Sabtu, 05 Agustus 2017

Dear...

Langit biru sejauh mata memandang, gelombang awal berarak tak beraturan, semilir angin pagi menyegarkan, entah berapa kali aku melewatkannya. Rimba beton perumahan warga susul menyusul dan berlomba, hamparan padi menguning siap panen menyibukan, entah berapa kali aku tak bersantai dengannya. Ayam bercicit sahut menyahut burung bersiul, bertanya pada alam yang hening, sampai kapankah ini akan berulang. Sang surya bola merah membara mulai mengintip disela jejer bukit beranjak naik, silaunya indah terasa, berapakan mentari pagi yang tak aku acuhkan. Rembulan yang bersiap naik tahta saat mentari kembali keperaduan beriring sirius bak permata kecil di kejauhan, tampak melenggang anggun, entah berapa kali satelit bumi ini tak aku perhatikan. Bintang kejora seakan mandiri tampak berkilau sendiri menunggu sinarnya dikalahkan matahari pagi, entah berpa kali aku tak memandangnya. Banyak kesempatan hebat dalam hidup setiap insan yang dinafikan. Mereka terlampau mengejar dan dikejar waktu keduniaan,, abai. Fabi ayyi aala irabbikuma tukadziban. Nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan? Pegunungan hijau jamrud gagah berpijak kau gunduli pohonnya, keruk tanahnya, ambil batunya, saat bencana kau mengiba hidup pada Yang Punya. Memelas kasih warga dunia dengan menenteng kaleng kemanusiaan. Kau pun tak habis cara mengisi saku kosongmu. Bahkan kau mengutuk alam yang mengamuk karena ulahmu. Wahai, mengapa kau berbuat kerusakan sedangkan Tuhanmu mengecamnya? Kini kau lihatlah, telah tampak kerusakan yang disebabkan tanganmu. Tetaplah ceracau mulutmu penuh harap. Tetaplah peragaimu mengais ampunan. Pada siapa kau akan meminta selain pada Sang Maha Memiliki. Pada siapa lagi kau akan percaya selain pada Sang Pemegang Janji.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar