Sabtu, 05 Maret 2016

1% from 99%


Kemana kita akan pergi dan apa yang akan kita lakukan setelah kelulusan? Pada umumnya itu yang akan menjadi pertanyaan utama di benak kita. Begitupun denganku yang harus mulai menata jalan kedepannya untuk mengantarkanku pada semua cita dan asa, perihal kemana aku akan pergi, aku akan pergi menuju gerbang masuk perguruan tinggi sebagai langkah awal mewujudkan apa yang aku inginkan. Apa yang  akan aku lakukan untuk sampai pada gerbang tersebut? Realistis saja, sebagai seorang yang tak berlimpah materi aku akan menjadi “pemburu beasiswa” bersaing dengan dunia nyata. Meskipun demikian, aku tidak ingin sama seperti kabanyakan orang diluar sana yang terfokus pada beasiswa-beasiswa dan jalur masuk lainnya untuk masuk perguruan tinggi. Aku yakin bahwa semua usaha yang telah aku lakukan akan mendapatkan hasil terbaik dari Allah SWT. maka dari itu aku akan memprioritaskan Allah dalam semua usahaku dengan senantiasa konsisten menjaga shalat malam dan duha, berdoa dikala orang-orang terlelap dan orang-orang sibuk beraktifitas. Bisa dibilang aku adalah remaja dengan penuh mimpi dan harapan akan perubahan menjadi lebih baik dari sebelumnya, aku bersikap “tuli” tuli pada teriakan-teriakan pesimis dan aku “buta” pada sikap pragmatis. Jika terdapat 99% kemunginan gagal dalam mewujudkan harapan, maka aku akan mencari 1% kemungkinan yang tersisa untuk mencapai kesuksesan. Aku ingin menjadi konsultan politik, entah itu bagaimana. Aku hanya berlandaskan pada kekuatan tekad untuk menjadi bagian dari kejayaan islam. Ada 3 aspek yang menjadi faktor penunjang jayanya islam di dunia, yaitu ilmu pengetahuan, ekonomi dan kekuasaan. Selain menjadi cendikia muslim yang menguasai ilmu pengetahuan, aku ingin menjadi bagian dari revolusi kekuasaan islam. Mimpiku tidak hanya sebatas konsultan politik , aku juga ingin menjadi jurnalis untuk turut aktif dengan jihad bil kitabah. Itulah garis utama impianku, menjadi cendikia konsultan politik yang aktif di dunia jjurnalistik, dan untuk mewujudkannya aku akan melalui setiap proses di universitas padjajaran dengan sungguh-sungguh. Selain itu aku juga ingin menjadi konselor melalui fakultas bimbingan konseling di universitas negri islam yogyakarta. Terlepas hal-hal di atas, aku sngat berharap dapat mengunjungi satu tempat selain kunjungan wajib ke Makkah menjadi tamu Allah saat ku mampu, aku ingin pergi ke london menginjakan kakiku di atas jembatan mewahnya, entah itu bagaimana yang jelas aku akan pergi ke sana. Kehidupan di luar memang tak selalu menawarkan kemudahan, dari sekian kemudahan tersebut lebih banyak kemungkinan hidup yang menakutkan, walau demikian satu kalimat yang selalu aku ingat “rasakanlah ketakutan itu lalu lakukanlah”, ketakutan itu bukan untuk dihindari tapi untuk dinikmati, karena bersama ketakutan itulah akhir kita dalam kebahagiaan. Terimakasih PPI 109 Kujang, karenamu aku berani bermimpi dan berharap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar