Aku adalah ruh yang tidak dikenal, berbaur dengan ruh lain di alam yang juga kau tidak ketahui. Satu-persatu diantara kami mulai berkelan menuju alam lain. Alam itu sangat kokoh, walaupun tidak menjamin kenyamanan kami selama berada di sana. Mungkin suatu waktu akan tiba giliranku, tapi aku takut. Kalaulah aku tak lebih takut ketika aku berhadapan dengan Raja dari semua Raja, aku hendak protes tak terima. Cukuplah aku di sini, di tempat indah dengan belaian kasih sayang yang menentramkan.
Benar saja, kini giliranku untuk berkelana, aku masih takut, aku tak membawa apapun kecuali anugerah-Nya. Bagaimanakan tempatku nanti, nyaman atau sebaliknya? Aku takut. Ketika takut itulah bisikan terdengar kuat untuk meyakinkan. "Tak usah risau, tak perlu kau takut, kau tetap dalam genggaman-Ku." Ya aku tak perlu takut. Aku akan bersatu dengan seorang pemenang dari ribuan kekalahan. Aku akan hadir sebagai pemenang. Kemudian kembali terdengar, "Kau tak akan sendiri, akan Aku hadirkan sosok malaikat yang akan menjagamu, dua malaikat yang akan menjadi pintu surga bagimu."
Benarkah itu? Aku mulai dipenuhi angan dan harap, tak sabar rasanya melihat kedua malaikatku. Apapun yang terjadi aku harus bertahan di tempat kokoh itu. Bertransformasi menuju alam yang baru, aku mengambil sumpah pada Tuhanku, Allah Tuhanku. Hei tempat ini sangat nyaman. Lantunan suara serak yang merdu itu sangat indah, setiap hari tak bosannya suara ini terdengar di alam kokohku. Apakah itu suara malaikatku? Aku semakin riang ingin sekali berjumpa dengannya. Tuhanku berakata akan mengimku dua malaikat, mana suara malaikatku yang satu lagi?
Ketika aku bergumam sendiri, dengarlah! Ada yang mengajaku bicara. Sentuhannya terasa begitu hangat, suaranya ini suara yang berbeda, bukan suara serak merdu nan lembut itu. Karakter suara ini kuat, penuh kasih sayang dan naungan. Mungkinkah ini juga suara maiakatku? Ya, tidak salah lagi, waah! betapa beruntungnya aku.
Inilah aku, aku tidak lagi ketakutan. Tempatku nyaman, malaikatku senantisa menjagaku, bahkan aku selalu diutamakan dari sekian prioritas orang-orang yang berada di alam luar. Menakjubkan. Aku sangat nyaman. Lagi-lagi, Tuahanku tak menghendaki aku untuk menetap disini. Aku harus kembali berpindah untuk melaksanakan tugas yang telah diemban oleh pendahuluku. Kini aku bertanya kepada Tuhanku, mengapa aku harus keluar dari tempat yang nyaman ini, untuk keluarnya saja aku harus berjuang segenap tenaga, apalagi aku harus mendengar malaikatku begitu kesakitan dan harus mempertaruhkan dirinya untukku, aku tak kuasa.
Aku tidak mengerti, mengapa Tuhanku memperlakukanku seperti itu. Itu saat aku belum tahu hikmah mengapa aku harus keluar dari alam tersebut. Tuhanku kemudian berkata dengan takjimnya, "Kau harus keluar dari sini, kau tidak akan tahu betapa indahnya ciptaan-Ku ketika kau terus disii dengan kenyemanan itu. Apabila sekarang kau tak tahan dengan rasa sakit malaikatmu, maka kau sejatinya harus keluar memberikan kebahgian tak terhingga dengan tangisan pertamamu." Ya, aku ingin sekali meliat kebahagiaan malaikatku secara langsung. Aku pun berjuang bersama dengan malaikatku.
Hari pertama ketika kakiku mulai berpindah alam, disusul bagian tubuh yang lain, aku menangis kencang diantara haru bahagia orang sekitar. Aku menjadi satu-satunya orang yang menangis ketika yang lain tersenyum.
Benarlah kiranya apa yang terdengar olehku, begitu indah ciptaan Tuhanku. Kali ini aku sadar, mengapa aku berpindah alam. Tuhanku hendak mengajarkan aku berproses di alam persinggahan. Aku tidak boleh menetap dan nyaman juga di alam ini. Aku cukup tahu bahwa alam inipun hanya sementara. Alam yang mereka namakan dunia ini adalah satu rangkaian perjalanan seperti dua alam yang telah aku lalui. Hidup di dunia ini hanya akan menyampaikanku pada tujuan dari perjalanan panjang ini. Tujuanku masih jauh di depan sana, setelah kehidupan dunia ini pastilah ada alam lain sebelum aku benar-benar sampai pada tujuan.
Orang-orang kini memanggilku dengan panggilan Adet. Ya, setelah tujuh hari aku menghirup oksigen bumi kedua malaikatku memberiku nama Adetia Siti Nurmaluloh, dengan harapan kelak aku akan menjadi Harta Allah bagi mereka. Tak ubahnya aku seperti kebanyakan aku yang lain, adalah anak Adam di generasi kesekian yang terkadang kelilipan kilaunya bumi peristirahatan dalam rangka rehat dari sebuah perjalanan.
Waktu dunia singkat saja. Itulah rentang waktuku untuk membahagiakan kedua malaikatku. Sederhana saja, keduanya tidak memiliki sayap seperi kisah negeri dogeng pengantar tidur yang digemari. Malaikat ayu nan teduh itu adalah Ibu, sorot matanya menyampaikan pesan cinta yang begitu nyata, terkadang penuh kekhawatiran pula karena ulahku yang menjadi anaknya. Suaranya pagi, siang, sore, tidak pernah bosan mengingatkan ini itu untuk mengajarkanku yang baru seujung kuku menyelam dalam lautan garam kehidupan. Begitupun dengan malaikatku yang satu lagi, orang memanggilnnya Ayah. Garis wajahnya terlihat tegar, memancarkan ketampanan penuh karisma kewibawaan. Sorot matanya memancarkan kekuatan dan kedamaian. Aku dapat merasakan kembali belaian Tuhanku melalui tangan mereka, orang tuaku.
Mereka menjagaku siang malam, begitupun kelak ketika mereka mulai lelah. Mereka mengasihiku tanpa batas waktu, begitupun yang ingin aku berikan untuk keduanya. Mereka senantiasa mendekapku dalam kehangatan, begitupun harapku ketika mereka mulai kedinginan. Mereka membukakan begitu banyak kesempatan hidup yang belum mereka rasakan, pun aku yang ingin membuka lebar harapan mereka yang hendak dicapai.
Seperti apa yang dikatakan oleh penulis favotitku, hidup ini tentang menunggu, menunggu sampai kapan kau akan berhenti menunggu. Aku sedang meunggu, menunggu kapan Tuhanku akan kembali memindahkan kehidupanku pada alam selanjutnya. Satu pelajaran yang aku ingat dari pengalaman lalu, ketika aku takut untuk berpindah dari alam yang kokoh. Aku harus keluar dari alamku, selain memang itu adalah bagian hidupku akupun harus melihat dunia selanjutnya lagi dan lagi sampai tak ada lagi. Aku tak akan pernah tahu indahnya alam dunia ketika aku bersikeras dalam alam sebelumnya. Begitupun ketika aku bersikeras dengan alam dunia, aku tidak akan pernah tahu bagaimana indahnya alam dari alam pemisah, alam yang abadi. Tak perlu lagi aku takut, karena itu adalah sebuah keniscayaan, yang aku takutkan sekarang adalah tentang apa yang akan aku bawa untuk melanjutkan kehidupanku di alam sana.
Banyak makhluk bernama manusia yang terperdaya dengan kehidupan dunia. Padahal jelas kiranya firman Allah, tak ada ragu apalagi kebohongan bahwa dunia ini hanyalah perhiasan yang memerdaya, berikut terjemah yang mudah-mudahan benar dalam mengartikan firman-Nya.
"Setiap yang bernyawa pasti aakan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukan kedalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Ali-Imran [3]: 185)
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permaian dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yag tanaman-tanamannya mengagumkan petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunandari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hayalah kesenangan yang palsu." (QS. al-Hadid [57]: 20)
Aku tidak mengerti, mengapa Tuhanku memperlakukanku seperti itu. Itu saat aku belum tahu hikmah mengapa aku harus keluar dari alam tersebut. Tuhanku kemudian berkata dengan takjimnya, "Kau harus keluar dari sini, kau tidak akan tahu betapa indahnya ciptaan-Ku ketika kau terus disii dengan kenyemanan itu. Apabila sekarang kau tak tahan dengan rasa sakit malaikatmu, maka kau sejatinya harus keluar memberikan kebahgian tak terhingga dengan tangisan pertamamu." Ya, aku ingin sekali meliat kebahagiaan malaikatku secara langsung. Aku pun berjuang bersama dengan malaikatku.
Hari pertama ketika kakiku mulai berpindah alam, disusul bagian tubuh yang lain, aku menangis kencang diantara haru bahagia orang sekitar. Aku menjadi satu-satunya orang yang menangis ketika yang lain tersenyum.
Benarlah kiranya apa yang terdengar olehku, begitu indah ciptaan Tuhanku. Kali ini aku sadar, mengapa aku berpindah alam. Tuhanku hendak mengajarkan aku berproses di alam persinggahan. Aku tidak boleh menetap dan nyaman juga di alam ini. Aku cukup tahu bahwa alam inipun hanya sementara. Alam yang mereka namakan dunia ini adalah satu rangkaian perjalanan seperti dua alam yang telah aku lalui. Hidup di dunia ini hanya akan menyampaikanku pada tujuan dari perjalanan panjang ini. Tujuanku masih jauh di depan sana, setelah kehidupan dunia ini pastilah ada alam lain sebelum aku benar-benar sampai pada tujuan.
Orang-orang kini memanggilku dengan panggilan Adet. Ya, setelah tujuh hari aku menghirup oksigen bumi kedua malaikatku memberiku nama Adetia Siti Nurmaluloh, dengan harapan kelak aku akan menjadi Harta Allah bagi mereka. Tak ubahnya aku seperti kebanyakan aku yang lain, adalah anak Adam di generasi kesekian yang terkadang kelilipan kilaunya bumi peristirahatan dalam rangka rehat dari sebuah perjalanan.
Waktu dunia singkat saja. Itulah rentang waktuku untuk membahagiakan kedua malaikatku. Sederhana saja, keduanya tidak memiliki sayap seperi kisah negeri dogeng pengantar tidur yang digemari. Malaikat ayu nan teduh itu adalah Ibu, sorot matanya menyampaikan pesan cinta yang begitu nyata, terkadang penuh kekhawatiran pula karena ulahku yang menjadi anaknya. Suaranya pagi, siang, sore, tidak pernah bosan mengingatkan ini itu untuk mengajarkanku yang baru seujung kuku menyelam dalam lautan garam kehidupan. Begitupun dengan malaikatku yang satu lagi, orang memanggilnnya Ayah. Garis wajahnya terlihat tegar, memancarkan ketampanan penuh karisma kewibawaan. Sorot matanya memancarkan kekuatan dan kedamaian. Aku dapat merasakan kembali belaian Tuhanku melalui tangan mereka, orang tuaku.
Mereka menjagaku siang malam, begitupun kelak ketika mereka mulai lelah. Mereka mengasihiku tanpa batas waktu, begitupun yang ingin aku berikan untuk keduanya. Mereka senantiasa mendekapku dalam kehangatan, begitupun harapku ketika mereka mulai kedinginan. Mereka membukakan begitu banyak kesempatan hidup yang belum mereka rasakan, pun aku yang ingin membuka lebar harapan mereka yang hendak dicapai.
Seperti apa yang dikatakan oleh penulis favotitku, hidup ini tentang menunggu, menunggu sampai kapan kau akan berhenti menunggu. Aku sedang meunggu, menunggu kapan Tuhanku akan kembali memindahkan kehidupanku pada alam selanjutnya. Satu pelajaran yang aku ingat dari pengalaman lalu, ketika aku takut untuk berpindah dari alam yang kokoh. Aku harus keluar dari alamku, selain memang itu adalah bagian hidupku akupun harus melihat dunia selanjutnya lagi dan lagi sampai tak ada lagi. Aku tak akan pernah tahu indahnya alam dunia ketika aku bersikeras dalam alam sebelumnya. Begitupun ketika aku bersikeras dengan alam dunia, aku tidak akan pernah tahu bagaimana indahnya alam dari alam pemisah, alam yang abadi. Tak perlu lagi aku takut, karena itu adalah sebuah keniscayaan, yang aku takutkan sekarang adalah tentang apa yang akan aku bawa untuk melanjutkan kehidupanku di alam sana.
Banyak makhluk bernama manusia yang terperdaya dengan kehidupan dunia. Padahal jelas kiranya firman Allah, tak ada ragu apalagi kebohongan bahwa dunia ini hanyalah perhiasan yang memerdaya, berikut terjemah yang mudah-mudahan benar dalam mengartikan firman-Nya.
"Setiap yang bernyawa pasti aakan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukan kedalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Ali-Imran [3]: 185)
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permaian dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yag tanaman-tanamannya mengagumkan petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunandari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hayalah kesenangan yang palsu." (QS. al-Hadid [57]: 20)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar