Minggu, 06 Agustus 2017

Tentang Kita

#Bagian Ketiga: Cerita Hujan

Rinai hujan nampak indah melukis sejuk di gersangnya bumi, tempiasnya berbulir di permukaan kaca hitam rumahku. Selalu saja menyenangkan melihatnya, harmoni alam suguhkan melodi khas yang juga menentramkan. Lagit sore terlihat gelap dengan awan hitam menggelayut membawa butiran air hujan yang kini membasahi bumi tempatku berpijak. Kuhentikan sejenak rutinitas untuk menikmati sore membiru ini. Duduk tersandar kursi, mataku menatap awas pada setiap butiran hujan yang seperti orkestra alam dengan kilat petir melengkapi tarian dedaunan menikmati hujan.

***

Bagiku hujan bukanlah sekedar tetesan air yang diturukan awan karena tak lagi mampu menahannya. Tirai air hujan yang jernih bukan sekedar air, komposisinya lebih dari itu, karena bagiku air dari air hujan hanya satu persen, dan 99% sisanya adalah kenangan.

Betapa tidak, hujan selalu saja berhasil lukiskan kenangan. Bagiku, hujan tidak hanya sekedar hujan. Hujan adalah tajuk buku dengan kisah menakjubkan. Memang, sang penulis tidak tahu bagaimana kisahku dengan dia, tapi tak kusangkal kisahnya serupa dengan kisahku. Tentu, bukan setting, latar, dan sikon, karena kisah tersebut dikisahkan pada era puncak peradaban teknologi manusia modern, tetapi cerita cinta Lail dan Soke Bahtera dirasakan langsung oleh Adet dan Inur di kehidupan nyata.

Aku bukan Lail, yatim piatu pemegang lisensi kelas A sistem kesehatan, relawan yang mendapat penghargaan, gadis beruntung yang memiliki kepingan hati seorang Esok. Aku Adet, seperti Lail yang selalu menunggu kabar dari Esok, tapi aku tidak ekstrim seperti dirinya, sesekali aku yang memulai obrolan. Aku Adet, yang bertingkah konyol seperti Lail saat senang mendapat Esok mengabarinya. Aku Adet, seperti Lail yang merasa senang sekaligus sedih, merasa yakin sekaligus khawatir, merasakan dua hal bersebrangan secara bersamaan. Aku Adet, tidak seperti Lail yang menangis karena Claudia. Dan aku Adet, tidak seperti Lail yang menyimpulkan kesalah pahaman dengan menghapus ingatan karena terlambatnya penjelasan.

Dia bukan Esok, laki-laki jenius yang memiliki hak paten atas teknologi yang berkembang, ilmuwan muda yang memimpin proyek rahasia, anak muda yang beruntung dapat bertemu dengan Lail dan menggnggam hatinya. Dia Inur, yang sibuk tenggelam dalam pengerjaan proyek hidupnya, tapi dia bukan Esok dengan proyek kapal angkasa rahasia ditengah gempita kekhawatiran umat manusia. Dia Inur, seperti Esok yang selalu menyempatkan menghubungi Lail ditengah kepenatan rutinitasnya. Dia Inur, yang tengah menyusun rencana kehidupan seperti Esok yang merancang hidupnya dengan menyertakan Lail dalam rancangan rencananya. Dia Inur, tidak seperti Esok yang luput mengutarakan perasaannya. Dan dia Inur, tidak seperti Esok yang selalu memakai topi biru "the smart one" membawa sepeda merah untuk berkeliling menggantikan satu tahun penantian dengan satu dua jam pertemuan.

Tak bosan aku membaca kisah mereka, aku juga tidak keberatan berjam-jam membaca rangkaian kata di dalamnya, itu selalu saja menyenangkan. Tapi aku berpikir, mengapa aku hanya sibuk membaca kisa mereka? kapan orang-orang akan membaca kisahku? inilah saatnya moment itu.

***

Aku yang sekarang terduduk hanya menikmati hujan secara visual, aku suka hujan. Kalaulah sekarang bukan di rumah, aku akan berhambur keluar menari bersama dedaunan yang dibasahi hujan. Selalu saja ada halangan, dibilang bukan lagi anak kecil lah, buat apa hujan-hujanan lah, dan masalah "lah" lainnya. Haruskan aku menjadi anak kecil untuk bermain hujan? Ah tidak. Aku jadi Yes-man saja.

Berbeda halnya ketika aku di sekolah berasrama, lantai tiga tanpa atap tempat kami menjemur pakaian adalah tempat favorit menikmati hujan bersama, tanpa ribet harus berpakaian lengkap seperti biasa kami keluar, kami sama-sama menikmati hujan. Pepohonan dari kebun yang sengaja dibiarkan tumbuh menjulang, pucuknya terlihat bersaing dengan atap bangunan, melihat awan yang tidak menyisakan birunya langitpun tetap menawan. Semakin desar hujan, semakin kami riang. Membiarkan tubuh kuyup dengan dinginnya desiran angin, wajah yang menengadah membiarkan diri terkena tempiasnya. Ada yang senang hati membersihkan tempat jemuran dengan senda gurau juga ada yang berdiam diri seakan bisu membiarkan pikirannya liar menjajah setiap kenangan.

Tidak hanya itu caraku menikmati hujan, suatu ketika aku dan kawanku tengah disibukan dengan acara yang akan diselenggarakan oleh organisasi intra sekolah. Kami mengerjakan tugas dengan guyuran air hujan, aku yang dengan senang hati mondar-mandir dalam hujan saat mendapat tugas ini, itu, dan sebagainya, asik berjalan santai hingga aku menyadari aku mulai merasa gerah, aku harus melewati lapangan sekolah yang ramai tidak hanya dengan hujan, tetapi ramai dengan remaja yang bermain sepak bola. Aku berjalan senormal dan secepat aku bisa, menghiraukan celotehan remaja itu. Bagaimana mereka tidak berceloteh, di sana juga ada dia bermain dengan timnya. Selalu saja begini, padahal aku kuyup, tapi aku merasa panas. Saat itulah aku tak lagi menikmati hujan, aku ingin cepat-cepat berada di seberang, aku tidak ingin mereka melihat roman mukaku yang memerah karena malu.

Sebenarnya aku ingin berlama-lama, tapi tidak. Mukaku akan bersemu merah setiap merasa malu. Tapi aku bebas melihatnya dan selalu senang melihatnya di tempat "persembunyian"ku. Seperti saat itu, masih dalam suasana hujan, rekan sekamarku sedang mengamati seseorang yang ia cari, tapi nampaknya orang yang dicari tidak ada, ia berseru padaku yang sedang membaca kisah dalam buku, aku dilanda rindu membacah larik kisah dalam buku hingga hujan tak mampu mengalaihkan pandangku.
" Neng sini!" ucapnya dengan pandangan masih di luar jendela, tangannya sedikit menyingkap gordeng, mengintip.
"Ada apa?" tanyaku yang dijawabnya dengan mempersilahkan aku duduk di tempatnya.
"Lihat disana, ada Inur lagi main bola." Bola mataku menyapu ke arah telunjuk temanku yang tadi, setelah aku menemukannya aku tersenyum, ternyata memang dia.
Sepertinya main bola saat hujan seru sekali, teriakan mereka seakan ingin menyaingi suara hujan. keringat merekapun tak nampak dengan kuyupnya baju yang mereka kenakan.

Inur? Pada awalnya temanku juga selalu bertanya siapa Inur. Inur tak lain adalah Ilham Nurhidayatullah, berhubung nama Ilham tidak hanya satu maka panggilan itu yang membedakan satu dan lainnya. Itu ketika aku dan dia masih bersekolah di tempat yang sama tetapi sampai sekarang aku lebih terbiasa dengan panggilan tersebut, padahal tidak banyak lagi nama Ilham berkeliaran dalam kehidupanku hingga tak ada nama ilham dalam sapaanku.

***

Aku seperti Lail, aku suka hujan. Tapi kisahku tidak seperti Lail, ketika ia menyukai hujan kenangan penting dalam hidupnya terjadi saat hujan. Bukankah itu menyenangkan? Tidak juga, bagaimana ketika kenangan itu berubah menyakitkan? Setiap hujan turun akan terasa lebih menyesakan, melihat semua kenangan itu jatuh dalam bulir hujan yang berkubik-kubik, bagaimana dia akan menyikapinya. Secepat ia berlari, tetap saja basah. Ia ingin menghindar, bagaimanalah caranya saat berada di tanah lapang. Setiap tetesnya membawa satu kenangan. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain membiarkannya dibasuh air hujan, menari bersama dengan rinainya, menikmati semua tetesnya sampai hujan berhenti dengan sendirinya.

Ingin tertawa sebenarnya menulis semua ini, terlebih ketika membaca ulang, tulisan ini seakan pengakuan. Pengakuan yang dulu aku tidak ingin orang tahu bahkan oleh dia, tapi sekarang aku menuliskan kisah yang bisa dibaca siapapun yang mengetahui alamatnya. Saat bertemu dalam pertemuan yang sangat langka aku tidak banyak bercerita, bagiku pertemuan itu telah mewakili semuanya, namun kini aku ingin dia tahu bagaimana perasaanku. Aku tak pandai bercerita dihadapannya, karena itu kutulis rangkaian cerita ini untuknya.

***

Masih tentang hujan, ada sedikit perasaan aneh yang aku rasa dari temanku, mengapa dia marah melihat someone-nya hujan-hujanan? Katanya takut "si dia"nya sakit. Owh my God, ada apa dengan temanku ini? Ko rasanya aku yang ilfeel ya? Protect banget dengan kehidupan orang lain, ya aku katakan orang lain, toh belum ada ikatan resmi diantaranya. Tapi katanya, karena temanku sayang sama someone-nya, ingin menjaganya, khawatir akannya. Wait, gak harus gitu juga kan? Menurutku untuk membuatnya tenang tanpa kemarahannya yang merembet. Pengertian yang aku bisa berikan telah tersampaikan, mungkin temanku ini juga mencerna yang aku sampaikan, hujan-hujanan tidak berdampak buruk pada tubuhnya. Kalaupun demam setelahnya itu hanya masalah imunitas dan sugesti.

Tidak harus protect untuk menunjukan kepedulian, tidak harus membatasi untuk menunjukan perhatian, tidak harus berunjuk perasaan untuk menunjukan kasih sayang, bagiku cukup diam selama dia "aman". Dia punya kehidupan sendiri tanpa harus aku intervensi. Jalani saja hidupnya, tunaikanlah rencana-rencananya, aku tidak usah repot" dengan mengkhawatirkannya, toh bukankah aku tau bahwa aku termasuk dalam rencana kehidupannya? Itu cukup bagiku.

Temanku yang satu lagi juga membuatku heran, aku tahu dia sedang kurang fit, tapi kenapa dia keluar menerobos hujan tanpa payung dia kenakan. Tepuk jidat aku melihat ulahnya. Pulang dari membeli kudapan, temanku ini berpapasan dengan "si dia"nya. Besoknya saat bertemu di sekolah, mereka pada marah. Katanya emang lagi pengen marahan, hujanlah yang menjadi kambing hitam.

Banyak cara memaknai hujan untuk meramaikan suasana, entah itu senang, sedih, kesal, marah, hujan bisa saja membumbuinya. Mungkin ada orang yang merasa senang saat hujan seperti aku, ada juga yang sedih karena hujan yang menghujamkan kenangan menyakitkan, ada orang yang merasa kesal karena hujan dianggapnya penghambat urusan, mungkin pula ada orang yang marah seperti cerita barusan. Ada cerita apa lagi dalam hujan? Nantikan part selanjutnya...

#to be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar