Jumat, 08 Desember 2017

Keep Walking

Sebuah karya tidak akan terlepas dari maksud yang hendak disampaikan oleh si pencipta. Karya memiliki wujud yang beragam, salah satunya adalah tulisan. Dalam tulisanpun banyak juga jenisnya, salah satunya adalah novel. Steatment pembaca tidak dapat terhindar dari perbedaan, positif, negatif, dan biasa saja. Pendapat pribadi dengan lantang menyuarakan steatment-steatment positif terhadap keberadaan novel, karena memandangnya sebagai alternatif dalam menginternalisasi diri dengan nilai-nilai luhur yang Islami. Ketika orang-orang ada yang beranggapan bahwa membaca novel adalah kegiatan yang kurang bermanfaat karena hanya menghabiskan waktu dengan kisah-kisah yang tidak nyata, di lain sisi ada yang beranggapan bahwa pembelajaran yang paling mudah adalah pembelajaran dari kisah-kisah terlepas itu nyata atau tidak, selama isinya tidak hanya “sebuah kisah”.
Novel “Pulang” yang ditulis oleh Tere Liye adalah sebuah kisah yang tidak layak disebut hanya “sebuah kisah”. Pembaca mungkin bertanya-tanya apa yang hendak disampaikan oleh Tere Liye dalam novel Pulangnya. Setelah sampai pada bagian epilog barulah pembaca akan paham apa makna dari judul novel tersebut. Secara utuh penulis menggambarkan perjalanan seorang anak muda dengan ambisi jiwa mudanya menemukan sebuah arti kata pulang pada hakikat pulang yang sebenarnya. Sebuah kisah dari perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit. Pulang kepada panggilan Tuhan.
Ada sebuah penggalan paragraf yang sangat menarik perhatian di lembaran kisah pertama novel tersebut, ketika sang tokoh utama melakukan monolog dalam memperkanalkan dirinya, “Inilah hidupku, dan aku tidak peduli apapun penilain kalian. Toh, aku hidup bukan untuk membahagiakan orang lain, apalagi menghabiskan waktu mendengar komentar mereka.” Pandangan sekilas mungkin akan menganggapnya sebagai ungkapan orang yang apatis terhadap lingkungan sosialnya, orang yang acuh terhadap nilai dirinya dihadapan yang lain, tetapi tidak menutup kemungkinan ada orang yang menganggapnya sebagai sebuah rumusan untuk mencapai apa yang disemogakan.
Pernyataan dari penggalan paragraf tersebut sesuai dengan sebuah istilah yang sangat populer dengan ungkapan, “Anjing mengonggong, kapilah berlalu.” Seorang kapilah yang mengacuhkan gonggongan anjing entah bagaimanapun ia akan sampai pada tujuannya, sedangkan gonggongoan anjing akan semakin samar kemudian hilang tidak terdengar ketika ia fokus melanjutkan perjalanan. Akan lain ceritanya ketika ia meggubris gonggongan anjing dan menyuruhnya diam, ia tidak akan mampu menghentikan gonggongan dan ia pun tidak akan sampai pada tujuan.
Ketika kita menemukan titik balik untuk pulang pada hakikat sebenar-benarnya pulang, abaikanlah semua perkataan orang yang meragukan, bahkan mereka yang mencibir, fokus pada perbaikan dan tujuan awal. Ketika terlalu lelah mendengar semuanya tidak ada yang salah untuk sejenak menghentikan langkah, mundur satu langkah kebelakang untuk melesat seribu langkah kedepan. Ketika terlalu ramai dan memekakan telinga, cukup tetap yakin terhadap kebenaran yang dianggap benar untuk dilakukan sehingga sampai kepada makna pulang. Apalah daya ketika tangan hanya dua, mulut mereka terlalu banyak untuk kita bisa menutupnya, cukuplah kita menutup telingan dengan kedua tangan yang kita punya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar