon yang terpaut jauh dalam nilai dan kualitas. Keduanya kita kenal dengan nama berlian dan arang.

Berlian, benda yang satu ini menjadi dambaan banyak kalangan, tidak hanya kaum Hawa yang identik dengan keindahan, kaum Adam pun tidak ketinggalan. Kilaunya yang mengagumkan dapat menyihir setia pasang mata yang memandangnya. Ia menjadi brand dari strata teratas dalam interaksi sosial manusia. Alat pahatnya pun tidak sembarangan, gergajinya sangat khusus, pengrajinnya memperlakukan ia seperti ratu, takut sekali terkena debu, tempat ia bertahta pun dibuat sedemikian rupa nyamannya dibingkai indah etalase kaca menawan penglihatan, kokohnya nyata terlihat.

Mari lihat karbon yang satunya. Ia terlihat legam, si punya meletakkannya diatas tanah tanpa alas, tempatnya berada sama hitam dengan dirinya, jangan tanya bagaimana perlakuan manusia terhadapnya terinjak pun ia tak apa dan dilewatkan begiu saja. Bentuknya tidak beraturan, jauh dari kata kokoh, ia rapuh. Nilainya dapat terlihat sendiri dari kualitasnya.

Berlian, tidak sim salabim memikat hati dengan nilai dan kualitas tinggi. Kokohnya ia tidak lain didapatkan dari tempaan temperatur tinggi, tekanan eksrim, dan  dengan waktu yang tidak sebentar lama sekali proses tersebut berlangsung. Beda halnya dengan rapuhnya arang, ia dihasilkan dari temperatur rendah, tekanan seadanya, dan waktu yang terbilang singkat tidak memerlukan waktu lama.

Begitupun manusia. Allah sang Maha Raja dari raja-raja mustahil menempatkan berlian pada posisi arang atau sebaliknya menempatkan arang pada posisi berlian. Ketika datang ujian dari Allah, sejatinya itu adalah temperatur tinggi serta tekanan ekstrim yang terjadi dalam waktu yang tidak singkat. Jika manusia dapat melalui proses tersebut ia akan menjadi berlain, jika ia menyerah lalu keluar menginggaki ujian tersebut akan menjadi kabon kedua yaitu arang.

Sejatinya diri kita bukan milik kita, Allah adalah pemilik jiwa raga segala yang ada di alam raya. Dia tahu kadar kemampuan dari setiap makhluk ciptaan-Nya, mustahil bagi-Nya melakukan kesalahan membebani makhluk dengan beban yang tidak mampu ditanggungnya. Jelas kiranya dalam QS. al-Baqarah [2]: 286 Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan menimpakan sesuatu kepada hambanya diluar batas kemampuannya. Janji Allah adalah sebenar-benarnya janji.

Tidak usah risau menjalani sukarnya belukar hidup yang terhampar. Tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana caranya untuk menjadi seperti orang lain. Cukup tenang, terima dengan lapang, dan jalani setiap proses tempaan hidup, kemudia bersyukur atas setiap nafas yang dapat dihembuskan. Jadilah berlian, jangan lari dari kenyataan yang akan menjadikanmu sebagai arang.

Tidak perlu juga merasa menjadi makhluk paling mengenaskan di dunia, berhenti menonggak gemintang yang berkilauan. Lihatlah betapa beruntungnya dirimu meski itu dalam keadaan yang sangat menyesakan. Tundukan kepalamu, lebih banyak orang dengan nasib dan tempaan yang lebih berat darimu, mereka tidak leluasa mengambil oksigen gratis yang ada di bumi karena sesaknya paru kehidupan mereka. Pengemban risalah mulia, Rasul saw. begitu bijak bersabda tentang larangan bagi pengikutnya untuk melihat kehidupan yang ada di atas yang akan menyebabkannya ingkar terhadap karunia Allah, yang tidak lain memerintahkan untuk melihat kehidupan yang berada di bawah dengannya rasa syukur dan kepedulian akan menyeruak sebagai kualitas pribadi hamba-Nya.

Note: adz-Dzikru adalah nama lain dari al-Quran, dikatakan demikian (adz-Dzikru, yang memberikan peringatan) karena memang al-Quran adalah pemberi peringatan bagi yang membacanya agar senantiasa mingingat-Nya selama menjalani kehidupan di dunia fana.

Oleh: Adetia Siti Nurmalulloh

Pribadi Baru

By. EnpitsuAO

Sekilas tak ada bedanya aku dengan mereka, tapi jelas aku berbeda diantara mereka. Secara psikologis kebanyakan orang tidak senang dibandingkan dengan yang lainnya, begitupun aku. Aku menyakini setiap orang adalah pribadi yang unik yang tidak sama satu dan lainnya. Tapi aku tidak bisa lantang mengutarakan pikiranku kepada ayah-ibu yang terkadang lupa membandingkanku dengan yang lain. Aku tahu tidak seharusnya begitu, tapi dengan segala hormat aku menerima itu semua, keduanya hanya ingin menyemangatiku, tak ada yang salah akan hal itu.

Dalam setiap kehidudupan banyak sekali peristiwa yang besebrangan dengan keinginan. Bukankah itu lebih baik daripada semuanya berjalan sesuai apa yang kita inginkan? Betapa membosankan ketika itu terjadi, tidak akan ada yang tahu bagaimana indahnya seni fighting, motivasi, problem soulving, juga konseling.

Jikalah kita bersedia melihat segala hal dari sisi yang berbeda, dari sudut pandang sebaliknya, serta pendirian yang anti mainstream. Sebagai contoh, apa yang dirasakan ketika belum mecapai apa yang kita usaha? Atau ungkapan yang lebih sadis, bagaimana rasanya jika kita gagal ditengah jalan? Jangankan melihat hasil akhir dari perjalan, sampai pada perbatasannyapun tidak. Sakit memang.

Apa yang bisa kita lakukan. Mengumpat nasib? Menghancurkannya kemudian lari? Menyalahkan orang lain? Atau terpuruk meratap masa depan yang menjadi suram? Itu semua mudah dilakukan tapi percalah, dengan berbuat demikian tidak akan mengembalikan harapan kita. Apalagi ketika kita berpangku tangan, lengkap sudah detail sebagai pecundang kehidupan.

Ketahuilah, takdir tidak akan mengiba siapapun di dunia ini. Betapapun kita mengumpatnya, mengeluarkan sumpah serapah tiada henti takdir tidak akan berbalik bahkan menengok pun tidak. Itu hanya akan menunjukan betapa sampahnya hidup kita dengan semua cerecau menjijikan mengotori lisan. Atau ketika kita merasa kesal lantas menghancurkan harapan kita tanpa bentuk lantas lari meninggalkan kenyataan tidak akan mengubah apapun, bahkan sebelum benar-benar menghancurkannya kita akan lebih dulu hancur dengan pil pahit yang dibawanya. Percuma juga ketika lari meninggalkannya secepat pemegang rekor lari tercepat di dunia, kegagalan kita akan tetap menjadi bagian dari kehidupan, tidak akan ada yang berubah. Wah jangan terlintas sedikitpun untuk menyalahkan orang lain dalam kegagalan yang kita temukan, itu hanya akan memperjelas di minus sekian nilai diri kita. Terpuruk? Katakan tidak! Untuk apa meratapi itu dengan tatapan nanar menerawang di dalam bilik kamar bergelung selimut meringkuk di atas dipan, kita hanya akan terlihat seperti pesakitan yang kehilangan jiwa.

Sedih wajar, menangis juga sehat, marah tak ada salahnya. Tapi kehidupan tidak akan berbaik dengan sendirinya, saatnya kita bangkit kembali berusaha demi simpul senyum melihat matahari terbit esok lusa dengan gemilang ada dalam genggaman. Siapa yang dapat melakukan itu? Kita. Kapan kita akan bermetamorfosis dari menjiikan menjadi indah tak berbilang? Saat ini juga. Dimana kita memulai perubahan itu semua? Mulailah dimanapun sekarang kita berada.

Jauh sebelum ditemukannya istilah seni memotivasi diri, training bagaimana mencapai sukses setelah jongkok, konseling bagaimana cara berlari setelah merangkak, Tuhan yang Maha Esa menyampaikan kalam-Nya melalui utusan mulia salallahu ‘alaihi wasallam. Gengs, sudahkah kalian tahu itu? Untaian indah kalimatnya akan membawa kita pada point of view yang berbeda, padangan yang menentramkan jiwa yang gersang. Ungkapan tersebut ada dalam manual book kita sebagai orang yang mengaku muslim tepatnya dalam Quran surat ar-Rad ayat 11, berikut terjemah ayat tersebut, mudah-mudahan tidak menyalahi dan mengurangi sedikitpun hikmah dari firman-Nya. “... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri ...”

Itulah hal hebat yang mampu kita lakukan, mengubah alur kehidupan titipan ini. Tidak mesti kita bertransformasi dalam sekejap, mulailah dari mengubah point of view kita tentang hidup dan kehidupan. Kita hanya perlu membalik sedikit sisi hati kita, ketika kecewa kita dapat menerima, ketika getir kita mampu tersenyum manis, saat kenyataan pahit tertelan anggaplah itu obat mujarab yang mengobati sakit kita, saat semua seolah tidak berpihak kepada kita disanalah akan kita dapatkan kemandirian.

Terlebih dari itu semua, hal menakjubkan yang dapat kita lakukan untuk mengubah total segala yang kita alami adalah berysukur. Mudah memang mengatakannya, tapi tidak demikian ketika akan menjalankannya. Lantas bagaimana kita bisa bersyukur? Ya mulailah, tidak ada jalan lain selain memulainya. Ingin tahu ada apa dengan syukur? Allah dengan jelas menyatakan dalam al-Huda surat Ibrahim ayat 7. Kurang lebih berikut terjemah yang akan disajikan, mudah-mudahan tidak jauh dari maksud ayat tersebut. “... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat.”

Betapa kerennya bersyukur, ketika kita melakukannya Allah dengan tegas menyatakan akan menambahkan nikmat yang telah kita peroleh. Jangan sampai kita tergolong orang yang ingkar nikmat-Nya, rugi dua kali tuh, udah gagal terancam adzab pula. Naudzubillah, serem. Syukuri kegagalan yang kita alami, itu akan lebih menguntungkan, nikmat yang kita peroleh jelas bertambah. Apanya yang nikmat jika kita gagal? Tentu saja nikmat ketika kita berproses membangun kesuksesan berikutnya, indah bukan? Pasti.

Kembali lagi pada proses berubah, bukan berubah seperti power rangers menjadi merah, kuning, biru, hijau, pink, putih, hitam dengan kekuatan masing-masing yang berbeda, tapi kita berubah menjadi pribadi baru dengan pemahaman yang kokoh. Mungkin sempat mampir di telinga pertanyaan orang yang putus asa, jika Allah Maha Pengasih dan Penyayang kenapa pula Dia membiarkan hambanyanya berada dalam kesulitan? Come on! Singkirkan jauh-jauh jangan sampai terngiang dalam ingatan, kunci rapat-rapat setiap pintu yang akan membisikan kembali pertanyaan itu. Ketika kita gundah, gelisah, banyak pertanyaan yang tidak dapat kita jawab buka as-Syifa, insyaallah tenang dah hati kita.

Pada surat kedelapan (al-Anfal) ayat 53, dapat kita pahami dalam terjemahan para mufasir berikut, “... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri...” dalam surat ini kita kembali menemukan perintah agar mengubah keadaan diri kita untuk mendapatkan nikmat yang kita harapkan dari Allah.

Jelaslah sudah bagaimana kita melukiskan indah guratan takdir. Jangan mengumpat dan menyesali kegagalan, bersyukurlah karena itu pernah mewarnai ragam perjalanan. Jangan sedih berkepanjangan ketika belum mencapai harapan, bersyukurlah karena kita diberi keinginan untuk mewujudkannya. Tumbuhkanlah selalu nasihat seorang khalifah yang gagah berani, Umar bin Khatab. “Jika memang itu untukku maka ia tidak akan melewatkanku. Jika ia melawatkanku maka ia bukan untukku.”

Just for your information gengs, al-Huda dan asy-Syifa adalah nama lain dari al-Quran, way of life yang kita miliki.

Oleh: Adetia Siti Nurmaluloh

Pribadi Baru

By. EnpitsuAO

Sekilas tak ada bedanya aku dengan mereka, tapi jelas aku berbeda diantara mereka. Secara psikologis kebanyakan orang tidak senang dibandingkan dengan yang lainnya, begitupun aku. Aku menyakini setiap orang adalah pribadi yang unik yang tidak sama satu dan lainnya. Tapi aku tidak bisa lantang mengutarakan pikiranku kepada ayah-ibu yang terkadang lupa membandingkanku dengan yang lain. Aku tahu tidak seharusnya begitu, tapi dengan segala hormat aku menerima itu semua, keduanya hanya ingin menyemangatiku, tak ada yang salah akan hal itu.

Dalam setiap kehidudupan banyak sekali peristiwa yang besebrangan dengan keinginan. Bukankah itu lebih baik daripada semuanya berjalan sesuai apa yang kita inginkan? Betapa membosankan ketika itu terjadi, tidak akan ada yang tahu bagaimana indahnya seni fighting, motivasi, problem soulving, juga konseling.

Jikalah kita bersedia melihat segala hal dari sisi yang berbeda, dari sudut pandang sebaliknya, serta pendirian yang anti mainstream. Sebagai contoh, apa yang dirasakan ketika belum mecapai apa yang kita usaha? Atau ungkapan yang lebih sadis, bagaimana rasanya jika kita gagal ditengah jalan? Jangankan melihat hasil akhir dari perjalan, sampai pada perbatasannyapun tidak. Sakit memang.

Apa yang bisa kita lakukan. Mengumpat nasib? Menghancurkannya kemudian lari? Menyalahkan orang lain? Atau terpuruk meratap masa depan yang menjadi suram? Itu semua mudah dilakukan tapi percalah, dengan berbuat demikian tidak akan mengembalikan harapan kita. Apalagi ketika kita berpangku tangan, lengkap sudah detail sebagai pecundang kehidupan.

Ketahuilah, takdir tidak akan mengiba siapapun di dunia ini. Betapapun kita mengumpatnya, mengeluarkan sumpah serapah tiada henti takdir tidak akan berbalik bahkan menengok pun tidak. Itu hanya akan menunjukan betapa sampahnya hidup kita dengan semua cerecau menjijikan mengotori lisan. Atau ketika kita merasa kesal lantas menghancurkan harapan kita tanpa bentuk lantas lari meninggalkan kenyataan tidak akan mengubah apapun, bahkan sebelum benar-benar menghancurkannya kita akan lebih dulu hancur dengan pil pahit yang dibawanya. Percuma juga ketika lari meninggalkannya secepat pemegang rekor lari tercepat di dunia, kegagalan kita akan tetap menjadi bagian dari kehidupan, tidak akan ada yang berubah. Wah jangan terlintas sedikitpun untuk menyalahkan orang lain dalam kegagalan yang kita temukan, itu hanya akan memperjelas di minus sekian nilai diri kita. Terpuruk? Katakan tidak! Untuk apa meratapi itu dengan tatapan nanar menerawang di dalam bilik kamar bergelung selimut meringkuk di atas dipan, kita hanya akan terlihat seperti pesakitan yang kehilangan jiwa.

Sedih wajar, menangis juga sehat, marah tak ada salahnya. Tapi kehidupan tidak akan berbaik dengan sendirinya, saatnya kita bangkit kembali berusaha demi simpul senyum melihat matahari terbit esok lusa dengan gemilang ada dalam genggaman. Siapa yang dapat melakukan itu? Kita. Kapan kita akan bermetamorfosis dari menjiikan menjadi indah tak berbilang? Saat ini juga. Dimana kita memulai perubahan itu semua? Mulailah dimanapun sekarang kita berada.

Jauh sebelum ditemukannya istilah seni memotivasi diri, training bagaimana mencapai sukses setelah jongkok, konseling bagaimana cara berlari setelah merangkak, Tuhan yang Maha Esa menyampaikan kalam-Nya melalui utusan mulia salallahu ‘alaihi wasallam. Gengs, sudahkah kalian tahu itu? Untaian indah kalimatnya akan membawa kita pada point of view yang berbeda, padangan yang menentramkan jiwa yang gersang. Ungkapan tersebut ada dalam manual book kita sebagai orang yang mengaku muslim tepatnya dalam Quran surat ar-Rad ayat 11, berikut terjemah ayat tersebut, mudah-mudahan tidak menyalahi dan mengurangi sedikitpun hikmah dari firman-Nya. “... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri ...”

Itulah hal hebat yang mampu kita lakukan, mengubah alur kehidupan titipan ini. Tidak mesti kita bertransformasi dalam sekejap, mulailah dari mengubah point of view kita tentang hidup dan kehidupan. Kita hanya perlu membalik sedikit sisi hati kita, ketika kecewa kita dapat menerima, ketika getir kita mampu tersenyum manis, saat kenyataan pahit tertelan anggaplah itu obat mujarab yang mengobati sakit kita, saat semua seolah tidak berpihak kepada kita disanalah akan kita dapatkan kemandirian.

Terlebih dari itu semua, hal menakjubkan yang dapat kita lakukan untuk mengubah total segala yang kita alami adalah berysukur. Mudah memang mengatakannya, tapi tidak demikian ketika akan menjalankannya. Lantas bagaimana kita bisa bersyukur? Ya mulailah, tidak ada jalan lain selain memulainya. Ingin tahu ada apa dengan syukur? Allah dengan jelas menyatakan dalam al-Huda surat Ibrahim ayat 7. Kurang lebih berikut terjemah yang akan disajikan, mudah-mudahan tidak jauh dari maksud ayat tersebut. “... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat.”

Betapa kerennya bersyukur, ketika kita melakukannya Allah dengan tegas menyatakan akan menambahkan nikmat yang telah kita peroleh. Jangan sampai kita tergolong orang yang ingkar nikmat-Nya, rugi dua kali tuh, udah gagal terancam adzab pula. Naudzubillah, serem. Syukuri kegagalan yang kita alami, itu akan lebih menguntungkan, nikmat yang kita peroleh jelas bertambah. Apanya yang nikmat jika kita gagal? Tentu saja nikmat ketika kita berproses membangun kesuksesan berikutnya, indah bukan? Pasti.

Kembali lagi pada proses berubah, bukan berubah seperti power rangers menjadi merah, kuning, biru, hijau, pink, putih, hitam dengan kekuatan masing-masing yang berbeda, tapi kita berubah menjadi pribadi baru dengan pemahaman yang kokoh. Mungkin sempat mampir di telinga pertanyaan orang yang putus asa, jika Allah Maha Pengasih dan Penyayang kenapa pula Dia membiarkan hambanyanya berada dalam kesulitan? Come on! Singkirkan jauh-jauh jangan sampai terngiang dalam ingatan, kunci rapat-rapat setiap pintu yang akan membisikan kembali pertanyaan itu. Ketika kita gundah, gelisah, banyak pertanyaan yang tidak dapat kita jawab buka as-Syifa, insyaallah tenang dah hati kita.

Pada surat kedelapan (al-Anfal) ayat 53, dapat kita pahami dalam terjemahan para mufasir berikut, “... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri...” dalam surat ini kita kembali menemukan perintah agar mengubah keadaan diri kita untuk mendapatkan nikmat yang kita harapkan dari Allah.

Jelaslah sudah bagaimana kita melukiskan indah guratan takdir. Jangan mengumpat dan menyesali kegagalan, bersyukurlah karena itu pernah mewarnai ragam perjalanan. Jangan sedih berkepanjangan ketika belum mencapai harapan, bersyukurlah karena kita diberi keinginan untuk mewujudkannya. Tumbuhkanlah selalu nasihat seorang khalifah yang gagah berani, Umar bin Khatab. “Jika memang itu untukku maka ia tidak akan melewatkanku. Jika ia melawatkanku maka ia bukan untukku.”

Just for your information gengs, al-Huda dan asy-Syifa adalah nama lain dari al-Quran, way of life yang kita miliki.

Oleh: Adetia Siti Nurmaluloh

Kamis, 07 September 2017

Aku

Aku adalah ruh yang tidak dikenal, berbaur dengan ruh lain di alam yang juga kau tidak ketahui. Satu-persatu diantara kami mulai berkelan menuju alam lain. Alam itu sangat kokoh, walaupun tidak menjamin kenyamanan kami selama berada di sana. Mungkin suatu waktu akan tiba giliranku, tapi aku takut. Kalaulah aku tak lebih takut ketika aku berhadapan dengan Raja dari semua Raja, aku hendak protes tak terima. Cukuplah aku di sini, di tempat indah dengan belaian kasih sayang yang menentramkan.

Benar saja, kini giliranku untuk berkelana, aku masih takut, aku tak membawa apapun kecuali anugerah-Nya. Bagaimanakan tempatku nanti, nyaman atau sebaliknya? Aku takut. Ketika takut itulah bisikan terdengar kuat untuk meyakinkan. "Tak usah risau, tak perlu kau takut, kau tetap dalam genggaman-Ku." Ya aku tak perlu takut. Aku akan bersatu dengan seorang pemenang dari ribuan kekalahan. Aku akan hadir sebagai pemenang. Kemudian kembali terdengar, "Kau tak akan sendiri, akan Aku hadirkan sosok malaikat yang akan menjagamu, dua malaikat yang akan menjadi pintu surga bagimu."

Benarkah itu? Aku mulai dipenuhi angan dan harap, tak sabar rasanya melihat kedua malaikatku. Apapun yang terjadi aku harus bertahan di tempat kokoh itu. Bertransformasi menuju alam yang baru, aku mengambil sumpah pada Tuhanku, Allah Tuhanku. Hei tempat ini sangat nyaman. Lantunan suara serak yang merdu itu sangat indah, setiap hari tak bosannya suara ini terdengar di alam kokohku. Apakah itu suara malaikatku? Aku semakin riang ingin sekali berjumpa dengannya. Tuhanku berakata akan mengimku dua malaikat, mana suara malaikatku yang satu lagi?

Ketika aku bergumam sendiri, dengarlah! Ada yang mengajaku bicara. Sentuhannya terasa begitu hangat, suaranya ini suara yang berbeda, bukan suara serak merdu nan lembut itu. Karakter suara ini kuat, penuh kasih sayang dan naungan. Mungkinkah ini juga suara maiakatku? Ya, tidak salah lagi, waah! betapa beruntungnya aku.

Inilah aku, aku tidak lagi ketakutan. Tempatku nyaman, malaikatku senantisa menjagaku, bahkan aku selalu diutamakan dari sekian prioritas orang-orang yang berada di alam luar. Menakjubkan. Aku sangat nyaman. Lagi-lagi, Tuahanku tak menghendaki aku untuk menetap disini. Aku harus kembali berpindah untuk melaksanakan tugas yang telah diemban oleh pendahuluku. Kini aku bertanya kepada Tuhanku, mengapa aku harus keluar dari tempat yang nyaman ini, untuk keluarnya saja aku harus berjuang segenap tenaga, apalagi aku harus mendengar malaikatku begitu kesakitan dan harus mempertaruhkan dirinya untukku, aku tak kuasa.

Aku tidak mengerti, mengapa Tuhanku memperlakukanku seperti itu. Itu saat aku belum tahu hikmah mengapa aku harus keluar dari alam tersebut. Tuhanku kemudian berkata dengan takjimnya, "Kau harus keluar dari sini, kau tidak akan tahu betapa indahnya ciptaan-Ku ketika kau terus disii dengan kenyemanan itu. Apabila sekarang kau tak tahan dengan rasa sakit malaikatmu, maka kau sejatinya harus keluar memberikan kebahgian tak terhingga dengan tangisan pertamamu." Ya, aku ingin sekali meliat kebahagiaan malaikatku secara langsung. Aku pun berjuang bersama dengan malaikatku.

Hari pertama ketika kakiku mulai berpindah alam, disusul bagian tubuh yang lain, aku menangis kencang diantara haru bahagia orang sekitar. Aku menjadi satu-satunya orang yang menangis ketika yang lain tersenyum.

Benarlah kiranya apa yang terdengar olehku, begitu indah ciptaan Tuhanku. Kali ini aku sadar, mengapa aku berpindah alam. Tuhanku hendak mengajarkan aku berproses di alam persinggahan. Aku tidak boleh menetap dan nyaman juga di alam ini. Aku cukup tahu bahwa alam inipun hanya sementara. Alam yang mereka namakan dunia ini adalah satu rangkaian perjalanan seperti dua alam yang telah aku lalui. Hidup di dunia ini hanya akan menyampaikanku pada tujuan dari perjalanan panjang ini. Tujuanku masih jauh di depan sana, setelah kehidupan dunia ini pastilah ada alam lain sebelum aku benar-benar sampai pada tujuan.

Orang-orang kini memanggilku dengan panggilan Adet. Ya, setelah tujuh hari aku menghirup oksigen bumi kedua malaikatku memberiku nama Adetia Siti Nurmaluloh, dengan harapan kelak aku akan menjadi Harta Allah bagi mereka. Tak ubahnya aku seperti kebanyakan aku yang lain, adalah anak Adam di generasi kesekian yang terkadang kelilipan kilaunya bumi peristirahatan dalam rangka rehat dari sebuah perjalanan.

Waktu dunia singkat saja. Itulah rentang waktuku untuk membahagiakan kedua malaikatku. Sederhana saja, keduanya tidak memiliki sayap seperi kisah negeri dogeng pengantar tidur yang digemari. Malaikat ayu nan teduh itu adalah Ibu, sorot matanya menyampaikan pesan cinta yang begitu nyata, terkadang penuh kekhawatiran pula karena ulahku yang menjadi anaknya. Suaranya pagi, siang, sore, tidak pernah bosan mengingatkan ini itu untuk mengajarkanku yang baru seujung kuku menyelam dalam lautan garam kehidupan. Begitupun dengan malaikatku yang satu lagi, orang memanggilnnya Ayah. Garis wajahnya terlihat tegar, memancarkan ketampanan penuh karisma kewibawaan. Sorot matanya memancarkan kekuatan dan kedamaian. Aku dapat merasakan kembali belaian Tuhanku melalui tangan mereka, orang tuaku.

Mereka menjagaku siang malam, begitupun kelak ketika mereka mulai lelah. Mereka mengasihiku tanpa batas waktu, begitupun yang ingin aku berikan untuk keduanya. Mereka senantiasa mendekapku dalam kehangatan, begitupun harapku ketika mereka mulai kedinginan. Mereka membukakan begitu banyak kesempatan hidup yang belum mereka rasakan, pun aku yang ingin membuka lebar harapan mereka yang hendak dicapai.

Seperti apa yang dikatakan oleh penulis favotitku, hidup ini tentang menunggu, menunggu sampai kapan kau akan berhenti menunggu. Aku sedang meunggu, menunggu kapan Tuhanku akan kembali memindahkan kehidupanku pada alam selanjutnya. Satu pelajaran yang aku ingat dari pengalaman lalu, ketika aku takut untuk berpindah dari alam yang kokoh. Aku harus keluar dari alamku, selain memang itu adalah bagian hidupku akupun harus melihat dunia selanjutnya lagi dan lagi sampai tak ada lagi. Aku tak akan pernah tahu indahnya alam dunia ketika aku bersikeras dalam alam sebelumnya. Begitupun ketika aku bersikeras dengan alam dunia, aku tidak akan pernah tahu bagaimana indahnya alam dari alam pemisah, alam yang abadi. Tak perlu lagi aku takut, karena itu adalah sebuah keniscayaan, yang aku takutkan sekarang adalah tentang apa yang akan aku bawa untuk melanjutkan kehidupanku di alam sana.

Banyak makhluk bernama manusia yang terperdaya dengan kehidupan dunia. Padahal jelas kiranya firman Allah, tak ada ragu apalagi kebohongan bahwa dunia ini hanyalah perhiasan yang memerdaya, berikut terjemah yang mudah-mudahan benar dalam mengartikan firman-Nya.

"Setiap yang bernyawa pasti aakan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukan kedalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Ali-Imran [3]: 185)

"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permaian dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yag tanaman-tanamannya mengagumkan petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunandari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hayalah kesenangan yang palsu." (QS. al-Hadid [57]: 20)

Sabtu, 12 Agustus 2017

Tentang Kita

Bagian keempat: The Ring

Satu tahun berlalu ketika aku mendapakan ijazah persiapan, saatnya aku melangkah pada jenjang kesetaraan, menguji apa yang telah aku dapatkan. Aku lupa bagaimana mempersiapkan kelasku kemudian, tahu-tahu kini aku resmi terdaftar di kelas berangka, kelas sepuluh. Angka sepuluh ini berakhiran nol sebagai awal, aku mengawali langkah menengah atas di tempat yang sama.

Tak ada yang begitu berbeda, sedikitnya aku telah mengenal tempat ini. Jangan tanya suasana kelas, kelasku termasuk kelas gemuk yang tentunya gaduh. Aku juga belum begitu berbeda, aku masih sedikit bicara, sebelum akhirnya buku yang kubaca perlahan bercerita seakan aku terbiasa. Menjadi public speaker adalah problem dalam masalah. Berbicara di depan umun bagi seorang alumni anti sosial begitu mengerikan, puluhan padang mata serasa penuh ancaman yang kapanpun bisa mencekik tenggorokanku karena mati kutu.

Tapi aku mencoba, aku belajar, aku bertekad, dan aku mau menjadi lebih dari orang kebanyakan yang "diam" dengan ide terkekang. Show up! begitulah perkataan wali kelasku yang terpatri dalam efek hallo pertama kali. Walau kerap kali kata "angkuh" berseliweran, kudengar dari telinga kanan dan kukeluarkan dari telinga kiri. Aku berusaha fokus pada tujuanku, tak ada waktu untuk mendengarkan mereka berbicara. Aku anggap itu hak mereka, mereka punya pemikiran yang berbeda-beda, terlebih buat apa aku menghiraukannya? Terlalu banyak mulut yang berbicara dan aku hanya memiliki dua tanggan untuk membungkam, sadar akan diri lebih baik aku gunakan tangan ini untuk menutup telinga kemudian berjalan meniti proses perubahan.

***

Katanya, dari kelas tujuh aku menempati kelas akselerasi. Papan kecil dari kayu yang terlihat elegan dengan ukiran "Kelas Rancangan Madrasah Berstandar Internasional" berbahasa Inggris lengkap dengan ucapan selamat datangnya. Aku rasa selain jam tambahan, batasan aktif berorganisasi, dan bahasa yang kami gunakan tidak berbeda dengan kelas lainnya.

Aku tumbuh sebagai introvert, aku terkategori orang yang asik sendiri dengan satu atau dua teman saja. Selama aku berjalan pada menengah pertama, hampir semua organisasi aku ikuti. Osis, Kepramukaan dengan dewan penggalangnya, unit kesehatan dengan PMRnya, pengatur lalu lintas dengan PKSnya, tapi itu semua hanya aku ikuti pertemuan pertamanya saja. Aku mebatasi diri dari dunia lain, aku hidup dalam dunia yang aku ciptakan. Dunia fantasi dalam rangkaian cerita fiksi. Cerpenis.

***

Rekam jejak perjalanan seorang cerpenis dan puitisi kini tak lagi ku temukan. Hanya ada dua cerpen dalam satu buku yang aku temui. Beranjak dari dunia kesendirian, pribadi yang tunggal, tempatku kini mengharuskanku berevolusi menjadi sosok yang baru, sosok dengan 180° berbeda. Yang tadinya aku berbicara pada buku catatan dengan torehan pena yang mengungkapkan semuanya, kini aku harus berbicara langsung dengan nada dari pita suara. Aku yang tadinya enggan berorganisasi, kini aku butuh itu. Aku yang dulu menganggap cukup aku saja, ternyata tidak saat jauh dari keluarga bersosialisasi adalah hal mutlak untuk lulus "seleksi alam" ini.

Jika dulu aku cukup tahu apa dan mengapa, kini kurumuskan bagaimana. Jika dulu lidahku kelu merangkai kata, kini aku menekuninya.

Saat itu aku mulai tumbuh dan bertunas, kemudian menghujamkan lemahnya akar ke dalam lapisan kerang bumi dalam geografi. Aku siap tumbuh tinggi. Aku memulainya ketika didaulat menjadi salah satu staf di organosasi intra sekolah. Akan aku coba.

***

Logam perak yang kini melinggkar di jari tengah tangan kiriku adalah awal mula perjalanan itu. Selayaknya staf yang akan dilantik, kami mendapatkan up greading dari staf terdahulu. Penyelenggaraan acara itu diorganisir oleh kakak kelas yang akan lengser jabatan. Dia ditunjuk sebagai ketua pelaksana oleh rekannya.

Tidak, tidak ada bedanya aku dengan yang lain karena aku "berbeda" dengan mereka, itu pribadi dan ini organisasi. Biarlah berada dalam porosnya masing-masing. Semua berjalan sebagaimana mestinya, walaupun aku belum bisa bersikap profesional. Kerap kali aku membuang muka ketika harus bersitatap denganya.

***

Jalan setapak yang gelap, aliran anak sungai terdengar lembut, suara hewan mulai berisik. Suasana ini sungguh tidak aku suka, bagaimana ini, kenapa suasananya setegang ini. Keresek hitam terikat benang ditarik secara tiba-tiba dari hadapanku, aku kenget dibuatnya. Langkah kakiku diisi dengan obrolan ringan dengan kawan di sampingku, untuk menyamarkan ketegangan yang tensinya terus naik.

Tak ada bunga tidur ataupun prasangka aku akan terkecualikan dari perbedaan. Entah itu sah atau tidak, tapi itu membuatku meras berbeda. Pada malam kesekian dari rangkaian acara up greading, aku mendapatkan kejutan yang membuatku ingin lari dari kenyataan.

Ketika aku bertanya pada kakak kelas perempuan yang dekat denganku, katanya dia tidak ikut jaga pos. Aku lega, tapi ternyata tidak aku duga. Dia sempurna berada di depanku sekarang.

Yang tadinya aku berjalan berdua, tepat di pos yang dijaganya, aku ditanya kenapa aku berjalan berdua. Ya memang aku tidak mau sendiri di start awal. Aku berangkat terakhiran, rekanku lebih dulu dipersilahkan. Urusan ini membuatku salah tinggah, untungnya malam ini gelap. Aku mencoba terlihat normal. Pada saat itulah aku dan dia berdua.

Aku kira akan mendapat tantangan atau apa seperti biasa, ternyata tidak. Aku mendapatkan kotak kecil dan surat yang tidak terlihat seperti biasanya, surat itu dilipat sedemikian rupa hingga terlihat seperti kepingan hati yang utuh. Entah percakapan apa dan seperti apa kala itu, aku tidak mengingatnya. Tapi tak dapat ku percaya, aku berbunga.

Tidak banyak orang yang tahu, seperti biasa. Tapi lagi-lagi surat itu raib dari tempatnya, kembali bertelepati ke tempat baru. Malam itu tak sabar rasanya aku ingin membuka kotak ini, aku penasaran. Tapi tidak, lain waktu saja aku membukanya. Aku tidak ingin malam ini menjadi ramai.

Aku melihat drama yang biasa dimainkan pada akhir acara, dimana orang-orang bersitegang dengan perkelahian kata dan tak jarang fisik juga. Teriakan yang memekakan telinga, masalah yang disengaja, kaki menghentak, kata membentak, membuat ruang kelas tidak terlihat rupanya. Si pengacau, pembela, dan penengah, masing-masing rapih memainkan perannya. Selesai acara, kami berkumpul di lapang, bermaafan, penjelasan disampaikan, riuh tawa tanda kebersamaan telah terlaksana. Lempar air menjadi puncaknya, aku memisahkan diri karena tidak mau basah, tetapi percuma kurasa. Entah siapa, dari atas ada yang melemparkannya tepat mendarat di belakangku. Suasana hati yang tidak bersahabat untuk terlibat dalam hal ini, kakiku mengantarkanku ke asrama. Pulang.

Terhitung dua kali aku berpapasan dengannya dalam organisasi, intra dan ekstra. Aku tidak paham pada awalnya organisasi apa ini. Kedua-duanya aku tak banyak bicara. Membiarkan semua berjalan sebagaimana mestinya.

***

Ceritanya aku dipanggil kakak kelas saat KBM tanpa guru berlangsung, kelas yang gaduh tambah rame mengiringi langkah kakiku keluar. Pada saat itu aku diikutsertakan untuk menjadi peserta dalam kongres pelajar region Ciamis-Banjar. Ya, aku ikut. Ada dua orang dari masing-masing kelas, aku salah satunya.

Aku duduk di bangku yang melintang di depan kelas, kami membicarakan teknis pemberangkatan. Aku ditanya akan ikut bersama peserta lain atau pergi duluan bersama staf yang akan mepersiapkan acara. Aku bingung, dalam hati aku ingin berangkat dengan kakak kelas yang sudah dekat denganku, tapi bingung juga apa yang akan aku kerjakan di sana, atau aku berangkat bersama peserta yang lain saja? Ah tidak, aku belum terlalu mengenal mereka. Pilihan yang ada sama-sama membingungkan. Akhirnya aku memutuskan untuk berangkat duluan, mungkin di sana aku bisa sedikit bantu-bantu.

Rencana berangkat duluan untuk mempersiapkan acara terhalang juga, kami tidak mendapat izin dari pembina asrama. Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya tetap, izin tidak kami kantongi. Hanya dia dan satu rekannyanyang berangkat malam itu.

Kami yang telah bersiap-siap, kembali lagi ke asrama. Kami mempersiapkan apa yang bisa kami kerjakan, membuat huruf-huruf yang nantinya akan ditempelkan. Kami tidak menggunakan banner, kami memilih cara manual untuk berampingkan budget dekorasi. Tanganku yang kaku tidak bisa membantu banyak, aku tidak bisa membuat huruf-huruf indah di atas karton warna-warni. Aku hanya bisa membantu mengguntingnya. Kami berangkat setelah shalat subuh untuk mengejar waktu. Walaupun hanya menggunting, aku tidak sempat tidur.

Setibanya disana perkiraanku meleset, aku kira tempat sudah siap, ternyata tidak. Katanya, dia dan rekan satunya setiba di sana tidak dapat menemui rekan pribuminya, tidak ada yang banyak mereka kerjakan, mereka menunggu dan merancang.

Singkat cerita, disana aku menunggu di pelataran mesjid. Aku bersembunyi saat dia ngobrol dengan kakak kelas yang bersamaku, persembunyianku jelas tampak oleh siapapun, aku "bersembunyi" membelakanginya dengan bersandar pada tiang mesjid. Konyol, aku hanya mendengarkan percakapan tanpa ikut di dalamnya. Aku terlihat seperti orang sibuk dengan buku di tangan lengkap dengan bolpoinnya menuliskan apapun yang terpikir olehku. Bosan menunggu, kakak kelas yang bersamaku mengajak jalan-jalan melihat sekitar setelah dia berlalu entah mempersiapkan apa. Aku si yes, dari pada hanya duduk bosan.

Jalan-jalan terasa pegal, terlebih aku rasa salah jalan. Aku bertemu makhluk yang tidak aku harapkan. Aku melihat ulat. Setelah melihat satu, makhluk itu seakan menunjukan diri padaku, lebih sering aku menjumpainya di lebatnya dedaunan. Menyebalkan.

Kami putuskan putar arah, tapi jalan-jalannya masih saja pegal. Selang waktu berlalu, kami beristirahat terlebih dahulu di tempat yang telah disediakan. Aku berbaring sejenak di bangku panjang. Tidak buruk juga, setidaknya aku dapat meluruskan tulang punggu yang sedari kemarin malam hanya terduduk.

Sebagai peserta aku wajib mengikuti acara ini hingga selesai. Aku mendengar kabar bahwa kakak kelas yang dekat denganku dipanggil pulang untuk peraktek mengajar, jelas aku ingin ikut dengannya. Tapi tidak, aku harus menyelesaikan ini dan kakak kelaskupun tetap menemani.

Tidak sepenuhnya kurasa aku mengikuti acara ini, aku kurang fit. Rasa lelah menyergap dan kantukpun kurasa. Susah payah menjaga mata agar tetap terjaga. Sesi foto tak menampakkan wajahku, aku berdiri di belakang dan bersembunyi di balik punggung teman yang ada di depan.

Tok-tok, terdengar suara ketukan di kaca. Aku menoleh, dan itu dia. Bertanya padaku untuk mengajak pulang bersama naik bis, aku mengiyakan. Tapi rencana hanya rencana. Selesainya acara aku mendapati dia bersama rekannya entah kemana, aku pulang bersama rombongan anak perempuan yang lain, naik angkot.

***

Seingatku, aku hanya diam, tersenyum, dan tidak berani melihatnya secara langsung. Aku tidak seperti yang lain, komunikasi seperlunya, bertemu ketika berpapasan, tak banyak rencana untuk bertemu sekedar ngobrol melepas rindu. Biarlah rindu itu tetap tumbuh dalam diam, biarlah cinta itu tetap riuh dalam tenang. Cara itulah yang berhasil membuatku tersenyum saat mendengar cerita tentangnya, berpapasan dengannya, ataupun saat melihatnya.

The ring, menjadi saksi bagaimana aku bertransformasi yang melingkar di jari.

to be continue...

Minggu, 06 Agustus 2017

Tentang Kita

#Bagian Ketiga: Cerita Hujan

Rinai hujan nampak indah melukis sejuk di gersangnya bumi, tempiasnya berbulir di permukaan kaca hitam rumahku. Selalu saja menyenangkan melihatnya, harmoni alam suguhkan melodi khas yang juga menentramkan. Lagit sore terlihat gelap dengan awan hitam menggelayut membawa butiran air hujan yang kini membasahi bumi tempatku berpijak. Kuhentikan sejenak rutinitas untuk menikmati sore membiru ini. Duduk tersandar kursi, mataku menatap awas pada setiap butiran hujan yang seperti orkestra alam dengan kilat petir melengkapi tarian dedaunan menikmati hujan.

***

Bagiku hujan bukanlah sekedar tetesan air yang diturukan awan karena tak lagi mampu menahannya. Tirai air hujan yang jernih bukan sekedar air, komposisinya lebih dari itu, karena bagiku air dari air hujan hanya satu persen, dan 99% sisanya adalah kenangan.

Betapa tidak, hujan selalu saja berhasil lukiskan kenangan. Bagiku, hujan tidak hanya sekedar hujan. Hujan adalah tajuk buku dengan kisah menakjubkan. Memang, sang penulis tidak tahu bagaimana kisahku dengan dia, tapi tak kusangkal kisahnya serupa dengan kisahku. Tentu, bukan setting, latar, dan sikon, karena kisah tersebut dikisahkan pada era puncak peradaban teknologi manusia modern, tetapi cerita cinta Lail dan Soke Bahtera dirasakan langsung oleh Adet dan Inur di kehidupan nyata.

Aku bukan Lail, yatim piatu pemegang lisensi kelas A sistem kesehatan, relawan yang mendapat penghargaan, gadis beruntung yang memiliki kepingan hati seorang Esok. Aku Adet, seperti Lail yang selalu menunggu kabar dari Esok, tapi aku tidak ekstrim seperti dirinya, sesekali aku yang memulai obrolan. Aku Adet, yang bertingkah konyol seperti Lail saat senang mendapat Esok mengabarinya. Aku Adet, seperti Lail yang merasa senang sekaligus sedih, merasa yakin sekaligus khawatir, merasakan dua hal bersebrangan secara bersamaan. Aku Adet, tidak seperti Lail yang menangis karena Claudia. Dan aku Adet, tidak seperti Lail yang menyimpulkan kesalah pahaman dengan menghapus ingatan karena terlambatnya penjelasan.

Dia bukan Esok, laki-laki jenius yang memiliki hak paten atas teknologi yang berkembang, ilmuwan muda yang memimpin proyek rahasia, anak muda yang beruntung dapat bertemu dengan Lail dan menggnggam hatinya. Dia Inur, yang sibuk tenggelam dalam pengerjaan proyek hidupnya, tapi dia bukan Esok dengan proyek kapal angkasa rahasia ditengah gempita kekhawatiran umat manusia. Dia Inur, seperti Esok yang selalu menyempatkan menghubungi Lail ditengah kepenatan rutinitasnya. Dia Inur, yang tengah menyusun rencana kehidupan seperti Esok yang merancang hidupnya dengan menyertakan Lail dalam rancangan rencananya. Dia Inur, tidak seperti Esok yang luput mengutarakan perasaannya. Dan dia Inur, tidak seperti Esok yang selalu memakai topi biru "the smart one" membawa sepeda merah untuk berkeliling menggantikan satu tahun penantian dengan satu dua jam pertemuan.

Tak bosan aku membaca kisah mereka, aku juga tidak keberatan berjam-jam membaca rangkaian kata di dalamnya, itu selalu saja menyenangkan. Tapi aku berpikir, mengapa aku hanya sibuk membaca kisa mereka? kapan orang-orang akan membaca kisahku? inilah saatnya moment itu.

***

Aku yang sekarang terduduk hanya menikmati hujan secara visual, aku suka hujan. Kalaulah sekarang bukan di rumah, aku akan berhambur keluar menari bersama dedaunan yang dibasahi hujan. Selalu saja ada halangan, dibilang bukan lagi anak kecil lah, buat apa hujan-hujanan lah, dan masalah "lah" lainnya. Haruskan aku menjadi anak kecil untuk bermain hujan? Ah tidak. Aku jadi Yes-man saja.

Berbeda halnya ketika aku di sekolah berasrama, lantai tiga tanpa atap tempat kami menjemur pakaian adalah tempat favorit menikmati hujan bersama, tanpa ribet harus berpakaian lengkap seperti biasa kami keluar, kami sama-sama menikmati hujan. Pepohonan dari kebun yang sengaja dibiarkan tumbuh menjulang, pucuknya terlihat bersaing dengan atap bangunan, melihat awan yang tidak menyisakan birunya langitpun tetap menawan. Semakin desar hujan, semakin kami riang. Membiarkan tubuh kuyup dengan dinginnya desiran angin, wajah yang menengadah membiarkan diri terkena tempiasnya. Ada yang senang hati membersihkan tempat jemuran dengan senda gurau juga ada yang berdiam diri seakan bisu membiarkan pikirannya liar menjajah setiap kenangan.

Tidak hanya itu caraku menikmati hujan, suatu ketika aku dan kawanku tengah disibukan dengan acara yang akan diselenggarakan oleh organisasi intra sekolah. Kami mengerjakan tugas dengan guyuran air hujan, aku yang dengan senang hati mondar-mandir dalam hujan saat mendapat tugas ini, itu, dan sebagainya, asik berjalan santai hingga aku menyadari aku mulai merasa gerah, aku harus melewati lapangan sekolah yang ramai tidak hanya dengan hujan, tetapi ramai dengan remaja yang bermain sepak bola. Aku berjalan senormal dan secepat aku bisa, menghiraukan celotehan remaja itu. Bagaimana mereka tidak berceloteh, di sana juga ada dia bermain dengan timnya. Selalu saja begini, padahal aku kuyup, tapi aku merasa panas. Saat itulah aku tak lagi menikmati hujan, aku ingin cepat-cepat berada di seberang, aku tidak ingin mereka melihat roman mukaku yang memerah karena malu.

Sebenarnya aku ingin berlama-lama, tapi tidak. Mukaku akan bersemu merah setiap merasa malu. Tapi aku bebas melihatnya dan selalu senang melihatnya di tempat "persembunyian"ku. Seperti saat itu, masih dalam suasana hujan, rekan sekamarku sedang mengamati seseorang yang ia cari, tapi nampaknya orang yang dicari tidak ada, ia berseru padaku yang sedang membaca kisah dalam buku, aku dilanda rindu membacah larik kisah dalam buku hingga hujan tak mampu mengalaihkan pandangku.
" Neng sini!" ucapnya dengan pandangan masih di luar jendela, tangannya sedikit menyingkap gordeng, mengintip.
"Ada apa?" tanyaku yang dijawabnya dengan mempersilahkan aku duduk di tempatnya.
"Lihat disana, ada Inur lagi main bola." Bola mataku menyapu ke arah telunjuk temanku yang tadi, setelah aku menemukannya aku tersenyum, ternyata memang dia.
Sepertinya main bola saat hujan seru sekali, teriakan mereka seakan ingin menyaingi suara hujan. keringat merekapun tak nampak dengan kuyupnya baju yang mereka kenakan.

Inur? Pada awalnya temanku juga selalu bertanya siapa Inur. Inur tak lain adalah Ilham Nurhidayatullah, berhubung nama Ilham tidak hanya satu maka panggilan itu yang membedakan satu dan lainnya. Itu ketika aku dan dia masih bersekolah di tempat yang sama tetapi sampai sekarang aku lebih terbiasa dengan panggilan tersebut, padahal tidak banyak lagi nama Ilham berkeliaran dalam kehidupanku hingga tak ada nama ilham dalam sapaanku.

***

Aku seperti Lail, aku suka hujan. Tapi kisahku tidak seperti Lail, ketika ia menyukai hujan kenangan penting dalam hidupnya terjadi saat hujan. Bukankah itu menyenangkan? Tidak juga, bagaimana ketika kenangan itu berubah menyakitkan? Setiap hujan turun akan terasa lebih menyesakan, melihat semua kenangan itu jatuh dalam bulir hujan yang berkubik-kubik, bagaimana dia akan menyikapinya. Secepat ia berlari, tetap saja basah. Ia ingin menghindar, bagaimanalah caranya saat berada di tanah lapang. Setiap tetesnya membawa satu kenangan. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain membiarkannya dibasuh air hujan, menari bersama dengan rinainya, menikmati semua tetesnya sampai hujan berhenti dengan sendirinya.

Ingin tertawa sebenarnya menulis semua ini, terlebih ketika membaca ulang, tulisan ini seakan pengakuan. Pengakuan yang dulu aku tidak ingin orang tahu bahkan oleh dia, tapi sekarang aku menuliskan kisah yang bisa dibaca siapapun yang mengetahui alamatnya. Saat bertemu dalam pertemuan yang sangat langka aku tidak banyak bercerita, bagiku pertemuan itu telah mewakili semuanya, namun kini aku ingin dia tahu bagaimana perasaanku. Aku tak pandai bercerita dihadapannya, karena itu kutulis rangkaian cerita ini untuknya.

***

Masih tentang hujan, ada sedikit perasaan aneh yang aku rasa dari temanku, mengapa dia marah melihat someone-nya hujan-hujanan? Katanya takut "si dia"nya sakit. Owh my God, ada apa dengan temanku ini? Ko rasanya aku yang ilfeel ya? Protect banget dengan kehidupan orang lain, ya aku katakan orang lain, toh belum ada ikatan resmi diantaranya. Tapi katanya, karena temanku sayang sama someone-nya, ingin menjaganya, khawatir akannya. Wait, gak harus gitu juga kan? Menurutku untuk membuatnya tenang tanpa kemarahannya yang merembet. Pengertian yang aku bisa berikan telah tersampaikan, mungkin temanku ini juga mencerna yang aku sampaikan, hujan-hujanan tidak berdampak buruk pada tubuhnya. Kalaupun demam setelahnya itu hanya masalah imunitas dan sugesti.

Tidak harus protect untuk menunjukan kepedulian, tidak harus membatasi untuk menunjukan perhatian, tidak harus berunjuk perasaan untuk menunjukan kasih sayang, bagiku cukup diam selama dia "aman". Dia punya kehidupan sendiri tanpa harus aku intervensi. Jalani saja hidupnya, tunaikanlah rencana-rencananya, aku tidak usah repot" dengan mengkhawatirkannya, toh bukankah aku tau bahwa aku termasuk dalam rencana kehidupannya? Itu cukup bagiku.

Temanku yang satu lagi juga membuatku heran, aku tahu dia sedang kurang fit, tapi kenapa dia keluar menerobos hujan tanpa payung dia kenakan. Tepuk jidat aku melihat ulahnya. Pulang dari membeli kudapan, temanku ini berpapasan dengan "si dia"nya. Besoknya saat bertemu di sekolah, mereka pada marah. Katanya emang lagi pengen marahan, hujanlah yang menjadi kambing hitam.

Banyak cara memaknai hujan untuk meramaikan suasana, entah itu senang, sedih, kesal, marah, hujan bisa saja membumbuinya. Mungkin ada orang yang merasa senang saat hujan seperti aku, ada juga yang sedih karena hujan yang menghujamkan kenangan menyakitkan, ada orang yang merasa kesal karena hujan dianggapnya penghambat urusan, mungkin pula ada orang yang marah seperti cerita barusan. Ada cerita apa lagi dalam hujan? Nantikan part selanjutnya...

#to be continue...

Sabtu, 05 Agustus 2017

Dear...

Langit biru sejauh mata memandang, gelombang awal berarak tak beraturan, semilir angin pagi menyegarkan, entah berapa kali aku melewatkannya. Rimba beton perumahan warga susul menyusul dan berlomba, hamparan padi menguning siap panen menyibukan, entah berapa kali aku tak bersantai dengannya. Ayam bercicit sahut menyahut burung bersiul, bertanya pada alam yang hening, sampai kapankah ini akan berulang. Sang surya bola merah membara mulai mengintip disela jejer bukit beranjak naik, silaunya indah terasa, berapakan mentari pagi yang tak aku acuhkan. Rembulan yang bersiap naik tahta saat mentari kembali keperaduan beriring sirius bak permata kecil di kejauhan, tampak melenggang anggun, entah berapa kali satelit bumi ini tak aku perhatikan. Bintang kejora seakan mandiri tampak berkilau sendiri menunggu sinarnya dikalahkan matahari pagi, entah berpa kali aku tak memandangnya. Banyak kesempatan hebat dalam hidup setiap insan yang dinafikan. Mereka terlampau mengejar dan dikejar waktu keduniaan,, abai. Fabi ayyi aala irabbikuma tukadziban. Nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan? Pegunungan hijau jamrud gagah berpijak kau gunduli pohonnya, keruk tanahnya, ambil batunya, saat bencana kau mengiba hidup pada Yang Punya. Memelas kasih warga dunia dengan menenteng kaleng kemanusiaan. Kau pun tak habis cara mengisi saku kosongmu. Bahkan kau mengutuk alam yang mengamuk karena ulahmu. Wahai, mengapa kau berbuat kerusakan sedangkan Tuhanmu mengecamnya? Kini kau lihatlah, telah tampak kerusakan yang disebabkan tanganmu. Tetaplah ceracau mulutmu penuh harap. Tetaplah peragaimu mengais ampunan. Pada siapa kau akan meminta selain pada Sang Maha Memiliki. Pada siapa lagi kau akan percaya selain pada Sang Pemegang Janji.

Kamis, 03 Agustus 2017

Karyakan Dakwahmu


Ketika menapaktilasi riwayat hidup yang belum seberapa jauh, terhitung masih "belia" dengan ukuran orang yang ada di hadapannya. Perkataan itu masih saja terngiang walaupun sudah jauh tertinggal, satu kalimat saja, "kapan kau akan berkarya?". Memperhatikan grafik yang tengah dijelaskan dalam suatu kelas perkuliahan, pikirannya kembali memutar bola cakram mesin waktu, hingga mesin tersebut membawanya kembali pada kenyataan bahwa ia sedang duduk mengikuti presentasi dosen. Ia mengutuk dalam hati, " wahai diri, apakah layak kau ada di dalam kehidupan ini? Untuk apa kau hidup? apa bukti kau hidup? mengapa kau masih stagnan di zona nyaman, ongkang-ongkang kaki bersandar dengan nyamannya pada pundak kedua orang tua?". Terlampau sering ia berjanji pada diri untuk kemudian dilanggarnya, ia berultimatum pada diri untuk kemudian dikhianatinya, sakit memang. Ia benci pada dirinya kala itu, benci melihat dirinya yang mengikuti bayangan, ia benci melihat betapa "sampahnya" di kehidupan. seakan apa yang menjadi sumbangsihnya pada kehidupan hanyalah fatamorgana.

***

Kawan, apa yang kau rasakan ketika membaca cuplikan diatas? Apakah kau melihat seorang anak manusia yang setres dengan keadaan dirinya? Ataukah kau melihatnya sebagai anak manusia yang "gegana" dengan kehidupannya? Atau kau melihat seorang anak manusia yang hendak bertransformasi dari ketidak berdayaannya? Ataukah kau melihatnya sebagai anak manusia pemarah yang tak mensyukuri anugerah Tuhannya?.

Banyak pernyataan yang akan timbul dari cuplikan di atas. Stereotip tidak dapat dihindari ketika mendapati sebuah peristiwa di hadapan kita. Namun kawan, ini bukan saatnya men-judges siapapun, judgement kita tidak akan berpengaruh terhadapnya.

Seperti yang telah diketahui, manusia merupakan makhluk tiga dimensi. Dikatakan demikian karena begitulah keadaannya, ada tiga unsur yang ada dalam tubuh manusia. Kendati unsur-unsur tersebut ada di dalam tubuh manusia, ketiganya tidak menjamin akan memanusiakan manusia. Unsur tersebut adalah ruh, jasad, dan nafs.

Ruh merupakan esensi dari kehidupan manusia, ia merupakan unsur yang paling halus dan bersifat suci, ia juga cenderung pada hal-hal yang fitri dan ilahi, unsur ini adalah unsur yang kekal dalam perjalanan hidup manusia. Masih berbicara tentang ruh, ruh dibedakan menjadi dua, yaitu ruh munazzalah dan ruh al-gharizah. Ruh munazzalah adalah ruh yang masih "utuh" dalam artian ruh yang masih berada di alam ajali, sedangkan ruh al-gharizah adalah ruh yang telah "terkontaminasi" kesuciannya karena telah masuk pada jasad manusia, dan dikenal pula sebagai nafs.

Jasad merupakan wujud fisik--anatomi manusia--. Wujud anatomi ini cenderung pada hal-hal yang bersifat biologis serta merupakan eksistensi dan "wadah" unsur kehidupan walaupun keberadaannya tidak immortal.

Nafs seperti yang telah disinggung merupakan substansi psiko-fisik gabungan antara ruh dan jasad. Karena keberadaannya adalah gabungan, nafs ini memiliki kecenderungan yang juga gabungan antara ruh dan jasad. Yang paling digaris bawahi dalam nafs adalah aktualisasinya yang membentuk kepribadian.

Oleh karena nafs yang berperan dalam aktualisasi diri, perlu kiranya mengetahui bahwa dalam nafslah terdapat tiga pautan inti, qalbu, akal, dan nafsu yang akan diminta pertanggung jawaban. Peran dan posisi qalbu, akal, dan nafsu harus senantiasa berada dalam ketepatan, kebenaran, dan keseimbangan. Tidak dibenarkan adanya dominasi yang akan menjadikan eksistensi diri berada dalam ketimpangan.

Lantas, apa kaitannya ilustrasi di atas dengan pemaparan ini? Mungkin tidak berkaitan, akan tetapi bersinggungan. Ketika pautan inti tersebut harus seimbang, perlu adanya usaha untuk menyeimbangankannya. Dalam satu hal yang disebut "usaha", barang tentu akan menemui resiko atas keputusan yang diambil, ujian saat berpendirian, hingga gangguan dan ancaman eksternal.

Menyadari keterbatasan manusia dalam mengendalikan diri dan menghindari kesalahan, manusia sangat membutuhkan bantuan untuk tetap berada dalam kesadaran dan fitrahnya. Demi mencapai itu, Allah menciptakan mekanisme hidup yang telah paripurna dengan sempurnanya Islam.  Jalan dakwah yang telah ditempuh para massager-Nya adalah solusi untuk permasalahan tersebut.

Seorang manusia tidak bisa jemawa menunjuk dirinya "mampu" mempertimbangkan baik dan buruk dengan potensi akal yang dimilikinya karena akal memiliki sifat yang fluktruatif. Akal terkadang berpihak pada kesadaran dan bisa jadi ia terperosok jauh pada kejahatan. Kemurnian dari hakikat hati juga tidak selamanya dapat memancarkan sinar petunjuk bagi pemiliknya, ia akan bersinar manakala ia terpelihara, ada pun ketika ia terabaikan maka kotorlah ia dan tak lagi dapat menyinari kehidupan pemiliknya. Jangan ditanya bagaimana posisi nafsu, memang benar dengan nafsu terpelihara kelangsungan hidup manusia, namun ketika nafsu tidak lagi dikedalikan bahkan sebaliknya nafsulah yang mengendalikan sehingga dipertuhankan oleh tuannya, tak akan terelakan bahwa ia tengah membangun kehancuran bagi dirinya.

Oleh karenanyalah dakwah dibutuhkan guna memosisikan potensi tersebut tetap berada dan cenderung pada kebenaran. Dakwah akan menjadi penuntun akal manusia dalam mencari dan menjalankan kebenaran. Dakwah pun akan senantiasa menjadi nutrisi bagi hati--qalbu--sehingga terpeliharalah ia lantas konsisten menyinari kehidupan pemiliknya. Dakwah pulalah yang akan menjadi alarm peringatan bagi nafsu agar ia tetap terkendali dalam kebenaran.

Jika diibaratkan, fitah manusia adalah jalan lurus yang akan mengantarkannya pada "tujuan" akhir perjalanan, maka akan ada kalanya manusia itu berbelok arah, entah karena "bosan" melihat sisi kanan kiri yang terlihat menyenangkan, atau mungkin karena ada yang "membelokan". Ketika keluar dari lintasan jalan yang lurus, ada beberapa hipotesis. Ada yang keluar jalur lantas kembali meniti jalan yang lurus itu, tak dapat dipungkiri juga ia akan terus berjalan diatas jalan belok tadi hingga jauh terus menyusurinya lantas enggan untuk " kembali", atau ia hendak kembali tetapi "lupa" bagaimana caranya, bisa jadi ia ingin "kembali" tapi ia terlampau gengsi dan sakit hati, atau mungkin "belum" saatnya Sang Pemilik hidayah merestuinya untuk kembali, serta banyak lagi kemungkinan lainnya.

Seorang manusia tidak bisa mengubah seorang individu kembali ke dalam fitri, tetapi ia bisa membantunya agar ia kembali menemukan jati diri. Seorang anak manusia juga tidak bisa menjadikan individu tetap dalam ridha Illahi, tapi ia bisa menjaganya dalam tautan silaturahim. Manusia tidak bisa menjamin dirinya senantiasa dalam kebenaran. Jelas kiranya bahwa manusia pada dasarnya butuh akan dakwah sebagai alarm kehidupan yang selalu mengingatkannya untuk kembali, seruan Illahi melalui pelantara makhluk-Nya, serta bentuk kepedulian sejati atas keselamatan sesama.

Dakwah juga dapat diwujudkan sebagai karya yang dimaksud oleh ilustrasi di atas, karena dakwah adalah seni menawan dalam menyampaikan pesan nan suci. Bagaimana tidak, "profit" dakwah tidak hanya kepuasaan saat terwujudnya masterpiece, keuntungan saat mendapat materi dunia, namun lebih besar dari pada itu, yakni "profit" akhirat sebagai bekal yang mengabadi.

Selain menjalankan perintah Allah untuk saling manasihati dalam kebenaran dan kesabaran agar tidak tergolong pada kelompok manusia yang merugi--QS. al-'Asr--dan ikut andil dalam persebaran Islam di muka bumi, dakwah adalah bentuk nyata dari kasih sayang sesama manusia yang dapat menghindarkannya dari sikap individualis. Adapun "profit" dari aktivitas dakwah diantaranya sebagai berikut:

1. Perwujudan Orang Beriman

Sikap hidup orang beriman adalah memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran (QS. at-Taubah [9]: 71). Berbeda halnya dengan orang munafik yang bersikap sebaliknya(QS. at-Taubah [9]: 67). Tidak pelak lagi bahwa dakwah adalah aktivitas amar ma'ruf nahyi munkar sebagai wujud dari orang yang beriman.

2. Mewujudkan Tanggung Jawab Bersama

Berdakwah dalam kehidupan bermasyarakat diibaratkan seperti sekelompok orang yang menghuni sebuah kapal layar. Ada yang mendapatkan tempat di atas dan ada juga yang di bawah. Bila orang yang ada di bawah hendak mengambil air, ia harus naik dan melewati setiap orang yang dilaluinya di setiap tingkat kapal. Terkadang orang yang di bawah berpikir, "seandainya aku lubagi saja kapal ini untuk mendapatkan air, maka aku tidak akan mengganggu orang yang ada di atas". Bagaimana jika orang tersebut melubangi kapalnya? Jangankan akan sampai pada tujuan, sebelum itu terjadi mereka akan tenggelam. Apabila mereka mencegahnya, maka mereka semua akan selamat dan terhindar dari petaka. Begitupun berdakwah di masyarakat, ketika orang-orang saling mengingatkan dan menyeru pada kebaikan serta mencegah pada kemunkaran, mereka akan selamat dari persinggahan menuju tempat tujuan. Sikap tenggang rasa antara penghuni atas dan bawah kapal juga akan tercipta dengan terciptanya kesadaran bersama untuk saling menjaga.

3. Bekal Menghadap Allah SWT.

Tentu kita mengetahui bahwa kehidupan ini hanyalah jembatan yang membentang pada satu titik akhir, yaitu kematian sebagai gerbang kehidupan yang kekal. Hidup di dunia hanyalah sementara, namun banyak umat manusia menjadi budak dunia karena keindahannya yang memperdaya (QS. al-Hadid [57]: 20), namun ada juga mereka yang menjadikan dunia dalam " kendalinya" dengan menyikapi dunia "seperlunya".

Hidup di zaman yang " mempertontonkan" kemaksiatan, "mempertuan" keinginan, peniadaan kebaikan, dan lain halnya, dakwah dapat dijadikan sebagai "alasan" saat menghadap Sang Hakim keadilan. Ketika tubuh ringkih terhuyung ketakutan di depan pengadilan-Nya, saat itulah pengharapan terbesar untuk diselamatkan dan hanya keridhaan-Nya yang kita perlukan, pertanyaannya apa yang kita miliki untuk selamat dari murka-Nya? dakwah adalah salah satu alasan untuk menyelamatkan diri. Ketika zama semakin tidak karuan, tetaplah gaungkan dakwah. Stereotip "mengepa kau menasihati kaum yang Allah akan membinasakan dan mengadzab mereka karena kemaksiatannya dengan adzab yang amat keras?" jawablah dengan tegas, "itu kami lakukan agar kami memiliki alasan pelepas tanggung jawab kepada Allah serta agar mereka bertakwa", sebagaimana yang telah Allah gambarkan dalam QS. al-'Araf [7]: 164.

4. Berpeluang Menjadi Orang yang Beruntung dan Meraih Kesempatan untuk Menjadi Umat Terbaik

Ayat ini begitu familiar di telinga, QS. Ali-Imran [3]: 104. Menyerukan kebajikan, memerintahkan kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar adalah aktivitas dakwah. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menyebutkan riwayat dari Abu Ja'far al-Baqir yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih setelah membaca ayat, " Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan", Rasulullah bersabda, "yang dimaksud dengan kebaikan itu adalah mengikuti al-Quran dan Sunnahku." Jelaslah kiranya aktivitas dakwah juga merupakan aktivitas menyerukan Firman Allah dalam al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. baik berupa perintah, larangan, maupun pembiaran, dengan hukum kedudukannya.

Masih dalam QS. Ali-Imran [3], pada ayat ke 110 Allah berfirman (yang artinya), "kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk menusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..."

Lagi-lagi dan lagi, Allah memberikan peluang yang sangat luar biasa (menjadi sebaik-baiknya umat) dengan aktivitas dakwah.

Masih rela gak termasuk aktivis dakwah? apa lagi pertimbangan tidak menjadikan dakwah sebagai karyamu? abil kesempatan emasmu menjadi aktivis dakwah, segera karyakan dakwahmu.

#adet
#karyakan_dakwahmu
#dakwahmu_karyamu
#menulis_dakwah
#to_be_continue

Sabtu, 22 Juli 2017

Tentang Kita

#Bagian Kedua: The Call

Berkabar sekedar menanyakan kabar juga berlangsung ketika hari libur. Pulang ke rumah hand phone dalam genggaman. Tak ada lagi kurir dan tidak lagi menunggu lipatan 24 jam. Dengan kurir operator, tak payah menuliskan salam pembuka, isi, dan penutupan.

Mungkin agak sedikit berbeda. Jika dengan surat tulisanku dapat memenuhi satu, dua halaman penuh, sentuhan keyboard hanya menyentuh beberapa huruf yang menjadi kata atau kalimat balasan atas pertanyaan maupun pernyataan, begitu singkat. Terkadang hanya menjawab tanpa balik bertanya untuk kelangsungan berkirim pesan atau hanya ber-oh saja.

Bukan so atau apa, begitulah aku, tetlebih kepada orang yang masih "baru". Singkatnya balasan yang kukirim juga karena aku tidak tahu apa yang harus aku enter di keyboard, kecut dan kaku. Aku tak pandai mencerecau "basa-basi" lebih relax.

Kenapa aku mengatakan bahwa dia berbeda dari kebanyakan? karena ada banyak bandingan yang juga datang. Ketika yang lain hanya sibuk "pedekate", telpon dialah yang membedakannya. Malam dingin seperti biasa dengan udara pegunungan yang menusuk tulang, aku berkeringat "kepanasan" karena sebuah panggilan. Come on, aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Sensasi itu belum aku kenal, perasaan seperti itupun aku masih awam, hingga lama kemudian aku memahaminya.

Apa aku nervouse? mungkin iya. Apa aku gugup? bisa jadi benar. Apa aku salting? ah, kalaulah ngobrol face to face aku mati kutu sepertinya. Obrolan itu ringan saja, diawali salam, bertanya kabar, aktivitas, pertanyaan kenapa, dan pernyataan atas pertanyaan, hanya itu. Tapi dering telpon tersebut tidak sesimpel "hanya itu". Pertanyaan dia mengharuskan aku untuk menjawab secara definitif, deskriptif, bahkan naratif. Ketahuilah, under process dari "anti sosial" yang aku miliki tidak menjadikannya mudah hanya dengan aku berkata "biasa saja". Dari sanalah, aku belajar untuk "berbicara" mengungkapkan. Yang hingga saat ini 2017 aku masih belajar mengekspresikan diri.

Bagaimana telpon itu benyak membawa perubahan, perubahan pada pesan yang dikirmkannya kemudian. Pada malam tanggal 25 Desember 2012 dia mengirim pesan pendek. Pendek saja pesannya, "kalo a ilham punya perasaan ke adet gimana?" aku sampai bolak-balik membaca pesan pendek itu yang terasa panjang karena terus diulang. Tentulah aku senang, senang sekali. Serasa mimpi, ketika seseorang yang aku kagumi menghampiri hati, betapa beruntungnya aku karena ini bukan mimpi. Tetaplah menjadi someone yang aku kagumi.

***

Tulisan ini juga tidak serta merta produktivitas waktu senggang mengisi liburan, tulisan ini adalah ekspresi diri ketika kata tersangkut dikerongkongan dan tersedak saat hendak diucapkan. Ini adalah suaraku yang tak akan lekam dimakan waktu, persembahan bagi 1001 kisah asmara yang ada di dunia.

Walau rancu, tulisan inilah yang akan menjaga puzzel memori dari sisiku. Malam hangat yang kontras dengan udara over sejuk di luar, aku kembali memonitori layar screen, kembali menelusuri peta kisahku.

Panggilan telpon tersebut menjadikanku santai, tak lagi sibuk membalas pesan di kotak masuk. Panggilan telpon itu pula yang membuat aku stres. Baru tahu kenapa jerawat disebut juga bisul asmara, karena memang stres memikirkannya, haha.

Aku mulai mengakrabkan diri dengan kata menunggu. Bagaimana tidak, dari awal perjalanan ini adalah tentang menunggu. Jika di sekolah aku menunggu kurir kapan menemuiku dengan tangan yang tak lagi hampa tanpa surat, di rumah pun aku menunggu, menunggu kapan smsku akan dibalas. Tepat 30 menit selang waktu aku menunggu pesan singkat tersebut, bahkan bisa lebih dari itu. Tak jarang aku lupa bahwa aku sedang menunggu, hingga beberapa jam berikutnya baru aku kembali berjibaku dengan menunggu.

Apa aku jatuh cinta? ah, enggan aku jatuh cinta. Yang namanya jatuh itu sakit, walaupun dengan embel-embel cinta tetap saja jatuh. Apa aku sedang membangun cinta? nah, bisa jadi aku tengah membangun imperium megah itu dalam sejarah hidupku.

***

"Teh abon, tadi malem a ilham nelpon." keesokan harinya aku berkirim pesan dengan kakak kelasku--ade bondan--yang memang sudah tahu dari awal, entah dari mana. Mungkin hasil translatenya melihat gelagatku yang kemudian disusunkan di atas papan puzzel gosip dari telinga ke telinga.
"Wah, gimana aja tuh?" balasnya singkat, yang berbanding terbalik dengan balasanku selanjutnya. Menceritakan percakapan kami--yang sekarang tak lagi aku mengingatnya--.
"Wih, terus gimana neng?" tanyannya kemudian. lagi-lagi tidak berbanding lurus dengan pesanku yang memenuhi beberapa slide di screen ponsel.
"Debak! sok lah neng, aku percaya kalo sama dia." jeng-jeng, pesanku ringan dibalasnya dengan singkat kata saja.

Perpesanan segera terpenuhi oleh percakapan aku dan kakak kelasku. Dia? entahlah. Aku tidak akan mengawali dalam hal berkirim pesan. Jika ada pesan darinya, aku akan membalasnya. Jika tidak ada pesan, ya aku tidak akan menghubunginya kalau bukan urusan yang penting dan mendesak, sehingga aku memiliki alasan untuk memuali perpesanan.

Kenapa gitu? apa aku saking gengsinya mengawali kabar? ah tidak juga, aku hanya selalu terjebak. Terjebak dalam polemik persepsiku sendiri. Bagaimana jika pesanku malah mengganggu harinya? bagaimana jika pesanku tidak dibalas olehnya? bagaimana pendapatnya jika aku ternyata mengirim pesan duluan? apakah dia akan risih? dan banyak lagi persepsi lainnya. Tidak heran jika aku selalu bersedia untuk menunggu karena aku tidak memiliki keberanian untuk memulai.

***

Telpon..
Apa kau sibuk?
Bolehkah aku menelpon?
tut, tut, tut, tut, panggilan tersambung..
Ketika hand phone berdering memunculkan namanya..
Entah mengapa aku senang hati menerimanya..
Hallo...? sapanya daridsebrang sana..
Apa yang akan aku katakan? berbalas hallo??
Ada apa ini? mengapa ada getaran disuaraku??
Malam dingin pegunungan, tapi aku berpeluh tertahan..
Menahan rasa yang hendak buncah seketika.. Ini kali pertama..
Mengapa? aku menjawabnya karena..
Bagaimana?? aku menjawabnya seperti ini, itu, dan begini..
Aku berkata jika ditanya, diam menunggu atau balik bertanya..
Hanya itu,, tapi betapa kapiran kurasa urusan ini..
Lihatlah, kemudian aku menerima pesan..
Sebuah pesan pertanyaan, yang kutumpali pernyataan..
Semua berubah ketika itu, ada hal asing yang tumbuh..
Sesak memenuhi harap akan hari-hari mendatang..
Terus bersemayam hingga kini, setengah dekade pertumbuhannya..
Aku mengenal apa itu rasa, bagaimana itu cinta, yang terpaut berbagai asa..
Terimakasih untuk kesempatan hebat ini..
Kesempatan untuk mengenalmu,,
Kesempatan berharap untuk senantiasa bersamamu..

***

Libur telah usai, aku kembali ke tanah rantau.  Kembali berjibaku dengan aktivitas sekolah. Banyak lagi hal yang berubah sekarang. Hariku mulai dipenuhi banyak kicauan, riuh rendah mengiang di telinga. Sumbernya tentu bukan dari kelasku. Jelas, kelasku hanya dihuni tujuh orang. Kicauan tersebut buming di kelas dia, yang cepat merembet kelas kiri, kanan di sampingnya. Ada saja celetukan-celetukan saat aku melewati kerumunan. Dari sanalah aku belajar berjalan cepat, agar segera berlalu meninggalkan kicau yang memekakan. Apa yang tak ingin aku tampakkan, entah bagaimana sekarang menjadi konsumsi publik.

Tahukahkau bagaimana cara aku berjalan? aku berjalan seperti dikejar setan, tatapan lurus ke depan atau menunduk dalam-dalam menyembunyikan rona muka, kaki kulangkahkan secepat yang kubisa, tak ada senyum, tak ada gurau. Itu ketika aku tahu akan melewati kerumunan mereka--teman laki-laki sekelas dia--, jika berjalan bisa ya santai saja. Saling melempar candang dengan kawan sejalan.

Jika aku datang terlambat, sumpah, malas rasanya. Bukan malas sekolahnya, aku malas mendengar sahutan mereka, sialnya lagi mereka seakan berkerumun seperti "penjaga gerbang", jadi bagaimalah aku bisa menghindar. Kalupun aku berhasil melewati gerbang, mereka seperti sengaja ongkang-ongkang kaki menunggu mangsa berderet di tangga menuju kelas atas.

Dalam sekejap mereka bisa bertransformasi menjadi komposer musik "papan penggilesan" ketika melempar canda menggoda rekan kelasnya itu. Sound track filem animasi favorit semua kalangan warga Indonesi dengan riangnya mereka resing dengan lirik berbeda, sound track Doraemon.
"la la la, Ilham sayang sekali,, Adetia."
Aduh, mukaku merah seperti tomat. Betapa girangnya mereka saat bernyanyi "menyambut" langkahku meniti tangga kelas.

***

Kenangan itu selalu sukses membuatku merekahkan senyum saat mengingatnya. Benarlah pepetah lama itu, setiap hal sekalipun itu sangat menyebalkan jika kau merangkulnya dengan bahagia maka kau akan tersenyum saat mengingatnya.

Pada suatu kesempatan, dia juga pernah menyampaikan hal serupa. "tak apa lah mereka--teman kelasnya-- seperti itu, nanti kalau a ilham sudah keluar, kelakuan mereka akan terkenang dan dirindukan." Ternya benar, aku merindukannya.

***

Aku tersenyum saatku tak tampak olehmu,,
Aku melihatmu saat aku tak ada dalam sapuan pandangmu..
Kusembunyikan senyumku saat kau bersama mereka,,
Aku tak ingin terlihat, karena aku ingin melihatmu..
Dalam persembunyian, aku menatapmu..
Curi-curi pandang rupanya aku..

To be continue...

Rabu, 19 Juli 2017

Tentang Kita

#Bagian Kesatu: Kurir Cinta

sendiri. menyendiri dari keramaian. pintu kamar tertutup rapat dari hingar bingar hiburan. menilik jam di pergelangan tangan, jarum jam menunjukan waktu yang belum terlalu malam, namun sudah lerlampau petang. aku tersenyum, mengingat "masa muda" yang segar dalam ingatan.
***

ruang kelas--yang tidak cukup besar untuk tujuh orang siswa yang tengah bermetamorfosis mengenal "dunia baru"--terasa sunyi dibanding kelas lainnya yang gaduh. ruang kelas tidak terdaftar angka sebagaimana kelas lazimnya. kelas persiapan. kelas ini adalah wajah baru dari kantor yang dialih fungsikan menjadi ruang belajar.

ruangan itu menghadap langsung tiga lapangan dalam satu lahan. lapangan footsall, basket, dan vollyball, saling melintang dan berpotongan dengan garis warna yang berbeda. pohon rindang yang terlihat lenggang tampak menghijau di antara barisan bohon pinggir lapang, berfotosintesis dengan sinar mentari yang hangatkan pagi.

ruangan ini sunyi, seharfiah maknanya. aku dan enam rekan lainnya mulai sibuk dengan dunia masing-masing, tenggelam dalam pemikiran yang berbeda. sunyinya ruangan ini terkadang tak sesunyi maknanya. tak jarang riuh tawa ruang guru di samping yang hanya disekat dengan papan triplek, menjadikannya sunyi dalam ramai, distingtif. tidak hanya sepi dari kebisingan, kelas ini sepi dari modifikasi yang meramaikan pemandangan kiri, kanan, depan, maupun belakang. hanya ada deretan bangku yang berjajar, mading dengan jadwal piket, serta kaligrafi di atas papan tulis. hanya itu.

saat itu, aku tenggelam dalam berjuta baris kata yang sambung menyambung rangkaikan kalimat, kalimat terkumpul menjadi paragraf, tersusun dalam satu sub-bab, dan ber-bab-bab dalam satu buku yang terlihat menawan.

inilah rutinitas baru yang aku jalani, membaca. sejujurnya aku bukan tipikal orang yang gemar membaca, untuk pertamakalinya dengan tempat, waktu, budaya, dan kebutuhan yang berbeda, aku mulai menggemari makhluk yang bernama buku. membaca, aku agendakan dalam hari-hari baruku.

bagi seorang yang awam akan berbagai tulisan, tak ayal aku menyerngitkan dahi untuk mencerna bacaan itu. terlebih ketika kelas berlangsung, aku banyak dikenalkan dengan huruf-huruf dalam tulisan yang rumit namun indah, sambung menyambung dengan berbagai liuk dan lekuk bertabur simbol di atas-bawahnya, tulisan dengan huruf-huruf bahasa arab.

hangatnya udara pagi tak lagi aku rasakan. atmosfer mulai berpaling menjadi panas. gontai kaki menuju asrama terasa berat, langkah pun terasa lambat, waktunya untuk beristirahat sejenak. sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi, tasku telah tersampir mantap di pundak. matahari mulai tergelincir dari tahta singgahnya, dan aku kembali berjubel dengan jadwal mata pelajaran berikutnya.

entah aku yang "terlalu" rajin hingga tiba di kelas hanya dengan kursi dan meja yang "berserakan" dalam tempatnya, ataukah rekanku yang belum juga sampai, entahlah. aku memutuskan untuk beristirahat sejenak, duduk bersandar dan meluruskan kaki sejenak santai. tak selang beberapa lama, temanku mulai datang satu per satu. dia adalah wahyu, teman yang duduk tepat di depanku. dengan buku yang masih ditentengnya dalam genggaman, masuk berucap salam, kemudian memanggilku.
"adet!" sapanya setelah terjawab salam.
"iya!" aku mengalihkan pandangan untuk meresponnya lebih baik.
"ini ada surat dari al-ustadz."
" al-ustadz?" dahiku terlipat melontarkan pertanyaan, "al-ustadz siapa?" tanyaku sejurus kemudian.
"haha, dari a ilham nur hidayatullah." jawabnya teriring tawa.
"owh." aku menerimanya, lantas kumasukan ke dalam saku.

percakapan "kurir cinta" itu terhenti setelah beberapa potong kaliamat berikutnya.

***

lembar surat itu tak lagi tersimpan dalam arsip pribadi. surat perdana dan surat-surat berikutnya telah terlampir dalam arsip pembina asrama, kena rajia.

surat. cara jadul itu tetap ngetren di sekolah berasrama dengan peraturan dilarang membawa alat komunikasi--khususnya hand phone--. mengingat itu simpul senyum selalu tergambar. teringat betapa "anehnya" aku akan hal itu. ingatanku kembali memutar mesin waktu pada lima tahun kebelakang, berpilin berbagai memori hingga memenuhi lamunan.

wajah datarku saat menerima surat itu menguap bersama atmosfer panas di lantai tiga gedung asrama putri. perlahan kubuka setiap lipatan. sebelum menerima surat ini aku sudah dapat membedakan dua ilham kakak kelasku itu, untuk ilham yang satu ini, aku tau saat dia menjadi speaker dalam suatu kegiatan yang entahlah apa namanya itu, dia menyampaikan "waktu". aku terilhami oleh ilham yang satu itu.

surat balasan yang aku titipkan tidak kunjung mendapat balasan hingga dua, tiga hari ke depan. aku seolah menunggu, bertanya pada hampanya udara kapan balasan itu akan tiba. hal tersebut menjadi kapiran kurasa. lihatlah, ada sesuatu yang berbeda. menunggu? mengapa aku harus menunggu? sejak kapan aku mau menunggu? entahlah, tak satupun pertanyaan itu mendapatkan jawaban.

pada hari yang belum genap sepekan, balasan itu tiba. raut mukaku tak lagi datar, kalaulah ada yang memperhatikan, jelas sudah ada senyum disana. namun aku tidak ingin banyak orang tahu, cukup aku dan perasaanku. tak payahlah mereka ikut menghakimi perasaan ini.

begitulah, kurir cinta tak repot antar jemput surat dalam sehari. rentang surat dikirimkan mendapat balasan tak akan sesingkat satu hari. entah apa yang ada di dalamnya. mungkin hendak menyampaikan berjuta rasa dalam rangkaian kata. mungkin juga ingin membuat satu sama lain menunggu, seperti aku. aku terkadang sengaja menunda balasan bukan karena tidak mencari waktu pribadi, melainkan aku ingin membuatnya menunggu.

tidak hanya teman sekelasku yang pernah menjadi kurir cinta yang bersedia mendapat titipan secarik lipatan surat. surat menyurat dalam lembaran kertas yang selalu terarsip di tempat yang tidak diinginkan--arsip pembina--beralih pada layang melayangkan buku catatan.

suatu ketika lembaran surat itu berisi sebuah ajakan untuk membuat daily activity yang kita sepakati. deal, aku menambahkan beberapa list aktivitas apa saja yanh akan dibubuhkan pada kolom daily itu. mulai saat itu, berkirim surat di buku catatan kita sedikit berbeda. berbeda dengan mereka yang hanya bertanya kabar sebagai pembuka salam, mengungkapkan perasaan, hingga janji-janji tersematkan.

***

serapih apapun aku menyimpan cerita itu, pada akhirnya banyak orang tahu. beberapa orang yang ada di kamar barang tentu mereka tahu, tapi orang yang di "luar" tahu? aduh, bukan apa-apa si ya, kadang bad mood juga dengan kekepoannya.

berkirim dan berbalas salam, membahas daily activity, seungkap kalimat motivasi, harapan, enough. apa aku bosan, garing, boring, dan entahbkat apa lagi untuk mengungkapkannya? tidak, aku pribadi nyaman akan hal itu.

suatu hari selepas KBM sekolah, aku dan penghuni kamar tengah berada dalam percakapan ringan, obrolan santai mengurangi kepenatan. lantai tanpa tikar dengan berbagai jajanan menemani siang yang panas ini terasa menyejukan.
"neng, beneran neng sama ilham nur hifayatullah?" pertanyaan dari kakak kelas yang dekat denganku, sontak menumpahkan beragam tanda tanya di benakku, maksudnya apa ya? mungkin berkirim surat itu.
"iya teh." singkatnya aku menjawab.
"wih, baru kali ini dia kaya gitu." timpalnya kemudian, sambil berpindah posisi, bersiap menerima "informasi" lebih baik.
"iya tah? masa?" pernyataan itu membuatku penasaran
"iya beneran, selama aku di sini, yang aku tahu dia tuh cuek sama perempuan." jawabnya menjelaskan.
aku hanya tersenyum, mencoba mencerna kalimat barusan.
"garing gak sih neng sama dia?" teh ade bondan meneruskan daftar pertanyaannya.
"gak sih teh, neng enjoy aja tuh, gak boring. menurut nengmah ya dia tuh someone different than other, gak sama kaya yang kebanyakan." aku menjawab sekenanya.
"haha, iya neng. kayaknya emang ada karakter yang sama antara kalian berdua." tawanya dengan iringan steatment yang lagi-lagi aku tersenyum mendengarnya.

***

sampai sekarang pun, hampir setengah dekade dari kisah itu, percakapan tersebut selalu rindu untuk dikenang, menapaktilasi "awal kisah" kehidupan. lihatlah, betapa tidak, ketika aku mengingatnya aku mesem-mesem sendiri. terkadang juga merasa konyol, tapi tak bisa dipungkiri, dari "hal konyol" itulah kisah kami berawal.

to be continue...