Sabtu, 12 Agustus 2017

Tentang Kita

Bagian keempat: The Ring

Satu tahun berlalu ketika aku mendapakan ijazah persiapan, saatnya aku melangkah pada jenjang kesetaraan, menguji apa yang telah aku dapatkan. Aku lupa bagaimana mempersiapkan kelasku kemudian, tahu-tahu kini aku resmi terdaftar di kelas berangka, kelas sepuluh. Angka sepuluh ini berakhiran nol sebagai awal, aku mengawali langkah menengah atas di tempat yang sama.

Tak ada yang begitu berbeda, sedikitnya aku telah mengenal tempat ini. Jangan tanya suasana kelas, kelasku termasuk kelas gemuk yang tentunya gaduh. Aku juga belum begitu berbeda, aku masih sedikit bicara, sebelum akhirnya buku yang kubaca perlahan bercerita seakan aku terbiasa. Menjadi public speaker adalah problem dalam masalah. Berbicara di depan umun bagi seorang alumni anti sosial begitu mengerikan, puluhan padang mata serasa penuh ancaman yang kapanpun bisa mencekik tenggorokanku karena mati kutu.

Tapi aku mencoba, aku belajar, aku bertekad, dan aku mau menjadi lebih dari orang kebanyakan yang "diam" dengan ide terkekang. Show up! begitulah perkataan wali kelasku yang terpatri dalam efek hallo pertama kali. Walau kerap kali kata "angkuh" berseliweran, kudengar dari telinga kanan dan kukeluarkan dari telinga kiri. Aku berusaha fokus pada tujuanku, tak ada waktu untuk mendengarkan mereka berbicara. Aku anggap itu hak mereka, mereka punya pemikiran yang berbeda-beda, terlebih buat apa aku menghiraukannya? Terlalu banyak mulut yang berbicara dan aku hanya memiliki dua tanggan untuk membungkam, sadar akan diri lebih baik aku gunakan tangan ini untuk menutup telinga kemudian berjalan meniti proses perubahan.

***

Katanya, dari kelas tujuh aku menempati kelas akselerasi. Papan kecil dari kayu yang terlihat elegan dengan ukiran "Kelas Rancangan Madrasah Berstandar Internasional" berbahasa Inggris lengkap dengan ucapan selamat datangnya. Aku rasa selain jam tambahan, batasan aktif berorganisasi, dan bahasa yang kami gunakan tidak berbeda dengan kelas lainnya.

Aku tumbuh sebagai introvert, aku terkategori orang yang asik sendiri dengan satu atau dua teman saja. Selama aku berjalan pada menengah pertama, hampir semua organisasi aku ikuti. Osis, Kepramukaan dengan dewan penggalangnya, unit kesehatan dengan PMRnya, pengatur lalu lintas dengan PKSnya, tapi itu semua hanya aku ikuti pertemuan pertamanya saja. Aku mebatasi diri dari dunia lain, aku hidup dalam dunia yang aku ciptakan. Dunia fantasi dalam rangkaian cerita fiksi. Cerpenis.

***

Rekam jejak perjalanan seorang cerpenis dan puitisi kini tak lagi ku temukan. Hanya ada dua cerpen dalam satu buku yang aku temui. Beranjak dari dunia kesendirian, pribadi yang tunggal, tempatku kini mengharuskanku berevolusi menjadi sosok yang baru, sosok dengan 180° berbeda. Yang tadinya aku berbicara pada buku catatan dengan torehan pena yang mengungkapkan semuanya, kini aku harus berbicara langsung dengan nada dari pita suara. Aku yang tadinya enggan berorganisasi, kini aku butuh itu. Aku yang dulu menganggap cukup aku saja, ternyata tidak saat jauh dari keluarga bersosialisasi adalah hal mutlak untuk lulus "seleksi alam" ini.

Jika dulu aku cukup tahu apa dan mengapa, kini kurumuskan bagaimana. Jika dulu lidahku kelu merangkai kata, kini aku menekuninya.

Saat itu aku mulai tumbuh dan bertunas, kemudian menghujamkan lemahnya akar ke dalam lapisan kerang bumi dalam geografi. Aku siap tumbuh tinggi. Aku memulainya ketika didaulat menjadi salah satu staf di organosasi intra sekolah. Akan aku coba.

***

Logam perak yang kini melinggkar di jari tengah tangan kiriku adalah awal mula perjalanan itu. Selayaknya staf yang akan dilantik, kami mendapatkan up greading dari staf terdahulu. Penyelenggaraan acara itu diorganisir oleh kakak kelas yang akan lengser jabatan. Dia ditunjuk sebagai ketua pelaksana oleh rekannya.

Tidak, tidak ada bedanya aku dengan yang lain karena aku "berbeda" dengan mereka, itu pribadi dan ini organisasi. Biarlah berada dalam porosnya masing-masing. Semua berjalan sebagaimana mestinya, walaupun aku belum bisa bersikap profesional. Kerap kali aku membuang muka ketika harus bersitatap denganya.

***

Jalan setapak yang gelap, aliran anak sungai terdengar lembut, suara hewan mulai berisik. Suasana ini sungguh tidak aku suka, bagaimana ini, kenapa suasananya setegang ini. Keresek hitam terikat benang ditarik secara tiba-tiba dari hadapanku, aku kenget dibuatnya. Langkah kakiku diisi dengan obrolan ringan dengan kawan di sampingku, untuk menyamarkan ketegangan yang tensinya terus naik.

Tak ada bunga tidur ataupun prasangka aku akan terkecualikan dari perbedaan. Entah itu sah atau tidak, tapi itu membuatku meras berbeda. Pada malam kesekian dari rangkaian acara up greading, aku mendapatkan kejutan yang membuatku ingin lari dari kenyataan.

Ketika aku bertanya pada kakak kelas perempuan yang dekat denganku, katanya dia tidak ikut jaga pos. Aku lega, tapi ternyata tidak aku duga. Dia sempurna berada di depanku sekarang.

Yang tadinya aku berjalan berdua, tepat di pos yang dijaganya, aku ditanya kenapa aku berjalan berdua. Ya memang aku tidak mau sendiri di start awal. Aku berangkat terakhiran, rekanku lebih dulu dipersilahkan. Urusan ini membuatku salah tinggah, untungnya malam ini gelap. Aku mencoba terlihat normal. Pada saat itulah aku dan dia berdua.

Aku kira akan mendapat tantangan atau apa seperti biasa, ternyata tidak. Aku mendapatkan kotak kecil dan surat yang tidak terlihat seperti biasanya, surat itu dilipat sedemikian rupa hingga terlihat seperti kepingan hati yang utuh. Entah percakapan apa dan seperti apa kala itu, aku tidak mengingatnya. Tapi tak dapat ku percaya, aku berbunga.

Tidak banyak orang yang tahu, seperti biasa. Tapi lagi-lagi surat itu raib dari tempatnya, kembali bertelepati ke tempat baru. Malam itu tak sabar rasanya aku ingin membuka kotak ini, aku penasaran. Tapi tidak, lain waktu saja aku membukanya. Aku tidak ingin malam ini menjadi ramai.

Aku melihat drama yang biasa dimainkan pada akhir acara, dimana orang-orang bersitegang dengan perkelahian kata dan tak jarang fisik juga. Teriakan yang memekakan telinga, masalah yang disengaja, kaki menghentak, kata membentak, membuat ruang kelas tidak terlihat rupanya. Si pengacau, pembela, dan penengah, masing-masing rapih memainkan perannya. Selesai acara, kami berkumpul di lapang, bermaafan, penjelasan disampaikan, riuh tawa tanda kebersamaan telah terlaksana. Lempar air menjadi puncaknya, aku memisahkan diri karena tidak mau basah, tetapi percuma kurasa. Entah siapa, dari atas ada yang melemparkannya tepat mendarat di belakangku. Suasana hati yang tidak bersahabat untuk terlibat dalam hal ini, kakiku mengantarkanku ke asrama. Pulang.

Terhitung dua kali aku berpapasan dengannya dalam organisasi, intra dan ekstra. Aku tidak paham pada awalnya organisasi apa ini. Kedua-duanya aku tak banyak bicara. Membiarkan semua berjalan sebagaimana mestinya.

***

Ceritanya aku dipanggil kakak kelas saat KBM tanpa guru berlangsung, kelas yang gaduh tambah rame mengiringi langkah kakiku keluar. Pada saat itu aku diikutsertakan untuk menjadi peserta dalam kongres pelajar region Ciamis-Banjar. Ya, aku ikut. Ada dua orang dari masing-masing kelas, aku salah satunya.

Aku duduk di bangku yang melintang di depan kelas, kami membicarakan teknis pemberangkatan. Aku ditanya akan ikut bersama peserta lain atau pergi duluan bersama staf yang akan mepersiapkan acara. Aku bingung, dalam hati aku ingin berangkat dengan kakak kelas yang sudah dekat denganku, tapi bingung juga apa yang akan aku kerjakan di sana, atau aku berangkat bersama peserta yang lain saja? Ah tidak, aku belum terlalu mengenal mereka. Pilihan yang ada sama-sama membingungkan. Akhirnya aku memutuskan untuk berangkat duluan, mungkin di sana aku bisa sedikit bantu-bantu.

Rencana berangkat duluan untuk mempersiapkan acara terhalang juga, kami tidak mendapat izin dari pembina asrama. Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya tetap, izin tidak kami kantongi. Hanya dia dan satu rekannyanyang berangkat malam itu.

Kami yang telah bersiap-siap, kembali lagi ke asrama. Kami mempersiapkan apa yang bisa kami kerjakan, membuat huruf-huruf yang nantinya akan ditempelkan. Kami tidak menggunakan banner, kami memilih cara manual untuk berampingkan budget dekorasi. Tanganku yang kaku tidak bisa membantu banyak, aku tidak bisa membuat huruf-huruf indah di atas karton warna-warni. Aku hanya bisa membantu mengguntingnya. Kami berangkat setelah shalat subuh untuk mengejar waktu. Walaupun hanya menggunting, aku tidak sempat tidur.

Setibanya disana perkiraanku meleset, aku kira tempat sudah siap, ternyata tidak. Katanya, dia dan rekan satunya setiba di sana tidak dapat menemui rekan pribuminya, tidak ada yang banyak mereka kerjakan, mereka menunggu dan merancang.

Singkat cerita, disana aku menunggu di pelataran mesjid. Aku bersembunyi saat dia ngobrol dengan kakak kelas yang bersamaku, persembunyianku jelas tampak oleh siapapun, aku "bersembunyi" membelakanginya dengan bersandar pada tiang mesjid. Konyol, aku hanya mendengarkan percakapan tanpa ikut di dalamnya. Aku terlihat seperti orang sibuk dengan buku di tangan lengkap dengan bolpoinnya menuliskan apapun yang terpikir olehku. Bosan menunggu, kakak kelas yang bersamaku mengajak jalan-jalan melihat sekitar setelah dia berlalu entah mempersiapkan apa. Aku si yes, dari pada hanya duduk bosan.

Jalan-jalan terasa pegal, terlebih aku rasa salah jalan. Aku bertemu makhluk yang tidak aku harapkan. Aku melihat ulat. Setelah melihat satu, makhluk itu seakan menunjukan diri padaku, lebih sering aku menjumpainya di lebatnya dedaunan. Menyebalkan.

Kami putuskan putar arah, tapi jalan-jalannya masih saja pegal. Selang waktu berlalu, kami beristirahat terlebih dahulu di tempat yang telah disediakan. Aku berbaring sejenak di bangku panjang. Tidak buruk juga, setidaknya aku dapat meluruskan tulang punggu yang sedari kemarin malam hanya terduduk.

Sebagai peserta aku wajib mengikuti acara ini hingga selesai. Aku mendengar kabar bahwa kakak kelas yang dekat denganku dipanggil pulang untuk peraktek mengajar, jelas aku ingin ikut dengannya. Tapi tidak, aku harus menyelesaikan ini dan kakak kelaskupun tetap menemani.

Tidak sepenuhnya kurasa aku mengikuti acara ini, aku kurang fit. Rasa lelah menyergap dan kantukpun kurasa. Susah payah menjaga mata agar tetap terjaga. Sesi foto tak menampakkan wajahku, aku berdiri di belakang dan bersembunyi di balik punggung teman yang ada di depan.

Tok-tok, terdengar suara ketukan di kaca. Aku menoleh, dan itu dia. Bertanya padaku untuk mengajak pulang bersama naik bis, aku mengiyakan. Tapi rencana hanya rencana. Selesainya acara aku mendapati dia bersama rekannya entah kemana, aku pulang bersama rombongan anak perempuan yang lain, naik angkot.

***

Seingatku, aku hanya diam, tersenyum, dan tidak berani melihatnya secara langsung. Aku tidak seperti yang lain, komunikasi seperlunya, bertemu ketika berpapasan, tak banyak rencana untuk bertemu sekedar ngobrol melepas rindu. Biarlah rindu itu tetap tumbuh dalam diam, biarlah cinta itu tetap riuh dalam tenang. Cara itulah yang berhasil membuatku tersenyum saat mendengar cerita tentangnya, berpapasan dengannya, ataupun saat melihatnya.

The ring, menjadi saksi bagaimana aku bertransformasi yang melingkar di jari.

to be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar