Rabu, 19 Juli 2017

Tentang Kita

#Bagian Kesatu: Kurir Cinta

sendiri. menyendiri dari keramaian. pintu kamar tertutup rapat dari hingar bingar hiburan. menilik jam di pergelangan tangan, jarum jam menunjukan waktu yang belum terlalu malam, namun sudah lerlampau petang. aku tersenyum, mengingat "masa muda" yang segar dalam ingatan.
***

ruang kelas--yang tidak cukup besar untuk tujuh orang siswa yang tengah bermetamorfosis mengenal "dunia baru"--terasa sunyi dibanding kelas lainnya yang gaduh. ruang kelas tidak terdaftar angka sebagaimana kelas lazimnya. kelas persiapan. kelas ini adalah wajah baru dari kantor yang dialih fungsikan menjadi ruang belajar.

ruangan itu menghadap langsung tiga lapangan dalam satu lahan. lapangan footsall, basket, dan vollyball, saling melintang dan berpotongan dengan garis warna yang berbeda. pohon rindang yang terlihat lenggang tampak menghijau di antara barisan bohon pinggir lapang, berfotosintesis dengan sinar mentari yang hangatkan pagi.

ruangan ini sunyi, seharfiah maknanya. aku dan enam rekan lainnya mulai sibuk dengan dunia masing-masing, tenggelam dalam pemikiran yang berbeda. sunyinya ruangan ini terkadang tak sesunyi maknanya. tak jarang riuh tawa ruang guru di samping yang hanya disekat dengan papan triplek, menjadikannya sunyi dalam ramai, distingtif. tidak hanya sepi dari kebisingan, kelas ini sepi dari modifikasi yang meramaikan pemandangan kiri, kanan, depan, maupun belakang. hanya ada deretan bangku yang berjajar, mading dengan jadwal piket, serta kaligrafi di atas papan tulis. hanya itu.

saat itu, aku tenggelam dalam berjuta baris kata yang sambung menyambung rangkaikan kalimat, kalimat terkumpul menjadi paragraf, tersusun dalam satu sub-bab, dan ber-bab-bab dalam satu buku yang terlihat menawan.

inilah rutinitas baru yang aku jalani, membaca. sejujurnya aku bukan tipikal orang yang gemar membaca, untuk pertamakalinya dengan tempat, waktu, budaya, dan kebutuhan yang berbeda, aku mulai menggemari makhluk yang bernama buku. membaca, aku agendakan dalam hari-hari baruku.

bagi seorang yang awam akan berbagai tulisan, tak ayal aku menyerngitkan dahi untuk mencerna bacaan itu. terlebih ketika kelas berlangsung, aku banyak dikenalkan dengan huruf-huruf dalam tulisan yang rumit namun indah, sambung menyambung dengan berbagai liuk dan lekuk bertabur simbol di atas-bawahnya, tulisan dengan huruf-huruf bahasa arab.

hangatnya udara pagi tak lagi aku rasakan. atmosfer mulai berpaling menjadi panas. gontai kaki menuju asrama terasa berat, langkah pun terasa lambat, waktunya untuk beristirahat sejenak. sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi, tasku telah tersampir mantap di pundak. matahari mulai tergelincir dari tahta singgahnya, dan aku kembali berjubel dengan jadwal mata pelajaran berikutnya.

entah aku yang "terlalu" rajin hingga tiba di kelas hanya dengan kursi dan meja yang "berserakan" dalam tempatnya, ataukah rekanku yang belum juga sampai, entahlah. aku memutuskan untuk beristirahat sejenak, duduk bersandar dan meluruskan kaki sejenak santai. tak selang beberapa lama, temanku mulai datang satu per satu. dia adalah wahyu, teman yang duduk tepat di depanku. dengan buku yang masih ditentengnya dalam genggaman, masuk berucap salam, kemudian memanggilku.
"adet!" sapanya setelah terjawab salam.
"iya!" aku mengalihkan pandangan untuk meresponnya lebih baik.
"ini ada surat dari al-ustadz."
" al-ustadz?" dahiku terlipat melontarkan pertanyaan, "al-ustadz siapa?" tanyaku sejurus kemudian.
"haha, dari a ilham nur hidayatullah." jawabnya teriring tawa.
"owh." aku menerimanya, lantas kumasukan ke dalam saku.

percakapan "kurir cinta" itu terhenti setelah beberapa potong kaliamat berikutnya.

***

lembar surat itu tak lagi tersimpan dalam arsip pribadi. surat perdana dan surat-surat berikutnya telah terlampir dalam arsip pembina asrama, kena rajia.

surat. cara jadul itu tetap ngetren di sekolah berasrama dengan peraturan dilarang membawa alat komunikasi--khususnya hand phone--. mengingat itu simpul senyum selalu tergambar. teringat betapa "anehnya" aku akan hal itu. ingatanku kembali memutar mesin waktu pada lima tahun kebelakang, berpilin berbagai memori hingga memenuhi lamunan.

wajah datarku saat menerima surat itu menguap bersama atmosfer panas di lantai tiga gedung asrama putri. perlahan kubuka setiap lipatan. sebelum menerima surat ini aku sudah dapat membedakan dua ilham kakak kelasku itu, untuk ilham yang satu ini, aku tau saat dia menjadi speaker dalam suatu kegiatan yang entahlah apa namanya itu, dia menyampaikan "waktu". aku terilhami oleh ilham yang satu itu.

surat balasan yang aku titipkan tidak kunjung mendapat balasan hingga dua, tiga hari ke depan. aku seolah menunggu, bertanya pada hampanya udara kapan balasan itu akan tiba. hal tersebut menjadi kapiran kurasa. lihatlah, ada sesuatu yang berbeda. menunggu? mengapa aku harus menunggu? sejak kapan aku mau menunggu? entahlah, tak satupun pertanyaan itu mendapatkan jawaban.

pada hari yang belum genap sepekan, balasan itu tiba. raut mukaku tak lagi datar, kalaulah ada yang memperhatikan, jelas sudah ada senyum disana. namun aku tidak ingin banyak orang tahu, cukup aku dan perasaanku. tak payahlah mereka ikut menghakimi perasaan ini.

begitulah, kurir cinta tak repot antar jemput surat dalam sehari. rentang surat dikirimkan mendapat balasan tak akan sesingkat satu hari. entah apa yang ada di dalamnya. mungkin hendak menyampaikan berjuta rasa dalam rangkaian kata. mungkin juga ingin membuat satu sama lain menunggu, seperti aku. aku terkadang sengaja menunda balasan bukan karena tidak mencari waktu pribadi, melainkan aku ingin membuatnya menunggu.

tidak hanya teman sekelasku yang pernah menjadi kurir cinta yang bersedia mendapat titipan secarik lipatan surat. surat menyurat dalam lembaran kertas yang selalu terarsip di tempat yang tidak diinginkan--arsip pembina--beralih pada layang melayangkan buku catatan.

suatu ketika lembaran surat itu berisi sebuah ajakan untuk membuat daily activity yang kita sepakati. deal, aku menambahkan beberapa list aktivitas apa saja yanh akan dibubuhkan pada kolom daily itu. mulai saat itu, berkirim surat di buku catatan kita sedikit berbeda. berbeda dengan mereka yang hanya bertanya kabar sebagai pembuka salam, mengungkapkan perasaan, hingga janji-janji tersematkan.

***

serapih apapun aku menyimpan cerita itu, pada akhirnya banyak orang tahu. beberapa orang yang ada di kamar barang tentu mereka tahu, tapi orang yang di "luar" tahu? aduh, bukan apa-apa si ya, kadang bad mood juga dengan kekepoannya.

berkirim dan berbalas salam, membahas daily activity, seungkap kalimat motivasi, harapan, enough. apa aku bosan, garing, boring, dan entahbkat apa lagi untuk mengungkapkannya? tidak, aku pribadi nyaman akan hal itu.

suatu hari selepas KBM sekolah, aku dan penghuni kamar tengah berada dalam percakapan ringan, obrolan santai mengurangi kepenatan. lantai tanpa tikar dengan berbagai jajanan menemani siang yang panas ini terasa menyejukan.
"neng, beneran neng sama ilham nur hifayatullah?" pertanyaan dari kakak kelas yang dekat denganku, sontak menumpahkan beragam tanda tanya di benakku, maksudnya apa ya? mungkin berkirim surat itu.
"iya teh." singkatnya aku menjawab.
"wih, baru kali ini dia kaya gitu." timpalnya kemudian, sambil berpindah posisi, bersiap menerima "informasi" lebih baik.
"iya tah? masa?" pernyataan itu membuatku penasaran
"iya beneran, selama aku di sini, yang aku tahu dia tuh cuek sama perempuan." jawabnya menjelaskan.
aku hanya tersenyum, mencoba mencerna kalimat barusan.
"garing gak sih neng sama dia?" teh ade bondan meneruskan daftar pertanyaannya.
"gak sih teh, neng enjoy aja tuh, gak boring. menurut nengmah ya dia tuh someone different than other, gak sama kaya yang kebanyakan." aku menjawab sekenanya.
"haha, iya neng. kayaknya emang ada karakter yang sama antara kalian berdua." tawanya dengan iringan steatment yang lagi-lagi aku tersenyum mendengarnya.

***

sampai sekarang pun, hampir setengah dekade dari kisah itu, percakapan tersebut selalu rindu untuk dikenang, menapaktilasi "awal kisah" kehidupan. lihatlah, betapa tidak, ketika aku mengingatnya aku mesem-mesem sendiri. terkadang juga merasa konyol, tapi tak bisa dipungkiri, dari "hal konyol" itulah kisah kami berawal.

to be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar